SERIES :: Sorry, But I Love Him Part 2

TITLE : Sorry, But I Love Him (Part 2)
AUTHOR: Nila
LINK FB: http://www.facebook.com/nila.siiuletnangka
TWITTER : @NyieLa
TYPE: SERIES
GENRE: Romance, Family, Comedy
RATING: PG 15
CAST:
1. Cho Kyu Hyun
2. Kang Kyon Dae
3. Kang Dae Na
4. Lee Hyuk Jae

DISCLAIMER : ALL OF THEM is my special cast, especially Kim Jong Woon,nae nampyeon :D(plak!) and this story is MINE! PLAGIAT? Mind to go? *kejam?!* Well, mungkin. Tapi aku udah pernah berurusan sama plagiat dan aku nggak mau berurusan lagi* DON’T COPY PASTE WITHOUT PERMISSION *capslock keinjek ddangkoma*

Hahaha. Author come back setelah mencoba hiatus tapi nggak bisa! Aish… gregetan banget pengen nulis. Hoho. Ini utang ff yang dipesen chingudeul dari dulu, ff yang main castnya kyu, nah akhirnya ini nih hasilnya! Aaaargh? Eotthe? Comment, comment, comment… butuh perbaikan nih kayaknya…
HAPPY READING….

Kyondae pov-

Lalu terdengar suara hyukjae dari dalam rumah memanggilku. Tidak… aku belum siap. Mataku belum siap melihatmu hyukjae. Jebal… jangan kemari…
Kyuhyun yang sedari tadi melihatku cemas mulai menarik tanganku cepat dan membawaku berlari menuju jalanan yang ramai dan menjauh dari rumahku.
***

Kyuhyun pov-
Aku benar-benar tidak tahan melihatnya menangis seperti itu. jebal… uljima saengie…
Aku terus menariknya menuju entah kemana. Saat sadar, kami sudah berada jauh dari rumahnya dan berhenti di dekat taman kanak-kanak.
Aku melihatnya sedang mengatur napasnya. “michinom!” teriaknya memanggilku gila. “aigoo… neomu himdeureo! (ya ampun! Lelahnya…)”
Aku malah tersenyum mendengarnya menggerutu. Bahkan aku benar-benar tidak menangkap ucapannya yang mengataiku gila. Oh Tuhan… apa yang terjadi padaku?
“ya! Cugulle? (mau mati kau?) berhenti menertawakanku!” teriaknya.
“siapa yang menertawakanmu? Aku sedang tersenyum…” jawabku.
“kenapa kau tersenyum? apa ada yang lucu?”
Aku tetap tersenyum. menatapnya dalam. Lama kelamaan dia risih di lihat seperti itu. dia mulai berjalan menjauh kea rah taman kanak-kanak itu.
“aigoo… jungkat junkit ini sudah tak muat untukku!” tukasnya.
Aku tertawa. “dangyeonhaji (tentu saja!) Kau seperti raksasa!”
“ya! Kau yang seperti raksasa! Lihat saja kakimu yang seperti leher jerapah!” balasnya. “aih… namja menyebalkan!”
“arraseo, arraseo! Kajja!” aku menarik tangannya lagi. Aku berhenti di depan taman dan melihat pedagang es krim keliling di ujung taman. “chankkamanyo…” aku menyuruhnya duduk di bangku taman dan aku segera berlari untuk membeli es krim.
5 menit kemudian aku kembali membawa 2 buah es krim. Rasa coklat dan vanilla. aku tidak tahu rasa apa yang di sukai yeoja itu. namun, biar kutebak, dia pasti tidak suka rasa stroberi. Dia bukan jenis orang yang pemalu ataupun sensitive.
“ya! Yeoja galak! Neo ege (ini untukmu)!” beriku.
Dia hanya menatapku dan es krim di tanganku secara bergantian. “ige mwoya?” alisnya sedikit terangkat.
“es krim! Kau melihat apa? Batu?” aish… mengapa aku berteriak padanya?
Plak! Dia memukul kepalaku pelan dengan telapak tangannya. “ya! Aku tahu ini es krim! Tapi untuk apa?” tanyanya.
“sudah ku bilang, ini untukmu….” Ujarku lembut.
***
Kyondae pov-
“sudah ku bilang, ini untukmu….” Ujarnya lembut.
Kenapa namja ini? tiba-tiba baik padaku? “apa kepalamu terbentur keras saat aku memukul kepalamu?” tanyaku panic.
“ya…ya…ya… museun seuriya?”
“ya… kau-seorang evil magnae cho kyuhyun sangat jarang bersikap baik. Maksudku-“
Dia memotong cepat, “jika kau bertujuan mengejekku, tidak perlu berbasa-basi seperti itu!” teriaknya. Aigoo… dia salah paham rupanya. “neo! jinjja shireo! (kau! Kau sangat menyebalkan!)”
Dia lalu berbalik dengan membawa es krim itu pergi. Andwae! Bukankah dia bilang kalau es krim itu untukku? Mengapa dia membawanya kembali? Aish… persetan untuk apa dia memberiku es krim, yang penting es krim itu untukku!
“chankkamanyo!” aku berteriak. Lalu saat dia diam dan berbalik menghadapku aku berjalan mendekatinya dan mengambil es krim coklat di tangan kanannya. “gomawo kyuhyun-ssi!”
Dia terdiam. Aneh. “kau mau es krim itu meleleh di tanganmu atau ku ambil saja?” ancamku.
Dia terus memandangku, lalu menelan ludah. “chogiyo…” dia terlihat ragu-ragu. “uhm… ireumi mwoyeyo? (siapa namamu?)”
Ah. Benar juga. Aku belum memperkenalkan diriku. “jeoneun Kang Kyondae imnida. Bangapseumnida!”
“ah,., ye. Bangapta Kyondae-ssi…” panggilnya cerah sambil tersenyum-senyum. “omo! Bukankah tadi kau menangis? Waeyo?”
“ah… igo… uhm…igo…” aku tergagap. Bingung hendak menjawab apa. Tapi kemudian kurasakan sebuah tangan lebar dan hangat mengusap puncak kepalaku pelan. Aku mengangkat kepalaku.
“gwaenchana…” kata kyuhyun sambil tersenyum lebar dan lembut. “kajja! Kita cari tempat duduk untuk memakan es krim ini sebelum meleleh!” ajaknya lalu menarik tanganku.
Aku diam saja. Bingung dengan kelakuannya. Sejak kapan evil ini menjadi angel? Apa memang sejak awal aku sudah salah paham padanya?
Mungkin karena aku diam saja, dia berbalik menghadapku dan kaget menatap jari tanganku ada di sela jari-jarinya. Dengan cepat dan gugup dia melepas pegangan tangannya itu. “ka-kajja!” ajaknya.
Aneh. Perlahan sebuah senyuman terpatri di wajahku. Dan tanpa kusadari, bayangan hyukjae yang menggenggam tangan daena eonni mulai menghilang dari pikiranku.
***

Author pov-
Kyuhyun dan kyondae menghabiskan waktu berdua di taman itu dengan sedikit perdebatan. Well, jika itu masih bisa di golongkan sebagai sedikit. Pada kenyataannya, mereka saling berteriak satu sama lain selama 10 menit terakhir. Dan hanya karena apa? Es krim.
Beberapa menit yang lalu ada seorang anak yang menghampiri mereka bertanya es krim rasa apa yang paling enak. Dan secara otomatis mereka menjawab,
“coklat!” jawab kyondae.
“vanilla!” jawab kyuhyun.
Mereka kembali berselisih pendapat tentang hal itu, kendati si anak kecil itu sudah memutuskan untuk membeli es krim rasa coklat dan vanilla sekaligus.
“ya,ya… apa-apaan itu?” teriak kyondae saat kyuhyun berkata, “prilaku orang dapat di lihat dari es krim kesukaannya. Kau lihat coklat? Itu tandanya kau orang yang kotor. Sedangkan vanilla, bersih, putih, tentu mempunyai hati bagai malaikat.”
“aish… yeoja galak! Diamlah! Semua orang melihat kemari!” kyuhyun ikut-ikutan berteriak.
“ya! Aku bukan yeoja galak! Namaku kyondae! Dan-kalau kau sadar, kau juga berteriak!” balas kyondae.
“aish! Neo! diam tidak?” ancam kyuhyun.
“shireo!” sahut kyondae.
Saat mereka hampir berteriak lagi, seorang ahjumma datang dan duduk di antara mereka berdua. Ahjumma itu memandang mereka berdua bergantian.
“aigoo, aigoo… anak muda jaman sekarang jika bertengkar terlalu mengeluarkan banyak suara…” keluhnya. Lalu yang dilakukan ahjumma itu malah meraih tangan kyuhyun dan kyondae lalu menyatukannya.
“kalian ini, sebagai pasangan harusnya saling memahami, bukan saling meneriaki… arra?” perintah ahjumma itu.
“siapa yang pasangan?” tanya kyondae pelan.
“kalian berdua kan?” jawab ahjumma itu cepat sambil tersenyum.
“aniya….!” Jawab kyondae cepat. Namun kali ini tanpa kyuhyun. Entah kenapa kesimpulan yang dibuat ahjumma itu membuat hatinya senang. Ia dan kyondae menjadi pasangan.
“ya! Kyuhyun-ssi! Katakan pada ahjumma ini jika kita bukan pasangan!” bisik kyondae di balik punggung ahjumma.
Namun yang kemudian dilakukan kyuhyun adalah tersenyum menatap ahjumma dan berkata, “ne ahjumma. Gamsahamnida telah meredakan emosi yeojachinguku…” ujar kyuhyun yang langsung mendapat tatapan death glare dari kyondae.
“aigoo… anak muda yang bijak. Aghassi, seharusnya kau senang mendapat namja baik seperti dia…” nasehat ahjumma itu kemudian berangsur pergi.
“ya! Museun seuriya! Kyuhyun baka(bodoh)!” teriak kyondae lagi.
Ahjumma yang belum sepenuhnya jauh mulai memandang kea rah mereka lagi. Dengan cepat kyuhyun meletakkan tangannya di pinggang kyondae dan menariknya mendekat. Mengira pendengarannya salah, ahjumma itu kembali berjalan menjauh.
Pletak! Kyondae memukul kepala kyuhyun yang sekarang mulai bertengger di bahunya. “michiyoseo?!”
Kyuhyun langsung menjelaskan, “ya, kalau kita masih bertengkar dihadapan ahjumma itu, bisa-bisa kita akan tetap mendengarnya mengoceh sepanjang hari.” Kyuhyun melanjutkan, “lagipula, apa itu baka? Kau kira aku tak tahu kau sedang menggunakan bahasa jepang? Baka itu babo kan?” tanya kyuhyun dengan nada sedikit tinggi.
Kyondae hanya menjawab dengan memanyunkan bibir.
Tanpa kyondae sadari, kyuhyun tersenyum dan secara perlahan membidikkan kamera handphonenya kea rah kyondae. Jepret. Yeppeo. Batin kyuhyun.
***

Kyondae pov-
Pegalnya… otot-otot di sekitar mulutku serasa kaku karena seharian ini berdebat dengan evilkyu itu. oh Tuhan mengapa bisa ada orang semengesalkan dirinya?
Rasanya aku ingin menenggelamkannya ke dalam laut mati jika bisa. Namun sayangnya di laut mati kau tidak akan menemukan orang tenggelam.
Aku terus berjalan menuju rumahku. Hari sudah mulai gelap. Mungkin eomma sudah berangkat kerja ke rumah sakit. Lalu? Eonni bagaimana? Siapa yang menemaninya?
Ah! Hyukjae. Pikiranku kembali melayang ke kejadian tadi siang. Ah… sudahlah! Sekarang yang ingin kulakukan hanya tidur. Aku terlalu lelah untuk melakukan apapun lagi.
Baru saja ku memutuskan untuk beristirahat, aku melihat bayangan namja ber-abs yang kucintai-yah, setidaknya itu yang ku pikir- hyukjae. Mengapa dia diam bersender di depan rumahku seperti itu?
Jujur. Aku belum siap bertemu dengannya, apalagi menatap wajahnya. Namun, aku tidak mungkin terus menerus menghindarinya. Lagipula dia tidak mengetahui perasaanku. Aku tersenyum kecut.
“kyon-ah… saengie…” sapanya lembut.
Aku tersenyum menyambutnya. “oppa… “
Aku tak kaget saat dia berhambur memelukku. Aku sudah tidak mau berharap lagi, apalagi setelah kutahu bahwa dia mencintai eonni. “kyon-ah…”
“oppa, wae gurae?” tanyaku. “mengapa tak masuk ke dalam?”
“aku… aku… menunggumu.” Jawabnya pelan.
“menungguku? Untuk apa?” tanyaku berpura-pura riang.
“uhm… aku… soal tadi…” namun dengan cepat aku memotongnya.
“arraseo! Susu coklat pesananku belum kau belikan kan?” alihku.
Dia terlihat terkejut namun mengiyakan pertanyaanku dengan sedikit bingung. “ne…”
“arrata! Besok kau harus berjanji membawakanku es krim coklat saja!” pintaku.
“es krim? Bukankah kau lebih suka susu coklat dari pada es krim coklat?” tanyanya heran.
Aku tersenyum kecil. “yah… mulai hari ini tanggapanku berubah. Kurasa es krim coklat tak kalah enak dari susu coklat.” Jawabku,.
Hyukjae tersenyum. “algeseoyo aghassi!” sahutnya sambil membungkuk hormat.
Aku tertawa melihatnya menunduk. “aish… oppa bangunlah… jangan menunduk…”
Dia tersenyum. mian hyukjae, mulai sekarang, aku tidak lagi berharap menjadi orang pertama yang kau harapkan tersenyum. namun aku tetap orang pertama yang mengharapkan senyumanmu. Hyukjae… kuharap kau berbahagia. Dan… bahagiakanlah eonniku…
***

Kyuhyun pov-
Aish… apa aku sudah gila? Mengapa sejak tadi senyum ini tak bisa lepas dari wajah tampan tak tertolakkan milikku (author : kyu mulai lebay).
Ya. Senyum ini sudah terpatri sempurna sejak yeoja bernama kyondae itu datang. Hei… aku bahkan masih belum percaya jika aku baru hari ini bertemu dengannya. Tapi mengapa rasanya seperti bertemu dengan teman lama? Dia juga mengingatkanku pada seseorang. Tapi… siapa?
Saat aku berusaha menggali ingatanku, aku melihat eunhyuk hyung sedang berjalan menuju lift. Segera ku langkahkan kakiku cepat dan menyentuh bahunya pelan.
“hyung!” sapaku riang.
Dia hanya membalasku singkat dan menunduk kembali. Hei.. ada apa dengannya? Tidak biasanya seorang lee hyukjae bermuram durja (jiah…) seperti ini. saat sudah masuk ke dalam lift, aku memberanikan diriku untuk bertanya.
“hyung… wae gurae?” tanyaku takut-takut. “gwaenchana?”
Eunhyuk hyung hanya menggerakkan kepala ke atas dan ke bawah. Tandanya ia mengangguk.
Namun aku masih belum puas. Aku kembali bertanya, “bab meogosseoyo? (kau sudah makan?)” lalu dengan cepat aku melanjutkan. “pigonhaejyo? (kau lelah?)”
Hal yang selanjutnya terjadi membuatku terdiam. Eunhyuk hyung menatapku lesu, “kyu-ah… eottheokhae?”
***

Eunhyuk pov-
“kyu-ah… eottheokhae?” rintihku tertahan. Mengapa aku begini? Hatiku terasa sakit…
Kyuhyun terlihat khawatir. “hyung… waeyo?” tanyanya. Tidak, tidak seharusnya aku bersikap begitu sentimental seperti ini di hadapan kyuhyun.
“puhahahaha! Lihat tampangmu kyu-ah! Apa aktingku sangat bagus?” ucapku memulai bersandiwara.
Merasa terjahili kyuhyun langsung meninggalkanku cepat saat pintu lift bergeser membuka. Aku menatap punggung kyuhyun dari belakang dengan pandangan sedih.
Ayolah hyukjae, apa yang terjadi denganmu? Karena melihat kyondae menangis dan terluka, kau merasa sebagian dari hatimu ikut menangis dan terluka. Mengapa kau merasakan hal itu? bukankah orang yang kau cintai adalah daena? Bukankah dia cinta pertamamu? Ayolah hyukjae…
Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang sedang ku rasakan. Bukankah aku hanya menganggap kyondae sebagai dongsaeng? Tapi mengapa begini sakit? Kenapa?

Awalnya aku mengira aku mencintai daena. Karena aku selalu ingin melindunginya. Bukankah jika kau mencintai seseorang, kau akan berusaha untuk melindunginya dari apapun yang menyakitinya? Namun hari ini berbeda. Mengapa aku tersiksa melihat kyondae menangis? Mengapa sebagian hatiku ikut hancur saat secara tidak langsung kyondae patah hati karenaku? Sesange… perasaan apa ini sebenarnya…
***

Author pov-
Hari ini kyondae sedang tidak dalam kondisi yang benar-benar baik. Kemarin ia baru menyadari jika eunhyuk mencintai eonninya. Dan bukan dirinya. Kenyataan ini membuatnya sedikit terguncang. Namun kemarin ada namja evil kyuhyun yang membuatnya melupakan kesedihannya. Walaupun itu dengan perdebatan, well… dari pada ia harus menghabiskan hari dengan menangis, berdebat terdengar lebih baik bukan?
Kyondae melihat daena yang berjalan tertatih karena lututnya yang terluka kemarin. Ia segera menghampiri daena hendak membantunya berjalan.
“menjauhlah!” teriak daena bahkan sebelum tangan kyondae menyentuh pundaknya. “aku bisa sendiri! Jangan sentuh aku!”
“eonni…”
“menjauh! Ku bilang menjauh!” perintah daena lagi.
“ne…” kyondae menurut sambil menunduk. Lalu daena keluar rumah tanpa menoleh kea rah kyondae sedikitpun.
***

Seminggu kemudian…

Kyondae pov-
Hari ini aku mengunjungi makan appa. aku rindu, benar-benar rindu.
Appa… mengapa eonni tak suka padaku?
Mengapa dia selalu membentakku?
Appa…mengapa saat aku ingin mendekat, eonni malah menjauh?
Aku harus bagaimana agar eonni menyayangiku? Atau bahkan memandangku?
Aku baru sadar, eonni bahkan tak pernah menatap mataku…
Appa, apakah aku bukan dongsaeng yang baik untuknya?
Sebegitu burukkah aku dimata eonni?
Appa… bogoshipda….

Eomma akhir-akhir ini sibuk. Banyak pasien yang harus ditangani. Begitulah resiko menjabat sebagai suster kepala di rumah sakit kota. Namun aku tahu, itu hanya sebagai pengalihan pikiran eomma. Karena aku tahu eomma pasti sangat merindukan appa.
Sedangkan eonni… ada atau tidak ada eonni di rumah, sama saja buatku. Kalaupun dia ada, eonni tak akan berbicara padaku. Berjalan melewatiku begitu saja, seakan aku hanya bayangan bodoh yang tak terlihat.
Aku memang bodoh. Meskipun eonni telah melakukan segala cara untuk mempersulitku, namun aku tetap menyayanginya. Tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk membencinya. Karena apa? Dia satu-satunya saudaraku.
Aku baru saja pulang dari makam appa saat aku melewati toko barang pecah belah di jantung kota Seoul. Disana aku mendengar suara yang begitu familiar. Daena eonni.
Mataku terbuka lebar saat pemilik toko itu mendorong kasar eonni yang berdiri menyanggah tongkat. Segera kutangkap tubuh eonni yang oleng. Syukurlah eonni tak terluka.
Namun begitu eonni tahu siapa yang menolongnya, eonni langsung berdiri menjauh dariku. Eonni… tak bisakah kau berpura-pura menyayangiku sebentar saja?
Karena aku takut eonni akan celaka lagi-meskipun aku tak tahu apa yang telah terjadi di toko barang pecah belah tadi, karena aku takut bertanya padanya- aku mengikuti eonni. Ingin sekali aku membantunya saat ia terlihat kesusahan bergerak ditengah keramaian. Namun aku ingat bagaimana sakitnya ditolak olehnya.
Saat kupastikan eonni telah naik bus dengan baik, aku kembali menapakkan kakiku. Entah kemana. Saat sadar, aku malah ada di depan gedung apartemen hyukjae. Untuk apa aku disini? Bukankah hyukjae sedang ada jadwal reality show? Mengapa aku masih saja menghapal jadwalnya? Sesange… apakah ini bukti jika aku memang belum bisa melupakannya?
Ketika aku hendak berbalik, seseorang menyentuh bahuku.
“chankkaman!” sahutnya.
Akupun berbalik menghadapnya dan terkejut. “neo?!”
***

Kyuhyun pov-
Aku sedang berjalan-jalan tak tentu arah karena akhirnya aku bebas dari jadwal. Aaargh… pegal sekali. Aku memutuskan untuk keluar apartemen. Dan-sungguh beruntung ah, maksudku sungguh sial aku bertemu yeoja galak itu. untuk apa dia kemari? Apa untuk mencariku? Kami selalu bertemu akhir-akhir ini. yah… memang aku sering melewati jalanan di depan rumahnya, namun itu hanya untuk memastikan eonninya baik-baik saja, bukan karena aku ingin bertemu dengannya, tidak. Tidak sama sekali. Yah… namun kurasa selama seminggu ini dia tak menyadari keberadaanku disekitarnya.
Ya! Kyuhyun berhenti tersenyum! kau terlihat seperti orang gila! Batinku karena kusadari aku tak kunjung berhenti tersenyum begitu menyadari keberadaan yeoja itu.
Namun yeoja itu seketika berbalik menjauh, kajima! Ingin aku berteriak seperti itu. namun yang kulakukan adalah menyentuh bahunya pelan dan berkata, “chankkaman!”
Akhirnya dia berbalik dan berseru, “neo?!”
Waeyo? Apakah ada yang aneh denganku? Aku memeriksa tubuhku. Tidak. Tidak ada yang aneh, semua baik-baik saja, penyamaranku sempurna, chankkam! “kau bisa menebakku lagi kan?”
Dia mengangguk. “penyamaranmu sangat payah!” sahutnya.
“payah? Kurasa ini cukup ampuh. Karena sampai sekarang belum pernah seorang fans pun yang menyadari keberadaanku. Bahkan kadang eomma ku tak mengenaliku.”
“jinjja?” jawab kyondae dengan nada tak percaya yang dibuat-buat.
“eo!” jawbaku cepat. “hajiman… mengapa kau bisa menebak? Apakah kau…”
“ya! Jangan terlalu percaya diri cho kyuhyun! Siapa yang menyukaimu?” potong kyondae.
“aigoo, aigoo… kyondae-ssi, aku tak bilang kau menyukaiku. Aku ingin bertanya apakah kau peramal atau sejenis dengan itu.” tukasku yang mau tak mau membuat kyondae salah tingkah. “hajiman, apakah kau benar-benar menyukaiku?”
“SI-A-PA YANG ME-NYU-KA-I-MU TU-AN CHO!” jawab kyondae penuh penekanan pada tiap suku kata.
Aku yang mendengarnya hanya ternganga. “kyondae-ssi, haruskah kau member penekanan disetiap suku kata?” lalu aku melanjutkan, “author, bisakah tidak memakai CAPSLOCK saat penekanan kata? Hal itu sangat membuat stress…” (-.-“ author dimarahi kyu…)
“ya! Kyuhyun! Jangan membuat malu! Bagaimana bisa seorang cast FF memarahi authornya?” bela kyondae.
“lalu, ada hubungannya denganmu? Sebaiknya kau diam saja! Dasar cerewet!”
Kyondae hampir memukul kepalaku. Untunglah aku cepat belajar dari pengalaman. Kyondae sudah pernah memukul kepalaku keras, dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Jadi dengan gerakan cepat aku memegang tangan kyondae yang terarah padaku, menariknya keatas sehingga membuat badannya ikut maju mendekat ketubuhku. Bisa kurasakan napasnya terengah-engah menahan amarah menerpa wajahku.
Entahlah, memandang matanya yang bening itu dari dekat terasa lain untukku. Seakan-akan matanya menghipnotisku untuk terus memandang matanya. Tidak hanya memandang, kalau bisa aku ingin masuk ke dalam mata itu. mendekatkan diriku padanya. Tuhan… apa magnet yang dimiliki yeoja ini sehingga dapat menarikku maju begitu kuat?
Perlahan aku memajukan wajahku dengan wajahnya. Rasanya ingin secepatnya aku merasakan bibir mungil hangatnya yang berwarna merah marun itu. entah kenapa saat ini bibirnya sangat menggoda untukku.
Oke… kyuhyun tenanglah… kau hanya tinggal memajukan bibirmu saja, menempelkannya, dan… kalau bisa melumatnya. Oh… pikiranku sudah terkontaminasi oleh eunhyuk hyung. Tapi entah kenapa pikiran itu malah membuatku tersenyum.
3…2….1… chu~
Aku menciumnya! Hya?! Apa yang kulakukan? Lalu apa reaksi yeoja ini?
Kyondae hanya diam, melotot, dan memandangku tajam. Akhirnya dia sadar dan mulai berteriak histeris! “neo! michinom!” seraya memukuliku. “nappunom! Pyontae!”
Aku tak menyangka dia akan memanggilku pyontae (maniak). Apa aku terlihat mesum?
Dia menatapku sengit dan berkata lagi, “my first kiss…! yi namjaga jinjja!”
Omo! First kiss? denganku? Mendengar fakta itu aku tersenyum. meskipun dia tetap berteriak-teriak padaku. Yang jelas aku senang! Eommmaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!
***

Kyondae pov-
Sesange! Eottheokhae?! Dasar kyuhyun baka! Rasanya ingin kubunuh dirinya saat itu juga! Namun saat itu juga aku menyadari sesuatu.
KYUHYUN MASIH MEMAKAI MASKER PENYAMARAN DIWAJAHNYA! Itu berarti kyuhyun belum menciumku! Yah… meskipun tadi aku bisa merasakan dengan jelas gesekan bibir kyuhyun mengusap bibirku pelan. Tapi, bukankah ini tidak termasuk ciuman? Fakta ini membuatku sedikit lega.
Tapi bukan berarti dia seenaknya saja! Namja ini!
“berhenti tersenyum namja baka! Jangan kira kau telah berhasil mengerjaiku!”
“musun seuriya? Siapa yang mengerjaimu?” tanyanya tak mengerti.
Aku tersenyum. “kita tidak,… berciuman,” simpulku mantap. “lihat saja, kau masih memakai masker penyamaran diwajahmu.”
“mwo?!” ujarnya kaget. “jadi aku gagal?” sahutnya kecewa. Aku mengangguk.
“bi-bisakah aku mencoba lagi?” pinta kyuhyun yang membuatku kaget. Omo! Apa yang dia katakan?
“ya! Kyuhyun baka! Museun seuriya sasil?” aku mulai mundur menjauh. Oh-oke. Dia mulai berencana melepas maskernya. Cukup-err… menakutkan.
Namun kyuhyun malah semakin mendekatiku. Tatapannya bukan seperti seorang maniak, tapi tetap saja, jika ada seseorang yang kau kenal bahkan belum seminggu mencoba untuk menciummu, apa yang bisa kau pikirkan? Tentunya kau berpikir dia seorang maniak kan?
“andwae! Ya! Baka! Baka! Baka!” ujarku sambil berbalik dan melangkah pergi.
Kyuhyun mengejarku. “kyondae-ah… jebal”
Oh, sekarang dia mulai memanggilku kyondae-ah… mengapa hal itu menimbulkan semburat di wajahku? Aku mempercepat jalanku. Namun dia tetap mengikuti. Menutup telinga agar tak mendengar panggilannya sepertinya harus kulakukan sekarang juga.
“kyondae-ah… kyon, kyon-ah…” dia menarik lenganku dan memaksaku untuk berhenti dan menatap matanya. Rasa malu tiba-tiba muncul dibenakku. Aku yakin pipiku sudah seperti tomat rebus sekarang.
Kyuhyun menyadari itu dan memeriksa keningku pelan, “kau tidak panas, lalu mengapa wajahmu merah?” tanyanya polos.
“a-aniya… “ aku berusaha menghindari tatapan matanya dan mulai berjalan.
Awalnya kyuhyun memandangi punggungku yang menjauh dengan memiringkan kepala. Berusaha berpikir. Ada apa dengan kyondae? Apa ciumanku-atau bisa di sebut sentuhan- membuatnya seperti itu?apa-apakah dia malu dengan kejadian tadi? Apa? Malu? Senyum mengambang dibibirnya.
Suara derap kaki jenjang kyuhyun terdengar mendekat membuat jalanku sedikit timpung namun aku tetap berusaha menyeimbangkan tubuhku dan berjalan cepat. Namun tetap saja aku kalah jika masalah kecepatan.
Dia mensejajarkan langkahnya denganku dan menatapku penuh arti. Apa maumu cho kyuhyun….
“kyon-ah… kau… malu?” tanya kyuhyun. Aku mempercepat jalanku tanpa menjawab pertanyaannya.
Dia tetap mengekoriku dari belakang sambil bersiul. “kau malu kan? Iya kan? Kau malu padaku? Karena itu ‘first’mu? Ayolah,,, kau malu kan?” paksanya.
Aish… namja ini pemaksa. “malu kan? Malu? Aku benar kan?”
Aku sudah tak tahan. Aku diam dan berbalik. Hampir saja kyuhyun menabrakku jika ia tak buru-buru menghentikan langkah. Aku hendak berteriak padanya, namun dia malah mendekatkan wajahnya lagi. Menatap dalam mataku membuatku bungkam. “kau malu kan?”
Blush!
Aneh. Ucapannya terkesan sedang menggodaku namun tatapan matanya hangat dan menentramkan. Aku merasakan kasih saying yang mengalir dari mata itu. jangan katakan aku terhipnotis oleh matanya. Sesange… apa yang terjadi…
***

TBC…
Kya! FF apa ini? kenapa aneh begini? Aaaah…. Sudahlah! RCL! Kalo nggak RCL author kutuk nggak ketemu bias *evilaugh*
Kidding ^^
Tetep RCL kan? Tink tink *kedipin mata*
Poppo reader satu-satu, reader muntah berjamaah!
*Bow bareng yeye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s