Cerpen – My Lovely Maid

Ommo! 2141cerpen ini adalah salah satu cerpen saya yang saya lombakan (?) dan cerpen ini diterbitkan oleh penerbit Diva press yang tentu saja mengadakan lomba cerpen bertema Jepang. yakni #JapanInLove. cerpen ini sebenarnya adalah salah satu hasil uji coba yang really not the best of me deh. it was only a couple of minutes before I sent it. and after I realized, this short story was ssoooooooo terrible! shameful! aaaaaargh….

tapi ternyata, beberapa waktu kemudian, pengumuman pemenang dan cerpen-cerpen yang diterbitkan keluar, dan voila! ada nama gue disana! cerpen yang terrible itu, diterbitkan? well, it’s surprising. gue gak pernah nyangka tulisan ini yang bakal diterbitin. dan rasanya senaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!

oke. selain diterbitkan, gue dapet sertifikat, dan 4 buku lain selain antologi yang berisi cerpen gue.

well, it is my short story, “MY LOVELY MAID”.

Namaku Satou Nagisa. Umurku 16 tahun. aku lahir didistrik Tohoko, dipantai Sanriku sebelah lautan pasifik yang sering disebut pantai rias yang merupakan hasil penimbunan laut dengan tanah. Dan setiap terjadi arus Kuroshio (arus air laut yang hangat yang terjaid dilautan Pasifik yang mengalir dari selatan ke utara sehingga warna laut kelihatan biru kehitaman) banyak ikan katsuo dan ikan maguro yang terbawa arus memasuki laut Jepang. Kemudian ada arus Oyashio (air laut dingin yang mengalir dari arah utara) yang membawa banyak ikan herring dan salmon. Kedua arus ini bercampur dilautan pasifik yang berdekatan dengan tempat tinggalku. Pasti kalian sudah tahu apa pekerjaan orangtuaku. Ya, mereka nelayan.

Otousan dan okaasan[1] adalah orangtua terbaik didunia. Mereka bekerja keras demi menyekolahkanku diTokyo. Dan sekarang adalah waktunya berangkat. Aku diterima di SMA Midorigaoka, salah satu SMA terbaik diJepang. Aku naik shinkansen[2] menuju Tokyo, meskipun jarak antara Tokyo dan Tohoko sangat jauh, aku tidak bisa menggunakan pesawat karena tiket pesawat hanya akan membebankan orangtuaku. Aku akan melewati daerah Kanto dan baru akan ke Tokyo. Di Tokyo aku akan tinggal dengan bibi Himuro, saudari sepupu jauh otousan yang memilki warung ramen kecil dipusat kota Tokyo. Rumahnya sudah sempit dengan ketiga anaknya, ditambah denganku pasti akan menjadi sedikit…sesak.

Aku melambaikan tangan pada kedua orangtuaku. Selama ini aku belum pernah pergi jauh tanpa mereka, sedih juga rasanya karena sekarang aku harus pergi.

***

Lebih dari 3 jam dengan perjalanan naik shinkansen akhirnya aku tiba di Tokyo. Distasiun, aku mulai mencari-cari bibi Himuro. Sebenarnya aku sedikit takut, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya aku ke Tokyo sendiri saja. Bagaimana kalau bibi tidak datang? Bagaimana kalau ia lupa? Aku tidak tahu alamatnya. Mungkin karena aku panik, aku terburu-buru berlari kearah box telefon umum disudut stasiun, dengan menyeret koper yang berat sekali berisi makanan dan oleh-oleh untuk bibi Himuro-selain bajuku tentunya-langkahku oleng dan aku menabrak sesuatu yang besar. Dan tinggi.

BRUK! Aww… sakit juga rasanya jatuh dengan pantat sebagai landasan. Namun itu belum apa-apa saat aku melihat sesuatu-eh seseorang yang tadi aku tabrak. Belum sempat aku menetralisir keterjutanku, kudengar suara berat lelaki yang kutabrak, meneriakkan sesuatu yang terjatuh dilantai, tak berbentuk lagi.

“aaaaargh! HP-ku!” erangnya kesal. Lalu dia melihat kearahku. “kau! Ganti HP-ku!” ancamnya garang. Otomatis aku langsung bangkit dan mulai membungkuk minta maaf. Namun rupanya minta maaf saja tak cukup, karena mata lelaki itu masih saja berkilat marah memandangku. Aku tidak bisa menggantinya, tentu saja. Aku kemari hanya membawa beberapa ribu yen saja untuk keperluan hidup 6 bulan kedepan. Aku berencana akan membantu diwarung bibi Himuro untuk mendapatkan uang tambahan.

“kemarikan dompetmu!” pintanya. Aku mencoba menolak namun dia malah merampas tas tangan yang kupakai dan mulai membongkarnya. setelah menemukan dompetku, dia mulai meneliti isinya dan langsung terbelalak. “5000 yen? Hanya ini uang yang kau miliki?” tanyanya tak percaya. Aku langsung mengangguk dan menceritakan keperluanku datang kemari. Dia hanya terkaget-kaget mendengar ceritaku. Dan saat aku mengakhiri ceritaku, dia berkata, “kau benar-benar polos ya? Kau bahkan bercerita panjang lebar tentang dirimu pada seseorang yang bahkan baru 10 menit kau temui.” Ia menggelengkan kepalanya. “baiklah, aku tidak akan menyuruhmu mengganti secepatnya, tapi aku perlu jaminan bahwa kau tidak akan kabur dariku dan menggantinya!”

“aku tidak akan kabur, aku akan bekerja diwarung ramen bibiku agar dapat mengganti HP-mu yang rusak,” jawabku pelan.

nani?[3] warung ramen? Kau pikir kau akan dapat uang berapa dengan bekerja disana?” ujarnya tak percaya. Aku menggeleng tidak tahu. Aku juga tidak tahu apakah bibi akan memberiku gaji apa tidak. Masalahnya aku sudah merepotkannya terlalu banyak. “tidak, tidak. Kau tidak bisa mengganti HP-ku jika hanya bekerja diwarung ramen kau tahu?”. Aku mengerutkan dahi, baru saja aku ingin bertanya berapa harga HP-nya, dia melanjutkan, “50 ribu yen. Itu harga HP-ku”.

Aku membuatkan mata tak percaya. 50 ribu yen? Memegangnya saja tak pernah, apalagi memilikinya? Astaga, mahal sekali. Saat kuperhatikan, lelaki itu tampak berpikir. “bagaimana kalau kau bekerja untukku?” tawarnya. “tenang saja bukan pekerjaan yang tidak-tidak,” tambahnya saat melihat ekspresiku yang agak khawatir.

“bagaimana?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut apa pekerjaan yang akan kukerjaan.

***

Katou Reichi membawaku ke apartemennya didaerah Roppongi. Dan apartemennya benar-benar luas. Aku disuruh duduk disofa dan menunggu. Dia keluar dari kamar dengan membawa secarik kertas dan bolpoin. “ini kontrak kerjamu, aku harap kau dapat mematuhi semua syarat disini dan menandatanganinya,”

Aku mulai membaca kontrak kerjaku, dari poin pertama sampai 5, hanya berisi hal-hal standar saja. Namun yang membuatku tercenggang adalah poin keenam sekaligus poin terakhir. Aku akan bekerja direstorannya sebagai maid!

“maid?” desisku tak percaya. Katou hanya mengangguk dan menanyakan dimana aku akan tinggal. Saat kujawab dia mulai marah-marah dan mengatakan bahwa itu hampir dipinggiran Tokyo dan lumayan jauh dari sekolah maupun tempat kerjaku. Jadi dalam 5 detik dia memutuskan untuk menyuruhku tinggal diapartemennya karena selain dekat, kemungkinanku untuk kabur akan mengecil.

“Telfon bibimu dan bilang bahwa kau akan tinggal bersamaku,” ujarnya sambil menyodorkan HP kepadaku. bukankah HPnya rusak? “jangan berpikir aku menipumu atau apa, asal kau tahu, itu bukan satu-satunya HP yang kumiliki. Aku masih punya banyak.” Jelasnya. Yah, aku tahu dia orang kaya. Tapi tinggal bersama… tidak, aku tidak mau! Namun karena hutangku, aku harus melakukannya. Lalu aku menelfon bibi. Syukurlah dia tidak marah, aku mengatakan aku akan tinggal bersama teman yang kutemui di shinkansen yang dekat dengan sekolah, jadi bibi tidak khawatir. Dan sekarang aku yang khawatir…

***

“ini kamarmu, dan itu kamar mandi.” Katou mulai menerangkan bagian dalam apartemennya padaku. “disana dapur dan kamarku ada disana. ada pertanyaan?” aku menggeleng. “bagus, sekarang aku harus pergi dan ini kunci apartemen ini. jika kau kehilangan ini, tekan saja password ‘maidbutler’, oke?” aku mengangguk dan dia pergi. Aku memandang apartemen yang akan kutinggali ini selanjutnya. Entah kenapa rasa takut dan khawatir yang tadi kurasakan sudah menghilang…

***

Sudah dua bulan aku tinggal di Tokyo. Dan selama itu pula aku mulai bersekolah dan bekerja dicafe (ternyata bukan restoran) maid milik Katou. Aku juga memasak untuknya diapartemen. Dan aku juga tahu kalau dia, mahasiswa tingkat pertama. Awal-awal aku mengenalnya aku benar-benar tidak tahu bagaimana sifat Katou. Dia pendiam, dingin, galak, namun aura yang dikeluarkannya hangat dan bersahabat. Saat dia men-training-ku menjadi maid selama 2 minggu, dia memang galak dan langsung marah jika aku membuat kesalahan. Namun dia tetap telaten dan terus mengajariku. Sampai sekarang, aku sudah mulai terbiasa menyambut sampai melayani tamu.

Konnichiwa[4]..” sapaku pada staf dan maid lain saat tiba dicafe sepulang sekolah. Aku memang bekerja disini setelah jam pulang sekolah. Untunglah sekolahku tidak melarang siswanya untuk bekerja sambilan. Aku segera mengganti baju dan mulai keluar melayani para tamu. Rata-rata tamu disini adalah lelaki, namun tak jarang aku melihat gadis-gadis datang beramai-ramai dengan temannya. Jika aku sedang menyambut tamu, aku biasanya akan membungkuk dan mengucapkan ‘irasshaimase’[5] pada tamu dan mengantarkan mereka ke tempat duduk. Bila perlu mencatat pesanan mereka.

“…boleh kan kalau kau membagi alamat email, cantik?” aku mendengar suara seseorang dimeja ujung. Disana ada 2 lelaki yang terlihat seperti otaku sedang mengganggu Sayu, maid yang telah bekerja 1 tahun disini. Terlihat Sayu sedikit tidak nyaman dengan permintaan tamu itu, namun larangan keras jika kita membuat tamu tersinggung. Namun akan menjadi larangan juga kalau kita ketahuan memiliki hubungan khusus dengan pelanggan. Karena ditakutkan akan mempengaruhi kinerja para maid.

“ayolah… kita bisa pergi ke tempat-tempat yang kau sukai…” goda tamu itu lagi. Aku sungguh tidak tahan melihat kelakuan tamu tersebut. Aku segera mendatangi meja tersebut dan berkata dengan nada pelan namun tegas. “mohon maaf tuan, disini ada aturan yang melarang maidnya berhubungan dengan tamu, jadi hal seperti itu tidak bisa diberikan..”

Namun tamu tersebut malah tersenyum mengejek dan mulai ikut menggodaku juga. “ayolah, tidak akan ada yang tahu,” dia mulai mencoba memegang tanganku, dan aku menepisnya cepat. Aku tidak pernah merasa terhina seperti ini. tamu tersebut mulai emosi menyadari penolakanku. Dia mulai berani menarik tanganku dan membuatku meringis kesakitan, saat itu aku tanpa sadar memanggil nama seseorang.

“maaf tuan, tamu seperti anda, tidak diterima dicafe kami!” ucap seseorang dibelakangku yang langsung menarik lepas tangan tamu itu dari lenganku. Tamu itu memandang tidak percaya, lalu mulai mengancam akan menyebarluaskan ketidaknyamanan pelayanan ini jika Katou tidak meminta maaf. Namun katou pun balik mengancam, dengan mengatakan bahwa dicafe ada kamera CCTV yang akan memperlihatkan perlakuan tidak sopannya kepada maid. Maka, dengan hati dongkol karena tidak dapat berbuat apapun, tamu itu pergi. Dan kuharap tidak akan kembali lagi.

Aku merasakan tanganku ditarik. Dan kemudian aku didudukkan dikursi ruang manager. Katou langsung sibuk mencari kotak P3K. “kenapa…kau datang?” tanyaku.

Katou tersenyum dan menarik tanganku perlahan agar bisa diobati. “bukankah kau memanggilku?” ujarnya tanpa melihatku, terlalu sibuk dengan tanganku yang membiru. Ternyata tamu itu menggenggamnya terlalu erat. “aku melihat di CCTV bahwa tamu itu mengganggumu. Awalnya kukira kau akan bisa mengatasinya, tapi saat tamu itu mulai berbuat kasar, kau mulai meneriakkan namaku, dan…” ASTAGA! Jadi nama yang keluar dari mulutku tadi adalah Katou? Ya ampun, apa yang ada dipikiranku? Karena aku diam saja Katou mengangkat pandangannya mengarah kearahku.

DHEG! DHEG! Suara detak jantungku seperti akan meledak keluar saat Katou melihat tepat kemataku. Belum sempat menetralisir semua itu, Katou berkata lagi, “mengapa kau memanggilku?” dia bertanya seraya memandang mataku dengan intens. Aku menelan ludah. “apakah aku orang pertama yang muncul dikepalamu saat kau sedang ada masalah?” aku menelan ludah lagi. “apa kau mengharapkan aku datang?” suaranya tersirat nada menggoda. Nah, aku menemukan lagi sifatnya yang tak bisa ditebak, dia juga seorang yang jahil.

Wajahku merona merah, aku dapat merasakannya memanas akibat ulang Katou. Untung saja suara ketukan dipintu membuat kontak mataku dengan matanya terputus, kemudian kepala Sayu muncul disana. setelah diizinkan masuk Sayu langsung mengkonfrontir Katou dengan permintaan maaf, “sumimasen, kore wa watashi no machigai desu. Ki o waruku shinaide kudasai[6].” Katou hanya menghela napas dan mulai menjelaskan bahwa ia tahu jika kesalahan sepenuhnya ada ditamu itu. jadi Sayu tidak perlu merasa cemas.

Saat café akan tutup, Sayu yang menungguku berganti baju, langsung berceloteh. “Nagisa, sepertinya pak manajer suka padamu!” ia mengedipkan mata hendak menggodaku. Aku hanya menjawab dengan senyuman tak yakin, membuatnya gemas. “oh ayolah, aku sudah bekerja disini selama setahun dan baru kali ini pak manajer memarahi tamu bahkan mengusirnya! Dan kau tahu karena apa dia marah kan?”

“lalu apa itu membuktikan apa yang kau katakan tadi? Tidak..” elakku. Sayu hanya memandangku gemas dan akan mulai mengoceh lagi, namun suara Takase-pacarnya- memanggilnya agar mereka segera pulang. Aku lalu melambaikan tangan melihat kedua orang itu. alangkah bahagianya jika mempunyai pacar, apakah Katou sudah punya pacar? Tapi jika iya, dia pasti datang ke apartemen Katou. Namun selama ini aku tidak pernah melihatnya membawa teman wanita, jadi… dia belum punya pacar. Hei- kenapa aku jadi senang begini?

“Nagisa!” suara Katou menggema dari arah belakangku. Rupanya dia sudah selesai mengunci pintu. “ayo pulang!” ajaknya seraya mengamit tanganku pergi. Sejenak aku membatu karena sikapnya. Merasakan aku diam saja, dia menghentikan langkahnya. Memandangku bingung. “nande?[7]” dia membungkukkan badannya, mencoba melihatku lebih jelas. “kau sakit?” dia mulai memeriksa keningku. “tidak panas,” sahutnya heran.

Aku berdeham mencoba memecahkan kecanggungan yang kurasakan sendiri ini. sungguh memalukan! “a-ayo pulang…” ajakku gagap. Ya Tuhan… sepertinya aku harus memeriksakan diriku ke dokter, suhu pipiku mulai meningkat drastic…

***

Akhir-akhir ini aku merasa aku bukanlah diriku lagi didepan Katou. Saat diapartemen, aku melewati pintu kamarnya setidaknya 28 kali dalam sehari. Disekolah, aku bahkan hampir menjawab pertanyaan sensei tentang penemu bola lampu dengan nama Katou. Dicafe, lebih parah lagi. Aku entah kenapa selalu bertindak ceroboh yang membuat Katou datang menghampiri dan memarahiku. Dan anehnya lagi aku senang. Sangat senang. Sayu yang mulai menangkap keanehan dalam dirikupun mulai mengintrogasiku. Tepatnya saat kami berganti baju, seperti biasa.

“kau aneh, kau tahu?” saat dia mulai berbicara. “kau seperti… sedang jatuh cinta,”

“aku? Tidak!” sahutku cepat. Terlalu cepat. Bisa kulihat bibir Sayu mulai menyunggingkan senyum. Aku ketahuan. Oh astaga, apa yang harus kulakukan?

Sayu selalu tahu bagaimana cara membuatku berbicara. Dan tanpa kusadari aku menceritakannya lancar kepadanya. Dia hanya tersenyum kecil dan mengatakan bahwa aku tidak salah pilih. Aku tak mengerti apa maksudnya. Katou mengajakku pulang setelah mengunci semua pintu. Kami berjalan (dengan tangannya menggandeng tanganku lagi).

Sesampainya diapartemennya, aku mulai mencari alasan agar aku bisa mengobrol dengan Katou. Belum sempat memikirkan bahan pembicaraan yang menarik, tiba-tiba lampu apartemen menyala dan suara Sayu mulai mengudara. “Nagisa! Nagisa oneechan[8]!” panggilnya. Aku bingung. Sedang apa Sayu disini? Dan-bagaimana dia bisa masuk? Katou hanya tersenyum melihatnya dan memandang Sayu. Mereka berkomunikasi lewat telepati yang tidak kumengerti.

Kemudian terdengar suara derap kaki perlahan dan banyak memenuhi ruangan. Aku dapat melihat Takase, anak lelaki yang tidak kukenal, dan…bibi Himuro?! Sebelum aku bisa berkata-kata, aku kembali dikejutkan dengan kehadiran otousan dan okaasan disana. ada apa ini?

“nah, kau ketahuan berbohong dengan mengatakan kau tinggal dengan teman yang kau temui di shinkansen, Nagisa…” ujar bibi Himuro yang sontak membuatku malu.

“Himuro, jangan menjahilinya. Ini kan karena anakmu membuat rencana seperti ini.” okaasan menggeleng-gelengkan kepala mendengar bibi Himuro. Tunggu-tunggu, ada apa ini? aku butuh penjelasan! Seseorang tolong aku!

Seakan mengerti apa yang sedang kupikirkan, Katou menjelaskan semuanya. Tentang dia berpura-pura dengan HP rusak, menyuruhku bekerja dan tinggal bersamanya, bibi Himuro ibunya, sayu adalah adiknya, dan yang paling penting. PERJODOHANKU DENGANNYA!

“jadi otousan, okaasan, dan bibi merencanakan ini semua?” mereka mengangguk. “bahkan kau juga Sayu?” dia kemudian mengangguk. Aku menoleh kearah Katou. “berarti kau juga.. astaga kau sudah membuatku hampir sakit jantung dengan HP 50 ribu yen-mu Katou!” aku mulai meneriakinya.

Otousan kemudian menyelaku, “Nagisa, tak seharusnya kau memanggilnya katou. Dia kan calon suamimu, lagipula, kau akan dipanggil Katou dimasa mendatang, kau akan menjadi Nyonya Katou.” Mendengar itu semua wajahku memerah. Astaga, aku memang mengakui aku jatuh cinta pada Katou tapi menikah? aku belum siap…

Tiba-tiba Katou berlutut didepanku dan mengeluarkan kotak kecil. “Satou Nagisa, maukah kau menikah denganku?” aku menjerit pelan saat melihat cincin yang ada didalam kotak, “dan menjadi Nyonya Katou-ku?” aku malu. Dia bahkan melamar didepan semua orang. Aku memandang kedua orangtuaku, bibi Himuro, Sayu dan yang lainnya.

Aku mengangguk. “iya, aku mau menikah denganmu Katou,” jawabku.

“REICHI!” koreksi semua orang disana. oh baiklah. Semua orang melawanku.

“Re-Reichi…” ucapku gugup. Reichi langsung memelukku erat. Dan semua orang bertepuk tangan melihat acara lamaran yang tak kusangka-sangka ini.

Aku menyukaimu Reichi.

 

[1] Ayah dan ibu

[2] Kereta api super cepat dijepang

[3] Apa?

[4] Selamat siang

[5] Selamat datang

[6] maaf, ini adalah kesalahan saya. Saya harap anda tidak marah

[7] Kenapa?

[8] Panggilan untuk kakak perempuan, akhiran chan bisa diganti –san atau -sama

2 thoughts on “Cerpen – My Lovely Maid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s