FF I HAVEN’T ANY CHOICE PART 3

TITLE : I HAVEN’T ANY CHOICE (PART 3)
AUTHOR : Nila
Fb : http://www.facebook.com/nila.siiuletnangka
Twitter :@NyieLa
GENRE : romance, komedi (?)
CAST :
1. Choi Yong Won
2. Lee Donghae
3. Cho KyuHyun
4. Kim Jong Woon
5. Kim Heechul
6. other super junior’s member
LENGHT : series
RATING : PG 15
DISCLAMER : ALL OF THEM is my special cast, especially Kim Jong Woon,nae nampyeon 😀
NB : terima kasih buat para reader yang menyempatkan diri untung membaca FF abal-abal ini, ini adalah FF series pertama, soalnya author nggak pede. Biasanya Cuma buat oneshot atau twoshot. Takutya kalo series otak author macet ditengah jalan. jadi di mohon kritik dan sarannya.
HAPPY READING……

Donghae pov-

Hari ini aku tak ada jadwal. Begitupun seminggu ke depan. Lalu, sudah ku putuskan untuk tidak terlalu mengambil banyak job. Aku sedang ingin bersantai….

SANTAI! Kata yang sedang aku lakukan, namun hancur tiba-tiba oleh kedatangan hyungku si lidah tajam, kim heechul. Ku lihat dia tergesa-gesa. Aish… mengganggu sekali.

“hyung, kau datang?” sapaku lemas. Aku sedang duduk-duduk di sofa ruang tengah sambil membaca komik one piece milik eunhyuk.

“oi! Donghae! Kau sedang apa?” tanyanya histeris. Astaga! Kenapa hyung seperti kerasukan setan begitu?

“sedang menganggur, apa kau tidak melihatnya?” sahutku malas. Padahal sudah jelas aku membaca komik. Ck! Ku lanjutkan aktifitasku tapi-

“hya! Hyung! Kenapa kau menarikku?” teriakku tiba-tiba saat tangan putih susu heechul hyung menarik lenganku. Komik yang bisa ku baca pun terjatuh.

“kau kan sedang menganggur, jadi kau harus membantuku!” serunya seraya menarik tanganku dengan tenaga super yang entah dari mana.

“hya! hyung! Apa kau tidak lihat apa yang sedang aku lakukan?” protesku.

“kau sedang menganggur kan? Kau bilang seperti itu tadi” katanya telak. Aduuuuh… aku jadi menyesal kenapa mengatakan hal seperti itu. Haaah… tidak ada gunanya melawan heechul hyung saat ini. Akhirnya aku pasrah saja di seret-seret (?) begini.

***

Ternyata hyung membawaku ke apartemen jung noona. Ada apa? Ku pikir hubungan kami dengan jung noona tidak dekat. Apa jangan-jangan hyung…

“hyung,” ujarku takut-takut. “apa kau…” namun heechul hyung segera memotong pembicaraanku.

“jangan berpikir macam-macam Lee donghae! Ini hanya rasa kasih sayang seorang appa kepada anaknya!” bantahnya.

Appa dengan anak? Omo! Apakah anak hyung dengan noona? Andwae?

“hyung… kau-ternyata-selama-ini…” ujarku penuh penekanan pada setiap kata seakan tidak percaya pada fakta ini. Hubungan mereka..

Belum sempat melanjutkan kata-kataku tadi, keluarlah seorang gadis manis dari dalam kamar. Ku amati dia. Benarkah ini anak heechul hyung dan jung noona? Dia terlihat sangat besar untuk anak usia… uhm, 2 atau 3 tahun. aish… apa yang aku pikirkan? Tapi.. hei- dia kan keponakan jung noona yang beberapa hari lalu ia perkenalkan pada kami semua? Olala.

“Uri yeppeo agasshi,” panggil heechul hyung lembut pada keponakan jung noona-aku lupa siapa namanya- membuat aku tersadar dari lamunanku. “aku membawakan guru acting buatmu,kenalkan Lee donghae I bun Choi yongwon, yongie, I bun Lee donghae.” Seraya memperkenalkan kami berdua. Kamipun berjabat tangan.

“nah.. sekarang kau tidak perlu khawatir lagi maslah kesulitan berakting chagi, kau bisa menanyakannya pada donghae-ah, benarkan?” lirik heechul hyung padaku. Hei… sejak kapan aku menjadi guru acting? Aku baru dengar… batinku. Namun lirikan maut heechul hyung membuatku bisu.

yeoja bernama yongwon itu tersenyum kaku. Kenapa? Apa dia tidak suka? Aish… dasar pemilih! Kau meragukan aktingku uri yeppeo agasshi? Cih! Apanya yang yeppeo? Yeoja sombong.

“appa…” panggilnya yang sontak membuatku membelalakan mata. Apa katanya tadi? Appa?

Kulirik heechul hyung tersenyum sambil berkata, “wae chagi? Apa kau keberatan?” tanyanya.

“ani” yeoja itu menggeleng. “tapi ku rasa, appa harus bertanya kesediaan Lee donghae-ssi dulu, apakah
dia mau mengajarkanku? Bukankah tidak baik memaksa-maksa orang? Hm?” argumennya.

Well, penilaianku tentang dirinya meningkat satu. Yang awalnya 5 menjadi enam. Ku ralat, dia bukan yeoja sombong.

“tapi donghae tidak marah padaku!” bela heechul hyung. Ia terlihat seperti anak yang ketahuan mencuri permen namun tak mengaku.

“appa, tapi kau belum bertanya padanya kan?” sahutnya yang mempu membuat heechul hyung terdiam. Haha. Baru kali ini aku melihat ekspresinya begitu. Oke. Nilai yeoja ini bertambah satu lagi. Menjadi 7 tepatnya. Karena… dia bisa menaklukkan heechul hyung yang berlidah tajam.

“aniya yongwon-ssi, aku bersedia. Lagi pula aku sedang tidak ada jadwal” ujarku tiba-tiba saat hyungku menekuk mukanya.

“kau dengar itu kan yong-ah? Huuh…” heechul hyung mulai merajuk seperti anak kecil.

Yongwon mendekatinya, “appa… mianhae, aku yang salah..” pintanya tulus.

Senyum heechul hyung mengembang, “ne, chagi… hehehehe”

Eh tunggu dulu, ada yang harus ku konfirmasi! “hyung, kenapa yongwon-ssi memanggilmu appa?” tanyaku penasaran.

“eh, kalau soal itu…” heechul hyung mulai meceritakan padaku.

***

“Begitulah ceritanya…” tutup heechul hyung, menyelesaikan ceritanya.

Aku hanya mengangguk dan tanpa sengaja aku melihat yongwon tersenyum. Omo! Neomu yeppeo… aku mengakui perkataan heechul hyung tadi. Baiklah… nilainya menjadi 8 sekarang. Aigoo… apalagi yang dapat membuatku kagum dari dirinya?

Entahlah…

Saat memikirkan itu, aku mengedarkan pandanganku. Dimana yeoja itu? Aku hanya melihat heechul hyung memencet-mencet remote tv sembarang.

“hyung, dimana yongwon?” tanyaku.

“di dapur, katanya sebagai ucapan terima kasih, ia akan memasakkan makanan yang enak untuk kita malam ini.” Terangnya.

Aku terkaget-kaget. “memangnya dia bisa memasak?”

Heechul hyung menatapku gusar, “ya! Jangan meragukan kemampuan masak anakku! Ckckck. Yesung dan kyuhyun pernah mencobanya dan mereka ketagihan!” pujinya dengan bangga.

Benarkah? Aish… yeoja ini. Membuatku menaikkan nilainya lagi. Baiklah, ku beri nilai 8,5. Ini yang terakhir. Tidak ada peningkatan lagi.

Beberapa waktu kemudian, berbagai macam makanan sudah tersedia di meja makan. Kimchi jjigae, bulgogi, sup ikan (makanan kesukaanku!), dan tentu saja, semangkuk nasi, dan… makanan apa itu?

“ige… mwoya?” tanyaku.

Yongwon menjawab, “makanan khas Indonesia, tempe goreng” sahutnya asal.

“mwo?” tanyaku lagi. Indonesia? Bukankah itu Negara yang beberapa waktu terakhir kukunjungi bersama member super junior lain saat festival kimchi? Benarkah? Jadi dia dari Indonesia?

“tempeh” jawabnya singkat. Lalu dia mulai memasukkan lauk pauk kemangkuk heechul hyung. “appa… kau mau mencoba apa?” tanyanya.

Heechul hyung terlihat berpikir. “kimchi! Bulgogi! Tempeh! Sup ikan!” sebut heechul hyung yang seingatku menyebut semua lauk yang ada.

“ya hyung! Kenapa tidak langsung menyebut semua?” protesku.

“aish! Terserah aku!” jawabnya tidak mau kalah, mau tidak mau, yongwon mengambilkan semua lauk itu ke mangkuk heechul. Lalu dia menatapku lembut sambil tersenyum. “Donghae-ssi, kau mau yang mana?” tanyanya. Aigoo… aku sungguh tidak kuat menatap senyumnya yang manis itu, namun aku belum menaikkan nilai yeoja ini. Masih tetap 8,5.

“a-aku mau… kimchi, sup ikan dan tempe” pilihku terbata. Lalu dengan cekatan ia mengambilkannya untukku dan aku mengucapkan terima kasih dengan malu-malu.

***

Heechul pov-

Aku dan donghae baru saja kembali ke dorm. Ku lihat ia berjalan kaku. Aneh, seperti robot saja.

“donghae-ah, kau sebaiknya tidur, sepertinya kau lelah..” saranku padanya. Ia masuk kamarnya. Aku masuk ke kamar teuki hyung untuk merebahkan badanku. Ku lihat ia tertidur pulas. Dan, tidak berapa lama aku ikut tertidur.

Zzzzt….

***

Donghae pov-

Sial, bayangan yeoja itu muncul lagi. Baiklah, baiklah aku meyerah! Aku memberimu nilai 9! Puas! Untuk masakanmu yang super lezat itu dan sup ikan super itu! Aish… yeoja itu! Sebaiknya aku tidur dari pada sebentar lagi aku akan menjadi gila…

***

Author pov-

pagi ini yongwon bangun dengan hati senang. Entahlah… mungkin karena ia sudah menemukan orang yang tepat dalam mengajarinya berakting. Dia segera ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Menjalankan kewajibannya lalu pergi membangunkan jung imo. Setelah jung imo bangun, yongwon sudah siap dengan sepatu kedsnya. Dan bersiap-siap untuk jogging di sekeliling daerah apartemennya. Setelah memasang earphone, ia pun berangkat dengan celana olahraga abu muda serta t-shirt putih dengan jaket pink di luarnya. Tak lupa ia menguncir 2 rambutnya agar tidak berantakan.

***

Setelah kira-kira satu jam ber-jogging ria, yongwon kembali ke apartemennya dengan muka memerah dan tubuh berkeringat. Saat pintu lif yang ia masuki hampir menutup, tangan seseorang mencegahnya. Betapa terkejutnya yongwon saat mengetahui tangan itu adalah milik kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi! Annyeong haseyo…” sapanya sambil membungkuk rendah.

“annyeong haseyo…” jawab kyuhyun. Lalu suasana di antara merekapun sunyi. Tak ada percakapan sama sekali. Kyuhyun benci akan hal itu. Maka ia berinisiatif untuk memulai percakapan.

“yongwon-ssi, kau dekat dengan heechul hyung? Bagaimana hubungan kalian?” tanya kyuhyun tanpa memandangi wajah yongwon. 2 detik, 5 detik, tak ada jawaban keluar.

Baiklah… pertanyaanku memang terlalu bersikap pribadi. Mungkin dia tidak ingin menjawabnya dan menganggap aku seorang penguntit. Aish! “mianhamnida yongwon-ssi, aku bukannya ingin menyinggung perasaanmu, maafkanlah kelancanganku ini..” ucapnya tulus.

Kembali, 5 detik tak ada jawaban, kyuhyun menolehkan wajahnya ke yongwon. Omona, ternyata dia….
Aish! Dia malah asyik mendengarkan lagu dengan earphonenya! Karena kesal,kyuhyun membuka paksa earphone dari telinga yongwon. “ya! Jadi kau dari tadi tidak mendengarkanku?” bentaknya.

Yongwon yang kaget tiba-tiba di perlakukan begitu pun ikut sebal, “ya! Cho kyuhyun! Kau kenapa? Memarahiku sembarangan!” bentaknya tak kalah keras.

“kau! Aku dari tadi berbicara padamu, tapi ternyata kau malah tidak mendengarkanku dan asyik dengan earphonemu itu!” jelasnya.

Yongwon melongo. Jadi karena itu?”hahaha…” yeoja itu malah tertawa-tawa.

Kyuhyun yang merasa di tertawakan pun menguncang pundak yongwon menyuruhnya berhenti tertawa. Namun bukannya berhenti, tawanya malah semakin membahana.

“hahaha… ya cho kyuhyun, kau lucu sekali. Aigoo.. adik kecil, kau ngambek?” goda yongwon sambil menahan tawanya.

Namja tampan itu merengut. “aish! Dasar kau noona jelek! Beraninya kau! Aku lebih tua 5 tahun darimu!” protesnya.

Yeoja itu tersenyum, “ne kyuhyun oppa” sahutnya mengiyakan.

Kyuhyun terdiam. Ia tidak menyangka yongwon akan memanggilnya begitu. Itu membuatnya merasa… apa ini? Hei… dia senang dan timbul semburat merah di kedua pipinya.

Belum sempat kyuhyun mengatakan apapun, pintu lift menggeser terbuka dan yongwon mendorong bahunya pelan. “nah… annyeong kyuhyun oppa…” pamitnya seraya tetap dengan nada menggoda.

Kyuhyun terpaku selama beberapa saat. Aish! Yeoja itu! Beraninya mengerjaiku! Awas kau! Batinnya.

***

Yongwon pov-

Aigoo… pegal sekali kakiku. Aku sudah jarang sekali berlari. Aish… kurasa tulangku mulai tak beres. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk membasahi tubuhku yang kepanasan. setelah itu aku pun berangkat ke kampus dengan menggenggam sandwich ayam yang sudah ku siapkan tadi.

Sesampainya di kampus, park yoon hee memanggil-manggilku. Suaranya cukup membuat riuh. Segera kulangkahkan kaki ke tempatnya.

“aish! Kau ini! Bisakah kau tidak menyapaku di depan umum? Aku tidak ingin terlihat berteman denganmu” candaku.

Dia hanya cengengesan, “mian” ucapnya.

“waeyo? Kenapa memanggilku?” tanyaku tanpa basa basi.

“ige… naskah baru. Mr.Zeansmith yang mengeditnya” ujarnya seraya memberikan setumpuk kertas yang terjilid rapi padaku. “main castnya tetap sama, namun ceritanya agak sedikit mengalami improvisasi” lanjutnya.

Aku membuka satu demi satu halaman. Dia terlihat senang. “ada adegan ciuman antara pemeran utama pria dan wanitanya” tuturnya singkat, padat, dan jelas yang sukses membuatku berteriak beberapa oktaf.

“MWORAGO?” ku lihat dia langsung menutup telinganya dengan tangan kecilnya.

Dia memukulku. “kau yeoja namun bersuara baritone! Menakutkan sekali!” kritiknya.

Aku melongo tak percaya, “omo… kisseu? aku bahkan belum pernah berciuman sama sekali!” teriakku frustasi. “aku tidak ingin ciuman pertamaku di ambil oleh orang yang salah! Andwae!” protesku.

“kau kan tidak harus benar-benar menciumnya. Yang penting penonton tahu bahwa kau menciumnya meskipun sebetulnya tidak” tawarnya.

“maksudmu?” tanyaku kurang mengerti.

Ia menjitak kepalaku. “yeoja bodoh! Kau hanya perlu memiringkan wajahmu seperti ini, atau menunduk 45%, begini, itu membuat sudut pandang penonton tidak sepenuhnya dapat melihat siuletmu di atas panggung, sehingga itu akan dengan mudah kau membuat adegan seolah kau sedang berciuman. Begitu…” jelasnya panjang lebar.

Aku hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh. Sialan!

Ku lihat siulet Mrs.Walter berjalan menuju kelas. Aku dan yoonhee pun segera menyusulnya masuk kelas.

***

Aku sudah tiba di apartemen 15 menit yang lalu dan sekarang aku menemukan apartemenku yang seperti kapal pecah. Aigoo… apa yang telah di lakukan imo? Bukankah kemarin dia yang mewanti-wanti agar tidak merusak perabotan? Sungguh keterlaluan.

Ke dengar bel apartemenku berbunyi. Itu pasti imo. Aish! Apa perlu memencet bel, padahal ia tahu password-nya? Aku berjalan tergesa ke arah pintu dan saat pintu terbuka, aku langsung menyemprot(?) si-pemencet-bel dengan sumpah serapah dalam bahasa Indonesia!

“ya! Imo sialan! Kau apakan apartemen kita? Kau membu-“ aku terdiam. Saat ku lihat orang yang di depanku bukanlah imo. Aish… dia pasti mengira aku sudah gila, meneriakinya saat sedang bertamu-meskipun dia tidak mengerti bahasa Indonesia.

“neo… gwenchana?” tanyanya takut-takut.

“nan gwenchana, tapi, ah sudahlah… ayo masuk” tawarku pasrah. Dia terlihat terkejut melihat keadaan apartemenku. Dia tambah melihatku dengan takut-takut. Mungkin dia takut aku akan menyerangnya dengan perabotan yang berserakan ini.

Aku pun angkat bicara, “tenang saja, aku tidak akan melemparmu. Ini semua kelakuan imo, dia pasti sedang galau (bahasanya, emang di korea galau apaan ya?)” jelasku. Dia menganggukkan kepalanya dan perlahan ia mulai tersenyum.

“baiklah, hari ini aku akan membantumu membereskan perabotanmu yang berserakan ini,” putusnya sambil memunguti barang-barang yang ada di lantai.

“ani, ani, kau kan tamuku, tidak baik seperti ini. Lebih baik kau duduk di sofa dan biarkan aku mengerjakannya dulu” tolakku halus. “ kau duduklah donghae-ssi,”

Awalnya dia duduk dengan tenang. Namun lama-kelamaan dia pun tak tahan dan turut membantuku mengerjakannya. Setelah semua rapi, aku tinggal mengepel sedikit dan -foila!- apartemenku sudah rapi kembali.

“gamsahamnida donghae-ssi,” ucapku tulus.

***

Donghae pov-

Hari ini aku berencana akan memulai mengajarkan acting pada yongwon. Kurasa, ia sudah pulang kuliah. Saat aku memencet bel apartemennya, terdengar derap kaki yang terburu-buru dari dalam dan seketika pintu terbuka.

“ya! Imo sialan! Kau apakan apartemen kita? Kau membu-“ dia terdiam. Sepertinya dia sudah menyadari keberadaanku. Tapi, aku takut padanya, tiba-tiba meneriakiku, apa salahku? Dan… bahasa apa tadi?

“neo… gwenchana?” tanyaku takut-takut.

“nan gwenchana, tapi, ah sudahlah… ayo masuk” tawarnya pasrah. aku terkejut melihat keadaan apartemennya. aku melihatnya dengan takut-takut. Apakah suasana hatinya sedang sangat buruk sampai-sampai membuang semua perabotan ke lantai seperrti ini?

dia pun angkat bicara, “tenang saja, aku tidak akan melemparmu. Ini semua kelakuan imo, dia pasti sedang galau” jelasnya. aku menganggukkan kepala dan perlahan mulai tersenyum.

“baiklah, hari ini aku akan membantumu membereskan perabotanmu yang berserakan ini,” putusku sambil memunguti barang-barang yang ada di lantai.

“ani, ani, kau kan tamuku, tidak baik seperti ini. Lebih baik kau duduk di sofa dan biarkan aku mengerjakannya dulu” tolaknya halus. “ kau duduklah donghae-ssi,”

Awalnya aku duduk dengan tenang. Namun lama-kelamaan aku pun tak tahan dan turut membantu mengerjakannya. Setelah semua rapi, dia tinggal mengepel sedikit dan apartemennya sudah rapi kembali.

“gamsahamnida donghae-ssi,” ucapnya.

“jangan panggil aku dengan itu lagi, panggil saja aku oppa,” pintaku.

“ne.. oppa,” kulihat dia tersenyum. aigoo.. aku suka sekali senyumannya. Hei… kenapa, dengan posisi begini, aku dan dia membawa sapu dan alat pel, membersihkan ruangan, saling mengobrol dan tersenyum. Aku merasa seperti kami ini…

Tiba-tiba pintu mendadak terbuka. Kulihat jung noona datang dengan sekantung besar keripik. “aigoo… kalian yang membersihkannya? Aish… aku jadi iri,” langkahnya terlihat sempoyongan. Kurasa ia sedikit mabuk. Omongannya pun aneh, iri karena melihat orang merapikan tempat? Aneh!

” kalian terlihat seperti pengantin baru saja” lanjut noona. “membersihkan apartemen bersama, mengobrol, dan saling tersenyum”. Omo! Apa katanya barusan? Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan?

“ya! Jangan memandangiku begitu, aku tahu apa yang kalian rasakan,” lanjutnya. Aigoo… dia tidak sedang membaca pikiranku kan?

“aigoo, aku sudah sangat pusing saja, hahaha.” Katanya lalu sedetik kemudian ambruk di lantai tak sadarkan diri. Oh… baiklah dia memang mabuk. Omongannya tadi hanya meracau tak jelas.

Ku lihat yongwon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu aku membantu yongwon menggotong jung noona ke dalam kamarnya.

Setelah menyelimuti tubuh jung noona, yongwon menunduk dan berbisik cukup jelas di telinga noona, “hei imo, aku tidak akan menyapamu selama seminggu ke depan. Lihat saja, kau mabuk, aku tidak akan memberimu makan!” ancamnya. Aku tersenyum geli melihatnya.

Kami berdua duduk di sofa sambil merenggangkan badan. Aigoo.. pegal juga rasanya membantu yongwon beres-beres. Hitung-hitung olahraga.

“aigoo.. himdeureo jukgetda! (ya ampun capek sekali sampai ingin mati)” sahutku.

Kulihat yongwon melirikku. Saat aku meliriknya, dia melengos segera.

“uhm… donghae-ani, oppa, soal…” kulihat dia meremas tangannya. Kelihatannya dia gugup. Aigoo, kenapa aku ikut gugup?

“oppa, perkataan imo tadi jangan di ambil hati. Imo memang seperti itu,” lanjutnya.

Aku mengerutkan kening. “soal apa?” aku berpikir sejenak. “oh… soal pengantin baru itu…”

BLUSH!

Muka yongwon memerah seketika. Aigoo.. pipinya jadi seperti tomat, manis sekali. Dia mengangguk pelan.

“wae?” aku berniat menggodanya.

“ Apa kau tidak suka terlihat seperti itu? Apakah bersuamikan aku terlihat begitu buruk untukmu?” kataku sambil pura-pura merujuk.

Dia terlihat kelimpungan, “ani,ani.. bukan begitu oppa, aku suka bersuamikan ka-“ ucapannya terpotong.
Apa? Apa? APA? Apa yang akan di katakannya tadi? Apakah aku suka bersuamikan kau. Kau itu aku? Begitu? Dan sekarang jantungku berdetak kencang. Aneh… mukaku memerah.

Tbc…
GAJE ALEEEEEEEEEEEEERT! KEKEKE~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s