FF I HAVEN’T ANY CHOICE PART 10-END

TITLE : I HAVEN’T ANY CHOICE (PART 10-END)
AUTHOR : Nila
Fb : http://www.facebook.com/nila.siiuletnangka
Twitter :@NyieLa
GENRE : romance, komedi (?)
CAST :
1. Choi Yong Won
2. Lee Donghae
3. Cho KyuHyun
4. Kim Jong Woon
5. Kim Heechul
6. other super junior’s member
LENGHT : series
RATING : PG 15
DISCLAMER : ALL OF THEM is my special cast, especially Kim Jong Woon,nae nampyeon😀
NB : terima kasih buat para reader yang menyempatkan diri untung membaca FF abal-abal ini, ini adalah FF series pertama, soalnya author nggak pede. Biasanya Cuma buat oneshot atau twoshot. Takutya kalo series otak author macet ditengah jalan. jadi di mohon kritik dan sarannya.

HAPPY READING……

Yesung pov-

“mwoya?’” dia terlihat terkejut namun aku tak punya waktu lagi. “mian, aku harus pergi. Kurasa sooman sajangnim akan memutuskan akan memeti eskan kyuhyun apa tidak hari ini.” aku segera berlari ke pintu keluar.

Namun saat aku sudah membuka gagang pintu hendak keluar, aku berbalik dan berteriak. “kau tahu yongwon-ah? Bukan mereka saja yang merasakan hal itu. AKU juga merasakan hal yang sama padamu. AKU MENCINTAIMU!” lalu aku pergi dan berlari turun ke lantai 12.

***

Yongwon pov-

Aku kembali ke apartemen tanpa ada nyawa yang terasa di dalam ragaku. Ini tidak betul-betul terjadi kan?
Ini mustahil. Tidak mungkin…

Kring!

Tiba-tiba saat pikiranku sedang kalut, suara telponku berbunyi.

“yeoboseo?” aku menyapa orang yang di seberang.

“lho? Papa? Kenapa nelfon?” terdengar suara orang tuaku di sebrang telepon.

“berita itu? lala bingung harus menjelaskan bagai-“ suaraku terputus karena papa memotong pembicaraanku.

“sudah, sudah! Papa tidak mau dengar! Pokoknya dalam satu minggu kamu harus pulang ke Indonesia! Lagipula, masa tugas duta remajamu sebentar lagi akan selesai. Papa tidak ingin anak perempuan papa menjadi bahan gossip di Negara yang bahkan asing bagi anak papa!”

“tapi pa….” aku mencoba berargumen.

“lala! Sudah papa bilang. Jangan bilang kamu memang mencintai lelaki artis itu!” bentak papa.

“papa….” Ucapku memelas.

“lala… “ suara papa melunak. “papa tidak melarang lala berhubungan dengan siapapun. Bahkan artis sekalipun. Tapi tolong, ingat keyakinan kita. Papa tidak melarang lala bergaul dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Namun hanya berteman. Tidak dalam hubungan yang lebih dalam…” jelas papa yang membuatku tersentak.

“kamu dengar papa kan lala?” tanya papa lembut.

“ya pa… lala akan pulang seminggu lagi…” lalu setelah berpamitan sebentar, telfon terputus.

Inikah akhir kisah cinta pertamaku? Kata orang cinta pertama tidak akan pernah terlupakan. Yah… ini memang sangat menyakitkan sehingga susah untuk melupakannya.

Tapi tetap saja, hal ini tak semudah yang papa bayangkan. Oh-bahkan hal ini sangat sulit. Aku-ya aku menyadari bahwa aku telah jatuh ke dalam pesona seorang Lee donghae. Dan jatuh terlalu dalam. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Papa… aku mencintai pria ini…

***

Imo pov-

Aku melihat keponakanku yang nakal sedang gundah. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan. Namun yang aku sadari, keponakanku sedang terlibat masalah cinta yang terlarang. Terlarang baginya karena ayah dan keyakinan kami tidak mengijinkan hal itu. bagaimana ini? ku lihat dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya pelan.

“kakak… apa yang telah kakak katakan pada Lala? Sinar matanya yang terbiasa ku lihat kini menghilang. Apa yang harus aku lakukan demi melihat sinar matanya kembali?

TING TONG! TING TONG!

Terdengar suara bel pintu apartemen berbunyi. Siapa yang datang? Apakah donghae?

“ne… chankkamanyo…” aku berlari kearah pintu dan membukanya. Berharap donghae yang datang dan mengajak yongwon berbicara. Namun ternyata…

“ryeowook-ssi?” seruku kaget. Mengapa ryeowook datang kemari? Setahuku ia tidak dekat dengan yongwon maupun denganku.

Dia tersenyum. namun entah kenapa aku malah sedih melihat senyumnya. “apakah yongwon ada?” tanya ryeowook.

“ne.. masuklah. Akan ku panggilkan yongwon.” Lalu aku menyuruhnya menunggu di ruang tamu saat aku memanggilkan yongwon di kamarnya. Aku keluar dengan menggandeng lengan yongwon yang terasa lemas dan tak bertenaga. Aku tahu dia tidak sedang sakit. Namun aku tidak mempertanyakan mengapa badannya terasa lemas seperti ini.

“ryeowook-ssi… annyeong haseyo…” yongwon membungkukkan badan di depan ryeowook.

“ah.. annyeong haseyo yongwon-ssi… bisa,, kita bicara?” ucap ryeowook hati-hati.

Kulihat yongwon mengangguk. Kumohon pembicaraan ini tidak membuatnya lebih menderita lagi…

“nah… begini…” ryeowook mulai menjelaskan secara perlahan.

***

Author pov-

Ryeowook baru saja pulang dari apartemen yongwon. Pembicaraanya dengan yongwon serta jung noona membuatnya sedikit tersentak. Namun akhirnya rasa lega menjulur ke seluruh panca indranya.

Di apartemen yongwon, jung noona melihatnya dengan tatapan aneh. Seakan-akan tahu apa yang sedang dirasakan keponakan satu-satunya itu. namun ia hanya diam. Membiarkan keponakannya menghabiskan waktu sendiri untuk merenungkan pembicaraan tadi.

Selama seharian yongwon tidak melakukan satupun hal yang benar. Saat memasak, ia memasukkan sayur ke dalam rice cooker dan memotong kentang saat membuat kimchi. Jung noona yang melihatnya kasihan. Namun hanya menatapnya miris. Dan berdoa untuk kebaikan keponakannya itu….

***

Yongwon pov-

Aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Aku teringat mama. Biasanya saat ini mama aka nada di sampingku untuk menyokongku. Namun saat ini aku sudah tak dapat merasakan kehangatan belaian tangannya. Ya… mama telah meninggalkan kami sejak 3 tahun yang lalu. saat semua yeoja menceritakan kisah cinta pertamanya pada mamanya, aku tidak bisa. Saat sedang patah hati, mamalah tempat mengadu selain pada-Nya. Mama… Lala kangen mama…

Aku hampir menangis malam itu. aku teringat pada penciptaku. Tempat ku mengadu. Ya… aku mengambil air suci untuk mensucikan diriku dan memulai menghadapnya dengan tenang. Mencurahkan segala isi hatiku dengan doa-doa yang kupanjatkan. Setelah hatiku tenang, aku mulai merebahkan tubuhku di balik selimut. Mencoba mengistirahatkan otak, badan, dan hatiku yang tak bertenaga. Semoga ini yang terbaik… semoga…

Aku tidur setelah melafazkan doa-doa dan pujian terbaik kepada-Nya…

***

Author pov-

Yongwon menghubungi donghae. Kendati kondisi donghae belum sembuh total, ia meminta yongwon untuk bertemu di taman belakang gedung apartemen mereka. Diam-diam jung noona mengikuti mereka dari belakang.

Sesampainya di taman dengan penyamaran lengkap, donghae menunggu yongwon datang. Ia memilih duduk di bangku taman karena tubuhnya belum kuat benar.

5 menit kemudian, ia merasakan hentakan pelan dari bangku di belakangnya tanda seseorang telah duduk disana.

“oppa…” suara seorang yeoja yang sangat di rindukannya mengudara.

Donghae langsung berbalik dan menatap punggung yongwon yang membelakanginya. “eottokhae jinnaseyo?” tanyanya lemah.

“yongwon… berbaliklah… aku rindu melihat wajahmu, jebal… apa kau tak merindukanku?” ujar donghae.

“bogoshipo oppa…” yongwon berkata penuh dengan beban.” hajiman, aku sadar… semua yang terjadi akhir-akhir ini adalah ulahku…” jawab yongwon.

Donghae terperangah. Ketakutan mulai muncul menghinggapi hatinya ketika mendengar yeojanya mengatakan itu. “ani… chagi… ini bukan salahmu. Mengapa kau berkata seperti itu? jebal berbaliklah…” pinta donghae dengan suara lemah.

Yongwon tetap bergeming. “oppa… jangan biarkan aku lemah oppa…” mohon yongwon pilu. Tersirat rasa pedih yang luar biasa dari suaranya.

Donghae menatap punggung yongwon. Lalu berkata, “aku tidak akan menyakitimu chagi… kau tahu itu kan?” tuturnya tulus untuk meyakinkan yongwon, yeojanya.

Yongwon menghela napas panjang. “ne… tapi dengan menatap wajahmu aku akan lemah dan aku ingin kembali, dan aku tidak akan sanggup meninggalkanmu…” keluh yongwon.

Donghae bagai tertampar keras saat yeojanya itu mengatakan akan meninggalkannya. Ada apa ini sebenarnya? “mwo? Museum seuriya chagi? Kau tidak berencana meninggalkanku kan?” donghae berucap takut-takut.

“oppa… mianhae…” air mata yongwon mendesak keluar. Runtuh sudah pertahanan yongwon yang sedari tadi susah payah ia bangun. Jebal… jangan seperti ini… ini terlalu sulit… yongwon membatin dalam hati sambil meremas dadanya. Ini terlalu sakit…

“chagiya…” panggil donghae lemah. Tak percaya yeojanya sanggup mengatakan hal laknat itu.

Yongwon menatap donghae sekilas. “oppa… aku… aku harus pergi…” lalu ia mulai melangkahkan kakinya pelan. Semakin lama semakin cepat, agar ia tidak mendengar suara donghae yang terus memanggil-manggil namanya. Ia tahu fisik donghae belum kuat benar. Jadi donghae tidak akan kuat mengejarnya.

Saat itu hati yongwon berharap donghae dapat mengejarnya dan memeluknya. Menghentikan segala sakit di dadanya. Kini dadanya tak merasakan detak yang cepat bagai gendering perang. Namun yang ia rasakan malah sunyi. Seakan-akan detakan jantungnya tidak ada. Bagai sudah mati. Oppa… tolong aku…

Tiba-tiba donghae berteriak karena yongwon tak juga menghentikan langkahnya. “CHOI YONGWON DENGARKAN AKU! DIAM DISANA ATAU AKU…”

Yongwon berlari kearah jalan, dan berteriak. “mianhae oppa… neomu saranghaeyo… saranghaeso, saranghamnida… sarang handago…

Tepat sesaat setelah ucapannya yang terakhir, donghae tak tahu harus mempercayai penglihatannya atau tidak. Saat itu semua inderanya terasa mati. Mata, telinganya melihat dan menangkap suara yang terdengar seperti jeritan, decitan ban, dan tubrukan!

BRAK! Sebelum donghae menyadari lebih lanjut apa yang terjadi, Yongwon jatuh tertentang dengan darah mengucur dari tubuhnya.

“yongwon-ah…!” histeris donghae.

***

Donghae pov-

“yongwon-ah… yongwon-ah…” ucapku berulang-ulang di depan ruang gawat darurat rumah sakit.

Setengah jam yang lalu, aku melihat yongwon tertabrak. Tuhan… aku benar-benar tidak dapat bernapas saat itu. aku berlari menghampiri yongwon. Melupakan semua sakit yang menjalar dari kakiku, perutku, membuatku pening seketika. Namun melihat yongwon yang terbujur lemah dengan darah yang mengalir dari kepalanya membuat rasa sakitku bagai kapas yang terbang tertiup angin. Yongwon-ah… chagi…

Suara derap kaki yang tergopoh-gopoh datang dan mulai mengelilingiku. Mereka semua tak ada yang memakai alat penyamaran seperti biasa. Mungkin karena mereka terlalu kaget. Untunglah rumah sakit malam itu sepi. Aku tidak peduli lagi.

Eunhyuk mendekatiku dan berlutut di depanku. Mencoba mencari sinar mataku. “donghae-ah… kau bisa mendengarku?” samar-samar ku dengar suara ikan teri itu memanggilku. Namun aku bergeming. Terlalu sibuk memikirkan yeojaku di dalam yang bertaruh antara hidup dan mati.

Kemudian aku merasakan ada tangan lain yang menyentuhku. Kyuhyun. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku. 5 detik kemudian aku merasakan tubuhnya yang gemetar memelukku.

“hyung… mianhae. Jika aku tahu ini akan terjadi.. semua salahku hyung, yongwon-ah…” raungnya pilu. Mungkin jika situasinya seperti ini aku akan meniju rahang kyuhyun. Namun aku tidak mempunyai tenaga untuk itu.

Air mataku keluar tanpa henti. Aku tidak ingin yongwon melihatku dalam keadaan seperti ini. namun aku tak kuasa menahannya. Chagi… ireona… palli..

Dikoridor rumah sakit itu hanya terdengar suara tangis yang memilukan.

***

Yesung pov-

Semua terlihat tegang dan menangis. Aku terdiam sejenak. Melangkah gontai menuju ujung koridor dan berbelok pelan. Menyandarkan punggungku di dinding dan mulai merintih. Sakit… yongwon-ah… kau tahu? Disini sangat sakit… bangunlah…

Lihat semua orang yang menyayangimu menangis. Bahkan kau lihat? Donghae, namja yang kau cintai sedang menangis. Jika kau tidak ingin bangun untukku, bangunlah untuk donghae. Ku mohon bangunlah…

Aku tak kuasa menahan tubuhku. Aku terduduk pelan dan memeluk lututku pelan.

***

Kyuhyun pov-

Aku… aku tidak dapat berpikir. Separah itukah kelakuanku? Jika aku tahu akan begini jadinya, lebih baik aku di peti eskan dari pada melihat yongwon dengan jarum infuse tergeletak lemah.

Ireona yongwon… bisakah kau dengar suaraku? Aku berjanji tidak akan memanggilmu babo. Saat kau bangun, kita akan menjadi sahabat lagi. Aku menyayangimu, neo arro? Aku bahkan belum sempat mengatakannya padamu. Tolong dengarkan aku…

***

Author pov-

satu setengah jam mereka berdiri di koridor rumah sakit. Bergeming atas apapun. Semuanya terdiam. Kecuali ryeowook yang terlihat gelisah.

“eottheokahe?” ryeowook mulai berjalan mundur saat melihat yeoja yang lebih tua darinya melambaikan tangannya, menyuruhnya mendekat.

Dan dengan menimbulkan kecurigaan, ryeowook berjalan pelan dan mendekati yeoja itu. jung noona.

“bagaimana noona?” tanya ryeowook pelan.

“aku akan membawa yongwon pulang. Yah… mungkin 2 hari lagi. Kuharap ini akan menjadi akhir yang paling baik.” Desah jung noona.

Ryeowook memandang langit-langit dan berkata, “semoga.”

***

Tak ada yang dapat memastikan umur manusia… yah… kalimat itu yang terus menerus di dengungkan siwon saat donghae mulai berteriak tak terkendali mengetahui nasib yeojanya.

Yongwon telah meninggal.

Hanya semenit, hanya semenit waktu yang diberikan pada donghae untuk menatap wajah yeojanya itu sebelum jung noona membawa jenazah yongwon pulang ke tanah air.

Tak ada yang lebih menyedihkan ketika mendapati seseorang yang kita cintai sudah tidak bersama kita. Namun bukan hal yang bijak jika kita hanya menangisi kepergian mereka, yang mereka perlukan sekarang hanyalah cinta dan kasih saying yang tersalur lewat doa.

***

Setahun kemudian…

Lee donghae menghembuskan napas untuk kesekian kalinya. Menatap lemah sesuatu di depannya. Ia menoleh ketika ada seorang namja yang memanggil namanya. Baiklah.. saatnya pergi. Aku akan kembali kesini, satu tahun lagi. Aku berjanji. Bisiknya dalam hati. Meskipun ia tahu, dia tak mungkin mendengarnya.

“Berbahagialah…” dongahe tersenyum dan melangkah pergi.

***

Yongwon pov-

“kau yakin?” sahut ryeowook padaku. “kau akan mengakhirinya seperti ini?”

Aku hanya menatapnya dan tersenyum. kemudian mengangguk.

FLASHBACK

Author pov-

“ryeowook-ssi… annyeong haseyo…” yongwon membungkukkan badan di depan ryeowook.

“ah.. annyeong haseyo yongwon-ssi… bisa,, kita bicara?” ucap ryeowook hati-hati.

yongwon mengangguk. Kumohon pembicaraan ini tidak membuatnya lebih menderita lagi… batin jung noona.

“nah… begini…” ryeowook mulai menjelaskan secara perlahan. Ryeowook terlihat gugup.

“bicaralah ryeowook-ssi…” pinta yongwon.

“aah… kau tahu? Selama ini kau sering menerima bunga dari pengirim tak jelas dan-“

“kau yang mengirim itu?” tebak yongwon dengan suara lembut.

Ryeowook tersentak sedikit. “ne.. sebenarnya ada hal yang perlu kau tahu. Yakni… selain donghae hyung… yesung dan kyuhyun…” tuturnya pelan yang lagi-lagi di potong oleh yongwon.

“juga menyukaiku kan?” jawab yongwon yang membuat ryeowook makin tertohok.

“neo-neo arro?” gagapnya.

“ne, yesung oppa yang mengatakannya padaku… jujur, aku sempat merasa kaget dan tak percaya.” Tukas yongwon lemah.

“lalu, lalu bagaimana menurutmu?” tanya ryeowook hati-hati.

Yongwon terdiam sejenak. Lalu dengan mantap ia berkata, “aku… aku memutuskan untuk meninggalkan korea secepatnya.”

Ryeowook membulatkan matanya. “mwo? Tapi-tapi bagaimana donghae hyung dan…”

“biar aku yang mengatakannya…” potong yongwon cepat.

“tapi dia orang yang sedikit keras kepala… lagi pula untuk apa pergi? Kyuhyun tidak akan dipeti eskan. Semakin lama dia akan mengerti…” ryeowook mencoba berargumen.

“ini… bukan hanya soal itu … ” elak yongwon.

“tapi kukira kau menyukai donghae hyung…”

“ne, aku menyukainya. Amat sangat bahkan aku mencintainya. Namun… aku harus meninggalkannya.” Putus yongwon.

“waeyo?” tanya ryeowook tak percaya.

“ada hal-hal yang tidak harus berakhir bahagia agar kita dapat merasakan makna dari kejadian itu. justru terkadang dari hal-hal yang menyakitkan kita akan dapat memetik hikmahnya. Ya… kurasa itu yang akan ku lakukan sekarang..” jelas yongwon/

“lalu bagaimana kau akan melakukannya? Kau kira gampang?”

“ah… soal itu… aku mungkin membutuhkan bantuanmu ryeowook-ssi dan imo juga” yongwon memandang keduanya bergantian.

“bantuan apa?” kali ini imo yang bertanya.

“kalian harus bisa membunuhku.” Jawab yongwon mantap.

“MWORAGO?!” teriak ryeowook dan imo berbarengan.

FLASHBACK END

Yongwon pov-

Seperti tidak puas dengan jawabanku, dia melenguh. “Oh Tuhan, ayolah! Mengapa harus seperti ini? aku benar-benar tidak habis pikir!” tolaknya.

“memangnya kenapa? Bukankah dengan begini tidak ada yang merasa bahagia ditengah penderitaan orang lain?” aku menatap keluar jendela caffe. “bukankah dengan begini akan lebih baik?”

Dia menatapku nanar. “aku-baru-menemukan yeoja yang sekeras kepala dirimu! Kau diam saja dan membiarkan kisah cintamu berakhir dengan sad ending?!” dia mulai membentakku.

Aku tersenyum simpul. “ani. Ani.. ini bukan sad ending ryeowook oppa..” jawabku lembut.

Dia hanya menatapku. Meminta penjelasan lebih lanjut. “menurutku, kami semua, aku, yesung oppa, kyuhyun oppa, dan… “ aku mengambil napas sejenak. Mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata. “ dan donghae oppa…” bahkan hanya dengan menyebut namanya saja membuat pertahananku hampir runtuh. Ku mohon, tinggal sedikit lagi.

“walaupun kami sesedih apapun, seterpuruk apapun, pasti orang yang bijak seperti mereka akan menyikapi hal ini dengan kedewasaan. Lalu, cepat atau lambat mereka pasti akan menemukan kebahagian atau hikmah dari semua kejadian ini. membuatnya sebagai sebuah kenangan maupun pelajaran untuk hidup ke depan. Mereka mungkin akan mencoba untuk tidak melakukan hal bodoh yang sama.” Ujarku panjang lebar.

“yah, mereka memang bodoh. Bagaimana bisa menyukai yeoja bodoh sepertimu? Yeoja yang menyia-nyiakan 3 cinta dari namja yang notabenenya seorang superstar yang dipuja-puja banyak yeoja lain. jika semua yeoja ingin berada di sisi mereka, kau, yang bahkan mempunyai kesempatan itu, menolak. Hanya karena apa? Kepercayaan.” Dengusnya.

“oppa… jebal. Aku sudah menjelaskannya.” Aku menatap ryeowook oppa dengan tatapan meminta pengertian.

“keyakinan adalah sesuatu yang menyangkut hati yang paling dalam. Cinta memang berasal dari hati. Namun keyakinan adalah cinta kita kepada Tuhan. Aku tidak bermaksud membanding-bandingkan suatu keyakinan dengan keyakinan lain. namun, jika cinta kepada sesame manusia membuatku harus berpaling dari keyakinanku, aku menyerah. Karena aku tidak akan pernah melakukan hal itu. aku juga tahu jika donghae oppa tidak akan melakukan itu. aku tidak memaksa. Karena keyakinan itu harus berasal dari hati nurani, bukan karena paksaan atau hanya sekedar janji. Tolong mengertilah…” suaraku hampir tak terdengar. Ini keputusanku.

Dia memandang mataku yang membalasnya mantap. “arraseo, arraseo! Yi yeojaga jinjja (gadis ini benar-benar) .. Neun jinjja nappa (kau benar-benar kejam)! ” dia lalu tersenyum. “sekarang aku tahu mengapa 3 namja bodoh itu menyukaimu. Ah sudahlah! Hati-hati dan tetap hubungi heechul hyung. Atau dia akan menjadi gila seperti saat ditinggal oleh hankyung hyung dulu. Aku tidak dapat berjanji jika dia tidak akan membocorkan keberadaanmu. Atau mereka akan segera berlari ke tempatmu saat itu juga. “ ancamnya.

Aku tertawa. Hambar. “dan-jika mereka menemukan keberadaanku, mereka sudah mempunyai kehidupan baru dengan yeoja yang mereka cintai.” Harapku.

Ryeowook oppa hanya mengangguk tidak mau berdebat lagi denganku. “lalu, kau sendiri bagaimana?”

“naega?” aku menerawang sebentar. “ah… mungkin akan sedikit susah. Bayangkan saja, cinta pertamaku kulewatkan dengan berbagai macam masalah. Dan itu tidak mudah. Kurasa aku akan mencari namja dari kalangan biasa saja. Seorang artis membuat repot.”

Ryeowook oppa sedikit berdehem. “ya! Kuharap ucapanmu itu dalam hal baik.”

“geuromyo! Ah! Oppa, pesawatku akan berangkat sebentar lagi. “ aku bangkit dan mengambil koperku di samping kursi.

Inilah saatnya. “annyeong oppa…” kata-kata ini meluncur keluar dengan lambat.

“josimhae gayo yongwon-ah… (hati-hati di jalan yongwon) “ ryeowook oppa ikut bangkit.

Aku tersenyum. kemudian aku melangkahkan kakiku pelan. Sejenak aku berpaling ke belakang, berharap menemukan wajah itu. namun ku kuatkan hatiku agar menahannya. Kau harus kuat yongwon! Ani! Sekarang nama yongwon sudah tidak berlaku lagi. Namaku Lala. Dan aku akan pulang ke rumahku. Ke rumah orang tuaku. Selamat tinggal Korea Selatan. Selamat tinggal kampusku. Selamat tinggal Super Junior. Dan… selamat tinggal Donghae oppa.

Aku melangkah mantap menuju pintu departure.

EPILOGUE

Donghae oppa, aku tahu kau masih memikirkanku. Namun inilah jalan hidup kita.

Maafkan aku yang membohongimu begitu banyak. Kuharap kau bahagia. Mungkin aku melakukan kejahatan yang tak termaafkan. Membuat diriku sendiri meninggal. Yah… memang tidak sepenuhnya meninggal. Malam itu di rumah sakit aku berkata pada imo untuk melaksanakan rencana jahatku saat itu juga. Dan aku menyuruh ryeowook menyerahkan surat yang ku tulis sebelum peristiwa kecelakaan rekayasaku berlangsung. Aku memberikannya peti yang berisi diary-ku… aku menuliskan bagaimana perasaanku padanya…

Dan-dari ryeowook oppa, aku tahu, jika donghae oppa menguburkan peti itu di Mokpo, kampung halamannya. Bersikap seolah-olah itu menjadi makamku. Karena ia telah mencari, dengan semua orang yang membantunya, hingga seantero pulau jawa tentang keberadaanku. Aku memang tidak lagi bermukim di Jakarta lagi, aku telah pindah secara diam-diam. Ke Lombok lebih tepatnya. Mungkin suatu saat aku akan bertemu kembali dengannya. Namun saat itu, dia pasti telah bersama yeoja yang dicintainya… ku harap kau bahagia disana oppa…

Yeongwohni Saranghae… Lee Donghae-ssi…

Aku tersenyum… menatap diaryku yang selama setahun lebih hanya berisikan curahan perasaanku kepada donghae oppa. Aku menutupnya seakan menutup lembaran lama hidupku. Dan memandang lurus ke depan.

Kini hidupku berubah. Cinta yang merubahku. Seorang Lee donghae berpengaruh besar dalam hidupku. Dan sekarang… aku hidup bahagia bersama Papa dan Imo. Dan… kuharap dengan pria yang kelak akan menjadi suamiku. Terimakasih telah mendengar kisah cinta pertamaku yang memilukan namun sekaligus membahagiakan.

Untukmu, yang selalu percaya pada cinta…

Cinta,
Kau yang pernah ada dan pernah bertahta,
Kau yang membawa separuh jiwa ini dalam surge batinmu, yang mampu menghapus luka ktika tergores hingga menahanku saat jatuh.
Aku mencintaimu atas nama Cinta, jiwa tulus dan tak ternoda, yang mampu kau raih ketika sang waktu tiba.
Namun bukanlah jeruji waktu itu yang memaksaku pergi, bukanlah noda yang membuatku sirna.
Tak kuasa ketika perbedaan itu yang menerkam, menghantui disetiap sudut mimpiku.
Aku tak ingin ketika aku terbangun dari mimpiku, aku kehilangan keyakinanku yang hanya Satu.
Aku tak ingin durhaka pada Ilahi, yang telah menciptakanku, dan mereka,
karena selimut Ilahilah aku mampu melihatmu dalam relung batinku.
Bahagiaku telah mengenalmu, bahagiaku ketika separuh jiwa ini hanya padamu.
Maaf ketika aku tak bisa berbagi cinta ini padamu, dan untuk mereka,
Untukmu dan dirinya yang selalu ada dan bersemayam dalam jiwa…

Lala Putri Baskoro (Choi Yong Won)

-END-

Huwa… selesai juga nih ff! oya bagi siapa saja yang namanya mirip dengan tokoh diatas, mianhae… otakku yang kecil ini hanya bisa memikirkan namaitu. *pembelaan.
Siapa yang menurut reader nasibnya paling… paling apa ya? Paling tragis? *yesung oppa tragis tuh! *tapi kok setelah review semua jadi tragis?
Reader : baru sadar loe thor? Kebangetan!
By the way…
Makasi yang udah ngikutin ff ini dari awal ampe akhir *siapa?*
Makasi buat mama *read Lia hepy yang udah nyumbangin puisinya-yang aku nggak bakal bisa buat #dasar otak cetek!
See you on the next ff! hoho
Poppo reader satu-satu, reader muntah berjamaah
Pai-pai…
*bow bareng semua cast ff ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s