FF SEVEN MYTH OF LOVE PART 2 (END)

TITLE : SEVEN MYTH OF LOVE (PART 2 OF 2)
AUTHOR: Nila
LINK FB: http://www.facebook.com/nila.siiuletnangka
TYPE: TWOSHOT
GENRE: Romance, Fantasy, Comedy
RATING: PG 15
CAST:
1. Kim Jongwoon
2. Choi Yongwon
3. Kim ryeowook
4. Park rae ah
Inget nggak sama FF author yang your smile is mine? Hoho. Kalo inget ya syukur, kalo nggak ya… apa ya? Sudahlah baca aja ne?
HAPPY READING….

PROLOGUE
Kim jongwoon-
Kau yeoja babo! Babo! Babo! Babo! Saranghae! Kau dengar? S-A-R-A-N-G-H-A-E!
Choi yongwon-
Yongwon-ah! Fighting!

Di part sebelumnya…
Kang seonsaengnim mulai mengangguk-angguk. “Kalau begitu, saya akan mengundang seorang siswi untuk mensukseskan acara ini. saya akan memperkenalkannya pada anda, dan mungkin kita bisa bekerja sama. Mungkin sebentar lagi dia akan dat-“
TOK, TOK, TOK. Terdengar suara pintu terketuk. Lalu masuklah seorang yeoja yang membuat mataku sukses terbuka lebar. Dia kan….
Kang seonsaengnim tersenyum menyambutnya. “nah,.. nona Choi, ini adalah tuan Kim yang saya ceritakan waktu itu,…”
Yeoja itu terbelalak. “jadi kau….”
PART 2
Yongwon pov-
Aku terbelalak. “jadi kau…” lututku lemas dan aku kehilangan suaraku. Bagaimana tidak. Namja di depanku adalah kim jongwoon. Dia namja yang selalu kusebut nappeun namja. Namja tengil yang suka seenaknya. Dan dia adalah…. Kepala sekolah disini!
Kang seonsaengnim paham apa yang terjadi. Sehingga dengan lugas dia menjelaskan. “duduklah dulu nona choi. Saya akan menjelaskan semuanya.” Aku pun duduk di ujung sofa yang letaknya berhadapan langsung dengan kursi kepala sekolah. Aku melirik kim jongwoon-kepala sekolahku-sekilas. Dia memakai kacamata berbingkai coklat. Kenapa disaat seperti ini dia terlihat sangat mempesona?
“begini nona choi, tuan muda kami, tuan Kim merupakan cucu dari pemilik yayasan sekolah ini. jadi dia menggantikan posisi direktur kim saat ini. karena direktur kim lebih memfokuskan dirinya pada perusahaan. Dan tentu saja ini adalah rahasia. Jadi, saya harap anda tidak akan membocorkan hal ini kepada siswa lainnya.”
“ta-tapi… kenapa anda memberitahu saya seonsaengnim? Selama ini saya mengira bahwa andalah kepala sekolah saya…sedangkan tuan kim jongwoon adalah pemilik yayasan ini…”
Dia mengangguk-angguk. “memang. Memang dibuat seperti itu. namun pada dasarnya aku hanya seorang wakil kepala sekolah. Jadi, untuk perayaan ulang tahun sekolah kali ini, saya mohon bantuannya.” Ucap kang seonsaengnim sambil membungkuk. Akupun segera membungkukkan badanku.
Lalu, kang seonsaengnim tiba-tiba berdiri. “kalau begitu, saya permisi dulu. Ada hal yang harus saya lakukan. Permisi tuan kim dan nona choi…” lalu dia melangkah pergi. Saat pintu menutup, aku menatap namja di depanku dengan tatapan takjub.
“wae? Aku tampan? Mempesona? Kaya?” sahutnya bangga yang membuatku tersedak.
“nappeun namja! Kau memang sangat percaya diri. Ah ani. Sajangnim.” Ralatku.
“jangan memanggilku seperti itu. aku jadi terlihat tua. Oh ya. Jika diluar, panggil aku yesung. Nama samaranku kim yesung. Arra?” perintahnya. Membuatku sebal. Tapi tunggu. Apa katanya tadi? Yesung? Kenapa nama itu begitu familiar di otakku?
“ah! Jadi kau yesung yang terkenal sadis itu?” tanyaku tidak percaya. Dia mendelik lalu mengangguk.
“wae? Kau takut padaku?” desisnya mengerikan. Aku menggeleng. “takut kenapa? Selama aku bersamamu kau tidak terlihat sadis. Kau itu… lebih tepatnya menjengkelkan dan cerewet.”
“dan kau dweji babo!” balasnya. Mwo? Dweji?
“ya! Dweji? Apa maksudmu?” protesku.
“kurasa kau cukup tahu apa maksud ucapanku, mengingat porsi makanmu sudah seperti dweji” terangnya.
Huwaaa… aku ingin mencincang namja ini menjadi potongan-potongan kecil. Tapi aku ingat bahwa dia adalah kepala sekolah. Tapi adakah kepala sekolah semenyebalkan dia? Aish…
***
Yesung pov-
Aku melihatnya menekuk-nekuk wajahnya kesal. Hei-kau tahu? Dengan muka begitu kau akan tambah jelek. Yeoja ini…
“tadi… siapa namamu?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.
Dia menjawab seadanya. “choi yongwon,” membuatku ikut kesal.
“choi yongwon-ssi, kau ingin keluar dari sekolah ini?!” tanyaku sengit. Dia jadi tambah kesal. “jeosonghamnida sajangnim. Choi yongwon imnida.” Ujarnya sambil lalu.
“bagus. Bagus. Lalu, apa ide yang dapat kau berikan untuk perayaan ulang tahun sekolah tahun ini?” tagihku. Dia terlihat langsung bersemangat. “bagaimana kalau kita mengadakan pentas seni yang didalamnya ada-“ aku memotongnya. “aku sudah mendengar hal itu dari tuan kang.”
“geurae… kalau begitu aku menambahkan dengan bazaar. Jadi, sekumpulan siswa akan mendirikan stand-stand yang menyediakan makanan, barang-barang kerajinan, baju, bahkan tanaman. Disana kita juga dapat mengundang siswa dari sekolah lain guna memeriahkan pensi ini, eotthe?” paparnya.
Aku berpikir. Siswa sekolah lain? Ah… semoga saja tidak terjadi apa-apa. Melihat wajah yongwon yang berbinar-binar seperti ini, aku jadi tidak tega menolaknya. “menarik….” Kataku tepat dimanik matanya. Kata menarik yang kuucapkan sebenarnya ambigu. Menarik untuk pensinya dan menarik untuk yongwon. Aish… berpikir apa aku ini. “kalau begitu aku tugaskan kau menjadi ketua panitia. Kau mau?” tawarku.
dia terus memandangku. Membuatku jengah. Aku mengibaskan tanganku didepan wajahnya. “eh-oh! Ne sajangnim. Kalau begitu, saya akan membentuk kepanitiaan dan segera mengajukan proposal. Permisi..” pamitnya. Kenapa dia tiba-tiba gugup seperti itu? aneh!
***
Yongwon pov-
Aku langsung berlari menjauhi ruang kepala sekolah itu. aku meremas dada kiriku. Jantungku… jantungku terpompa cepat saat dia mengatakan menarik. Hei- menarik itu untuk pensi yang akan di adakan. Bukan untukmu yongwon… eommayaaa sadarlah! Aku segera berlari ke toilet untuk membasuh mukaku. Sadarlah!
Saat aku merasa jantungku sudah tenang kembali, aku keluar dari toilet. Aku melihat ryeowook sedang menyenderkan punggung digerbang sekolah. Ada apa? Kenapa dia tak pulang? Saat aku hampir memanggil namanya, aku melihat ryeowook mengangkat kepalanya dan berkata, “hyung!” panggilnya pada seseorang. Aku mengalihkan pandanganku menuju namja yang dipanggil hyung itu. omona! Itu kan…
“yesung hyung.” Sapanya lagi. Aku segera menyembunyikan diri dibelik tembok. Aku tak tahu mengapa aku harus bersembunyi tapi entahlah. Tubuhku bergerak sendiri. “hyung. Hyung. Hyung….” Panggil ryeowook dengan tampang memelas. Yesung hanya menatapnya tajam. “nuguya?” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya dengan nada datar.
“hyung jebal. Jangan begini terus padaku. Aku lelah… 5 tahun sudah kita seperti ini. apa kau tak merindukanku? Jeongmal bogoshipo hyung…” kata ryeowook memelas sehingga aku iba melihatnya. Ryeowook terlihat hampir menangis..
Yesung terdiam. Ryeowook kemudia berlutut di hadapan yesung. Melihat itu semua sangat menyakitkan. Tanpa terasa aku menangis.
“minggir!” yesung menendang tubuh ryeowook ke samping. “kau menghalangi jalanku!” seraya terus berjalan.
“apa kau masih menyalahkanku atas kejadian itu? hyung… mianhae, tapi sekuat apapun aku berusaha, aku tidak akan dapat mengembalikan mereka. Itu sudah suratan takdir….” Lirih ryeowook.
Yesung menatap lurus kedepan dengan nanar. Dia kembali mengingat kejadian yang sudah lama ingin dilupakannya.
FLASHBACK
Terlihat 2 namja yang seumuran sedang bermain-main di halaman rumah. Ryeowook dan jongjin sedang bermain perang-perangan. Mereka memakai kostum lengkap dengan sepatu dan senjata. Mereka tertawa-tawa dan berlari.
Jongjin terlihat keluar dari halaman menuju jalan raya. “ya! Jongjin-ah! Eomma melarang kita untuk bermain kesana!” teriak ryeowook mengingatkan.
“ya… wookie-ah, kau sudah kelas 6, bagaimana bisa kau sepenakut itu?” ejek jongjin.
“bukan begitu! Hanya saja itu jalan raya!” teriaknya kembali.
“bilang saja kau takut aku akan mengalahkanmu. Dasar yeoja!” ejek jongjin.
“aku bukan yeoja!” bantah ryeowook.
“kau kan suka sekali memasak. Lebih baik kau jadi koki saja. Lihatlah, kostum tentaramu saja kebesaran. Bagaimana jika nanti kau akan menjalani wajib militer?”
“ya! Jangan lari kau!” ryeowook mengejar jongjin yang berlari semakin jauh. Berarti semakin masuk kebadan jalan. Yesung yang berada diujung jalan melihat mereka sedang bertengkar. “mereka mulai lagi…” pikir yesung. Ia segera melangkahkan kaki menuju kedua namdongsaengnya itu. namun tiba-tiba, dia menabrak jakeunabeojinya alias ryeowook appa.
“jakeunabeoji! Apa yang kau bawa?” tanyaku saat melihat kantung belanjaan yang ada ditangannya.
“oh… ige daging sapi. Nanti abeoji dan eommamu akan datang untuk barbeque di rumah. Maka dari itu kau disuruh pulang kemari” jelas ryeowook appa pada yesung. Yesung hanya mengangguk.
Lalu dia dan ryeowook appa berjalan beriringan. Saat melihat mobil didepannya melintas, “ah. Bukankah itu mobil abeoji?” tanya yesung.
“ne. mereka sudah datang rupanya. Kajja!” ajak ryeowook appa.
Jongjin yang melihat kedatangan abeoji dan eommanya segera berlari menyambut. Namun, ditingkungan dekat rumah ryeowook, sebuah truk berjalan dengan kecepatan tinggi. Melihat ada namja kecil yang sedang berlari ditengah jalan, supir truk membanting stir ke kanan dan berbenturan dengan mobil yesung abeoji. Karena kalah besar, mobil itu terpelanting dan terbalik beberapa meter hingga hampir mengenai ryeowook dan jongjin. Ryeowook apa langsung berlari menuju keduanya dan mencoba menyelamatkan mereka. Namun naas. Ryeowook appa terkena pecahan kaca mobil tepat di leher dan merobek nadi ditangannya. Jongjin kepalanya terbentur aspal yang keras dan mengeluarkan banyak darah. Ryeowook pingsan. Mukanya memar dan kakinya patah. Sedangkan abeoji dan eomma… badan mereka masih didalam mobil yang sekarang sudah tak berbentuk. Yesung hanya terdiam karena shock. Dari sudut matanya mengalir air mata. Tak henti-hentinya. Ryeowook eomma yang baru saja keluar dari rumah berteriak histeris melihat hampir seluruh keluarganya berlumuran darah. ia langsung menuju anaknya. Orang-orang berkumpul dan memanggil ambulance serta polisi. Lalu yesung hanya dapat menangis dalam diam.
FLASHBACK END
***
Bugh… bugh… bugh! Yesung menghantam rahang ryeowook dengan kasar menimbulkan memar dan darah. aku sudah tak tahan lagi. Aku langsung berlari menuju mereka dan segera membanting yesung. “ya! Apa-apaan kau?!” teriakku.
Yesung hanya melengos dan pergi. Aku membantu ryeowook berdiri dan memapahnya ke ruang kelas terdekat. Lalu berlari ke uks untuk mengambil kotak P3K. nappeun namja. Apa yang dia pikirkan sih?
Aku membersihkan luka ryeowook dengan hati-hati. Dia meringis sedikit saat terkena alcohol. “mianhae.. tahanlah…” ucapku. Setelah selesai, dia langsung berdiri dari tempatnya.
“gomawo yongwon-ah…” ucapnya.
“cheonmayo ryeowook-ah…” balasku sambil tersenyum. Saat aku hendak berlari menuju UKS hendak mengembalikan obat, dia memanggilku. “yongwon-ah… apa kau… mendengar semuanya?” tanyanya.
Eottokhe? Haruskah aku berbicara yang sebenarnya? “aku… aku mendengar kau memanggil yesung dengan sebutan hyung…” jawabku lemah.
Dia tersenyum. “kemarilah…” dia menepuk kursi di sampingnya, menyuruhku duduk. “aku tahu kau pasti akan sangat penasaran sehingga kau tidak akan tidur nyenyak nanti malam. Aku mengenalmu yongwon-ah… dan-kau juga sahabatku. Aku akan memberitahu kau semuanya…” tuturnya.
Aku hanya diam dan mulai mendengarkan. Dia menghela napas dan mulai bercerita…
***
Ryeowook pov-
Haaah… leganya aku sudah menceritakan bebanku pada seseorang. Gomawo yongwon-ah…
Aku menceritakan bahwa aku adalah saudara sepupu yesung hyung. Appaku adalah adik dari abeojinya. Dia mempunyai namdongsaeng yang seumuran denganku. Namanya kim jongjin. Ngomong-ngomong, nama asli yesung hyung adalah kim jongwoon. Namun orang biasa memanggilnya yesung. Suaranya sangat indah dan dia adalah salah satu murid pintar disekolahnya. Aku bisa memainkan alat music seperti piano. Jadi aku sering menemani yesung hyung bernyanyi. Aku sangat menyukai saat itu. kami bertiga dimasukkan ke sekolah music yang sama. Sebenarnya hanya kursus music saja. Namun karena uri halabeoji adalah pemiliknya, maka kami menyebutnya sekolah. Jongjin sering bermain-main saat kursus. Jadi hanya aku dan yesung hyung yang memiliki keterampilan dalam bermusik. Aku menjadi semakin dekat dengan yesung hyung. Aku jadi ingin memonopoli yesung hyung sendiri. Membuatku sering bertengkar dengan jongjin.
Aku kembali bersedih mengingat hal itu. setelah kecelakaan naas itu, yesung hyung jadi pendiam, dingin, dan terbilang sadis. Saat dirumah sakit, aku mengalami koma selama 2 hari. Aku melihat mata halabeoji memerah, yang berarti dia menangis terus. Hal pertama yang kutanyakan pada eomma dan halabeoji adalah yesung hyung. Mereka mengatakan yesung hyung terus-terusan mengunci diri didalam kamar. Halabeoji menyuruhku membujuknya. namun apa yang kudapat? Dia malah mengusirku dari kamarnya. Aku bisa memakluminya. Dia baru saja kehilangan seluruh anggota keluarga kecilnya. Akupun kehilangan appa. Namun aku tetap tegar.
Setelah kurasa sudah cukup waktu untuk yesung hyung meratapi nasibnya, aku menjenguknya dirumah halabeoji. Memang, setelah kejadian itu, yesung hyung akan tinggal bersama halabeoji. Aku membawakan makanan kesukaan yesung hyung yang ku masak sendiri. Aku tahu ia sangat menyukai masakanku. Dan sekarang, aku merindukannya. Amat sangat.
Kuketuk pintu kamar yesung hyung. Lalu saat pintu terbuka, aku langsung tersenyum. “annyeonghaseo hyung, oraegamanieyo! (hai hyung. Long time no see). Eottokhe jinaesseoyo? (bagaimana kabarmu?)” sapaku bersahabat.
Namun balasan yang kuterima hanya perkataan datar. “nuguya?” tanyanya tanpa ekspresi. Aku mematung. Apa hyung tidak ingat padaku?
“hyung… kau… tidak ingat padaku? Aku wookie-“ aku mencoba mengingatkannya namun dia memotong pembicaraanku. “jangan kau sebut nama itu. nama itu sudah tidak ada lagi dalam kehidupanku.” Dia lalu menutup pintu kamarnya kasar dihadapanku.
Eottokhe? Hyungku tidak mau mengingatku lagi. Apa salahku benar-benar buruk? Ya Tuhan… kenapa kau tak ambil nyawaku waktu itu? sekarang aku harus kehilangan hyungku. Haruskah aku kehilangan orang yang berharga bagiku untu kedua kalinya? Tidak puaskah kau mengambil appaku? Aku menatap pintu kamar hyung lemah. Aku berbisik lemah, “geon-gang josimhaseyo hyung…(jagalah kesehatanmu hyung…)” lalu aku melangkah pergi. Tanpa pernah tahu, orang itu membalas perkataanku lemah, “mianhae wookie-ah…”
Sejak saat itu, jika bertemu denganku, hyung pasti hanya mengatakan ‘nuguya?’ dan aku menjadi terbiasa memanggilnya tuan kim. Mianhae hyung… aku yang membuatmu seperti ini…
***
Author pov-
Saat tiba dirumahnya, yongwon terpekur mengingat kisah yang diceritakan ryeowook tadi. Ia tahu alasan yesung yang dulunya adalah namja populer karena suara emas serta kepintarannya, menjadi namja populer karena perilaku sadisnya. Entah mengapa dia merasa kasihan pada yesung. Cobaan seberat ini terjadi padanya diwaktu kecil. Namun, yesung tidak bisa menyalahkan ryeowook seolah-olah ini adalah kesalahannya. Ini bukan salah siapa-siapa. Tuhan telah mentakdirkan ini semua, jika dia terus menyalahkan ryeowook, berarti dia menentang takdir Tuhan. Memang dia tak bisa disalahkan. Tapi sikapnya yang seperti itu hanya membuatnya menjadi seorang pengecut.
‘lihat saja kim jongwoon sajangnim. Aku akan membuatmu menyesal membuat sahabatku babak belur’. Yongwon tersenyum. Lalu mulai tertidur…
Dilain tempat, seorang namja terlihat tengah berbincang dengan sekumpulan namja yang berbadan kekar dan bertampang sadis.
“eottokhe? Kalian bersedia?” tanya namja itu.
Seseorang yang terlihat seperti ketua geng itu menyahut. “mulon imnida. Serahkan saja pada kami. Kau tinggal memberitahu tempat dan waktunya.”
Lalu namja itu tersenyum dan menjabat tangan ketua geng. “senang bekerja sama dengan anda.”
***
Sudah seminggu ini yongwon tak bertemu dengan yesung. Kemana namja itu? cih! Jangan mentang-mentang dia kepala sekolah jadi dia seenaknya saja bolos sekolah! Lihat saja, jika yongwon menemukannya, yongwon akan membantingnya dari lantai 3. Aish… nappeun namja!
“eommayaaaa! Aku sebal!” teriak yongwon dari atap. Dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah tertidur lelap dibangku pojok atap.
Seketika orang itu bangun dan berteriak. “ya! Bisakah kau diam? Aku mecoba tidur disini. Aish… dimana-mana orang-orang hanya dapat berteriak saja. Dimana tempat tenang disini?” ocehnya.
Yongwon melihat namja didepannya sebal. “nappeun yesung! Kau! Kau kemana saja? Aku mencarimu!”
Yesung mengerutkan alis. “wae? Kau merindukanku? Dan-untuk apa aku harus memberitahumu aku kemana. Kau kan bukan yeojachinguku.” Tukasnya dingin
Yongwon terlihat gelagapan. “a-ani! Aku hanya ingin membicarakan tentang….tentang pentas seni itu!” jawabnya asal. “ah! Bagaimana kalau kau ikut? Kudengar kau mempunyai suara yang indah. Bagaimana kalau sajangnim menyumbangkan sebuah lagu? Pasti akan sang-“
“aku tidak akan pernah bernyanyi lagi!” lalu yesung melenggang pergi meninggalkan yongwon sendiri. Ia kembali kesal. Nappeun namja!
***
Yesung pov-
Yeoja babo! Dweji! Haruskah ia mengatakan hal itu? aku sudah tidak bernyanyi dan-aku tidak ingin bernyanyi. Bernyanyi hanya akan membuatku mengingat namja sialan itu.
Aish… menyebalkan! Aku segera melangkahkan kakiku pulang karena bel telah berbunyi. Hari ini aku sangat malas untuk bekerja dan aku hanya ingin tidur. Tapi nampaknya keputusanku salah. Aku melihat yeoja itu dijemput oleh namjachingunya. Namja yang fotonya kutemukan didompet yongwon. Lalu sedetik kemudian, aku melihat tangan yongwon melingkar sempurna lengan namja itu. darahku mendidih. Mengapa aku tidak suka melihat namja itu bersama yongwon? Kuputuskan untuk berjalan sedikit cepat saat melintas didepan mereka. Yongwon terlihat sedikit terkejut dan berlari mengejarku.
“yesung sunbae. Yesung sunbae!” dia mencoba mesejajarkan langkahnya dengan langkahku.
Aku berbalik. “wae?” tanyaku singkat.
“ah… soal itu… aku, aku…” dia terlihat gugup. Apa yang ingin dibicarakannya? Aku menunggunya dengan cemas.
“bisakah kau memaafkan ryeowook? Dia terlihat sangat menderita.” Lanjutnya. Hah… ternyata soal namja sialan itu.
“wae? Apa kau mencintainya? Yeoja busuk. Padahal kau sudah mempunyai namjachingu kaya yang sudah menjadi budakmu. Lalu kau juga mendekati ryeowook dan dia menyuruhmu untuk menjilatku? Dasar yeoja murahan!” aku mendorong tubuh yongwon yang terbelalak dengan ucapanku tadi.
Seketika tubuhnya tersungkur dan seorang namja berlari menuju tempat kami dan membantunya bangun. “gwaenchana yongie?”
Yongie? Bagus. Nama sayang darinya yongie, begitu? Aku tambah kesal.
Namja itu terlihat marah padaku. Dia mendesis kesal. “ya! Apa-apaan kau? Namja pengecut. Beraninya menyakiti yeoja. Kau apakan yeo-“
Aku segera memotng ucapannya. “sudahlah… sebaiknya cepat kau bawa pergi yeojachingumu itu. aku muak melihat kalian berdua.”
Dia menatapku tak percaya. “yeojachingu? Apa maksudmu?” tukasnya.
“bukankah kalian berpacaran? Arra, arra… aku pergi.”
“kim jongwoon…” desis namja itu dengan tangan terkepal keras. Namun yongwon langsung menggengam tangan itu. “oppa, kita pulang…” ajaknya.
Aku melengos. Lalu aku melangkahkan kakiku pergi dari sana. Aku tak mau hatiku lebih sakit lagi. Aku tak tahu sejak kapan aku merasa hatiku sakit saat melihat yeoja itu dekat dengan namja lain. Sakit…
***
Sebulan sudah berlalu dan sekarang disinilah aku. Didepan panggung besar tempat diadakannya mini konser untuk perayaan ulang tahun sekolah. Ini tengah malam dan aku masih disini. Aku memperhatikan dekorasi dan semua persiapan. Saat aku menaiki panggung, aku menatap microphone didepanku. Kenangan saat aku bersama wookie melayang. Dimana saat aku bernyanyi bersamanya, saat dia mengiringiku bernyanyi dengan permainan pianonya, saat aku mengirinya bernyanyi dengan permainan gitarku. Kenapa disaat seperti ini aku malah ingin bernyanyi? Menyanyikan lagu kenangan kami, YOUR EYES…
Aku melangkah pelan menuju microphone dan meraihnya. Mataku terpenjam saat ingatanku terbang ke masa lalu. Dimana aku yang notabenenya siswa sekolah menengah pertama, mulai memberanikan bernyanyi didepan teman-teman dan para guru. Saat itu, adalah saat terbaik. Saat semua orang mendengarkan perasaanku yang kutuangkan lewat lagu. Aku menghela napas. Aku akui, aku merindukan saat-saat itu. namun keadaan tak mengizinkanku. Eottokhe? Abeoji, eomma, Jongjin-ah, jakeunabeoji, eottokhaji? Aku bingung…
Untuk kali ini saja, aku mengalah. Aku memang benar-benar merindukan bernyanyi. Aku mengambil gitar dan mulai memetiknya. Menyesuaikan nada gitar dengan suaraku. Lalu aku mulai bernyanyi.
Fly me to the moon,

and Let me play among the stars.

Let me see what spring is like on Jupiter and Mars.

In other words, hold my hand!

In other words, darling, kiss me.
Fill my heart with song,

And let me sing forever more.

You are all I long for, all I worship and adore.

In other words, please be true!

In other words, I love you!

Fill my heart with song,

Let me sing forever more.

You are all I long for, all I worship and adore.

In other words, please be true!

In other words, In other words, I love you!
aku mengakhiri nyanyianku dengan desahan panjang. Wookie pernah menyanyikan lagu ini diiringi dengan permainan pianonya. Aku mengakui, bahwa lagu ini memang lebih bagus bila diiringi oleh permainan piano.
Haaah… lagi-lagi aku memikirkannya. Apa memang ini saatnya untuk menyerah? Jongjin-ah… apa yang harus hyung lakukan? Hyung sudah berusaha sejauh ini. eottokhe?
***
Author pov-
Ryeowook mengirimi yongwon pesan. Isi pesannya mengatakan bahwa ada hal gawat yang terjadi disekolah. Jangan katakana ini tentang pensi yang sudah dia persiapkan. Maka tanpa memperdulikan bahwa ini sudah tengah malam, yongwon berlari menuju sekolahnya dengan-masih memakai piyama yang ditutupi dengan sweater tipis.
“hosh… hosh… aish… dimana namja itu? apa dia ada didalam sekolah?” tebak yongwon sambil mengatur napasnya.
Ia kemudian masuk ke dalam area sekolah melewati jalan belakang yang diberitahu yesung. Setelah sampai dihalaman, ia tidak melihat sesuatu yang aneh. Dekorasi pensinya masih baik-baik saja. Saat dia ingin berbalik, handphonenya kembali bergetar.
‘jangan pulang dulu atau kau akan menyesal seumur hidup. Duduklah dibangku depan ruang uks. Dan kau akan melihat sesuatu yang menarik’ baca yongwon. Ryeowook… namja itu sedang mempermainkan dirinya ya? Namun yongwon tetap mengikuti arahan ryeowook untuk duduk dibangku. Lalu beberapa saat kemudian terdengar suara petikan gitar. Merdu-hei… sangat. Siapa yang memainkan gitar ditengah malam begini? Iapun melangkahkan kakinya ke sumber suara. Ia mendengar suara namja mulai bernyanyi. Indah… hei! Ini lagu favoritnya! Fly me to the moon. Siapapun namja ini ia harus tahu. Suara namja ini begitu indah… membuatnya terbuai hingga akhir lagu. Yongwon kemudian memajukan langkahnya. Tepat didepan panggung ia berdiri. Dan dia melihat wajah namja yang tadi menyanyikan lagu itu. kembali ia terpana. Didepannya ada namja sadis yang setiap hari selalu mengejeknya. “yesung sunbae…” bisiknya. Namun yesung tidak mendengarkannya. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah berapa lama mereka disana. Namun, saat yesung bergerak menjauh, yongwon berlari sambil mendekap jantungnya.
“omona! Jantungku… jantungku…” pekiknya pelan.
***
Tiba juga hari perayaan ulang tahun sekolah digelar. Banyak stand-stand yang berdiri berjejer. Ada yang menjual aksesoris, makanan, baju, barang kerajinan, dan lain-lain.
Sementara dipanggung sudah tampil beberapa band dari siswa sekolah ini. terlihat yongwon sangat sibuk dengan tugasnya sebagai ketua panitia. Dia tampak mengecek kesetiap sudut untuk memeriksa apakah ada yang kurang atau apa. Wajahnya menyiratkan kelelahan namun matanya tetap berbinar semangat. Yesung mengawasinya dari jauh sambil tersenyum.
“yeoja babo! Kau berkeringat, jelek sekali! Jaga kesehatanmu…” bisik yesung sambil lalu. Yongwon yang tidak menyadari keberadaan yesung hanya menengokkan kepala ke segala arah. Namun karena tidak melihat siapapun, ia menggeleng dan melanjutkan aktifitasnya.
Acara belum berhenti sampai disitu. Acara puncaknya adalah drama musical yang akan dimainkah malam nanti. Dan- tidak semua orang bisa ikut acara ini. selain para panitia, guru, dan pejabat sekolah, acara ini juga dapat diikuti oleh siswa yang telah memenangkan lomba yang diadakan siang hari dan mereka mendapatkan tiket masuk. Dan satu hal lagi. Jika ingin masuk kedalam lingkungan sekolah, mereka harus menggunakan kostum selayaknya sedang mengikuti cosplay.
Disana juga ada acara kembang api. Bagi para undangan yang tidak mempunyai kostum, panitia sudah menyediakan kostum. Mulai dari kostum imut, keren, bahkan ada juga yang seram.
Setelah semua siap, yongwon menyuruh panitia bersiap-siap. Dia melihat yesung hanya duduk dilantai sambil meminum air soda. “ya! Ganti bajumu! Palli!” perintah yongwon.
“malas” jawab yesung sekenanya.
“ige! Pakai ini atau kulaporkan pada kang seonsaengnim dan tentu saja direktur kim akan mendengarnya pula.” Ancam yongwon. Akhirnya yesung menyerah. Sesaat dia meneliti setumpuk kain didepannya.
“kostum apa ini?” tanyanya curiga. Yongwon menjawab, “kostum vampire!”
“kau pikir aku terlihat tampan jika memakai kostum ini? shireo! Kenapa kau tak memberiku kostum pangeran?” elak yesung.
Yongwon yang sedang menghitung jumlah kostum yang tersisa menjawab tanpa sadar. “karena jika kau memakai kostum pangeran, semua yeoja pasti akan memperhatikanmu. Mereka akan berusaha mengenalmu. Bagaimana kalau mereka tahu kalau kau tidak sadis seperti yang dibicarakan? Aku tidak mau yeoja lain mendekatimu. Aku ingin hanya aku yang-“ yongwon tertegun. Ia sadar bahwa tadi secara tidak langsung dia telah menyatakan perasaannya pada namja didepannya.
Aish.. mukanya memerah, ia segera melangkah pergi namun sebuah lengan kekar menahan langkahnya. “mau kemana kau yeoja babo? Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?” yesung menarik yongwon hingga tubuhnya membentur dinding. Yesung mengunci tubuh yongwon dengan kedua lengannya. “kau… memangnya kenapa kalau aku dekat dengan yeoja lain?” yesung menatap yongwon lekat, dan tepat dimanik matanya. Yongwon menelan ludah.
“atau… kau ingin gigitan dariku?” yesung tersenyum genit. Jantung yongwon berdetak tak karuan saat yesung mengarahkan wajahnya keleher yongwon. Yongwon dapat merasakan hembusan napas yesung dilehernya. Sedikit lagi… bibir yesung sedikit lagi akan menyentuh lehernya. Namun tiba-tiba…
“yongwon-ssi! Yongwon-ssi!”panggil salah satu panitia dari divisi acara.
Yesung membekap mulut yeoja itu dengan tangannya. Mencegahnya berteriak. Merekapun langsung terduduk disudut yang sedikit remang. Sehingga orang tidak dapat melihat mereka. Akhirnya karena mengira yongwon tidak ada diruangan itu, panitia itupun langsung pergi. Yesung memulai aksinya kembali. “joha! Kalau begitu tunggu aku chagi! Chu~” dia mengecup leher jenjang yongwon sekilas lalu berhambur pergi guna menggunakan kostum itu. yongwon tersungkur. Memgangi jantungnya. Eommayaaa! Jantungku! Teriak yongwon dalam hati. Kemudian dengan langkah tertatih, ia mengambil kostumnya dan segera memakainya.
***
Yesung pov-
Aku tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi. Yeoja itu… apa dia menyukaiku? Hahaha. Aku senang melihat ekspresinya tadi. Dan lihat, kostum apapun yang kupakai tidak dapat menyembunyikan ketampananku… lihat saja. Aku akan membuatmu menjadi princessku malam ini. aku keluar dari ruang ganti dengan menggunakan kostum vampire ini. aku berusaha menangkap siulet yeoja itu. kemana dia? Hei ada juga kostum-kostum binatang yang dipakai. Aigoo… dan itu dweji. Mengingatkanku pada yeoja itu. aku segera mencari yeoja itu disekitar lapangan.
Sudah 15 menit aku berputar mencarinya namun nihil. Kemana yeoja itu sebenarnya? Aku menyenderkan badanku ke sebatang pohon besar di samping lapangan. Pohon ini… halabeoji pernah bercerita kalau disekolah ini berkembang kepercayaan kepada mitos cinta. Kudengar ada 7. Namun, aku hanya tahu satu dari halabeoji.
Jika sepasang pangeran dan tuan putri bersama di bawah pohon disamping lapangan dan mereka melihat ada bentuk hati yang muncul dipohon tersebut, maka mereka mempunyai perasaan yang sama.
Ada-ada saja. Kenapa disekolahku ada hal-hal tak berguna macam ini? ah.. haus. Aku ingin minum. Namun langkahku terhenti saat melihat orang berkostum babi yang tadi kulihat. Dia mengibar-ngibaskan tangannya kewajahnya yang memang terlihat. (kostumnya itu menutupi seluruh badan kecuali muka. Dilengkapi topi terusan dengan telinga babi. Orang itu memakai aksesoris hidung babi untuk melengkapi penampilannya. Heboh sekali orang ini. aku hendak melewatinya namun aku langsung tertohok. Orang ini…
“ya! Yeoja babo! Kenapa kau memakai kostum macam ini?” teriakku histeris. Paling tidak dia akan memakai kostum seperti gaun panjang atau pakaian maid dan semacamnya. Bukannya malah kostum babi! Apa dia benar-benar yeoja?
“wae?” tanyanya datar. Aku hanya menggeleng dan menarik tangannya ke bawah pohon. Selagi kami ada disini, mengenai mitos itu, kenapa tidak?
Aku menunggu munculnya tanda hati. Dimana? Kenapa aku tidak melihatnya? Aish… benar-benar mitos palsu! “nappeun namja. Kenapa kau membawaku kemari?” tanyanya lagi. “apa kau mau menyerangku seperti tadi atau-ah!” dia terkejut.
Aku tersenyum. Selagi aku dan dia sedang berduaan, bagaimana kalau…” yesung-ah! Coba lihat. Indah sekali bukan?” dia berceloteh riang sambil menunjuk ke sebuah titik. Aku terpaku melihatnya. Disana ada sekumpulan kunang-kunang yang sedang membentuk hati dibatang pohon. Mitos itu… jadi benar?
Aku langsung mendekap yeoja ini erat. Aku senang. Sangat senang. Mengetahui bahwa seseorang yang kau sukai mempunyai rasa yang sama, membuat jantungmu hampir melompat kelluar bukan? Itulah yang terjadi padaku saat ini. aku melepaskan dekapanku dan mengelus pipinya lembut. “yongwon-ah… sarangh-“
Ucapanku terpotong saat aku melihat sekumpulan namja berwajah sangar mendekati kami. Mereka tertawa-tawa. Aku bisa merasakan hal yang buruk akan terjadi. Aku mengarahkan tubuh yongwon ke belakang punggungku.
“wah, wah… yesung. Yeoja baru rupanya? Boleh aku mencicipinya sedikit?”
Hatiku panas. Segera saja emosiku memuncak karena satu kalimat yang diucapkan namja tadi. Aku membuatnya tersungkur dan mulai menghajarnya. Namun teman-temannya tak tinggal diam. Sebagian dari mereka mencoba memukulku, dan sebagian lagi mulai menyerang yongwon. Aku tahu yongwon bisa bela diri. Namun dengan kostum yang dipakainya sekarang, akan membuat tubuhnya sulit bergerak. Aku harus mencari bantuan.
Baru saja aku akan berteriak minta tolong, terdengar suara sentakan yang cukup hebat. BUGH! Badan namja itu tersungkur. Aku mengangkat kepalaku dan melihat wookie-ah, namdongsaengku itu memegang sebilah kayu yang ia gunakan untuk memukul tengkuk preman itu.
Lalu dia membantuku bangkit. “hyung, gwaenchana?” tanyanya dengan nada khawatir.
Aku mengangguk. “ne, gwaenchana wookie-ah…” dia diam terpaku mendengar suaraku. Tiba-tiba ada namja lain yang akan menyerang wookie dari belakang, aku segera maju dan menendang serta membanting tubuhnya ketanah. Lalu suara teriakan yeoja membuat rahangku menegang. Yongwon…
Aku melihatnya sekuat tenaga mencoba melepaskan kuncian namja yang mengepungnya. Aku segera menghantam tengkuk salah satu namja dan membuatnya pusing. Lalu aku memukul namja lain tepat di ulu hatinya. Membuat dia tak bisa berkutik. Saat kulihat yongwon yang gemetar hebat sambil memeluk lututnya, aku perlahan mendekatinya. Dia terlihat terkejut namun sedetik berikutnya dia langsung memelukku. Ya Tuhan…. Sungguh aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika yeoja didekapanku ini tersakiti. Hatiku pasti terkoyak dalam.
Belum sempat yongwon merasa lumayan tenang, kudengar ryeowook berteriak mendekati kami. Aku meoleh kebelakang dan yang kudapati adalah badan ryeowook yang ambruk terkena pukulan kayu dari seorang namja. Para preman itu langsung kabur dari sana. Aku menyentuk pipi wookie yang terkena simbahan darah. pukulan itu tepat mengenai kepala wookie. Aku terkesima. Kudengar yongwon mulai terisak hebat.
“h-hyung…” wookie mulai mengeluarkan suara. Sangat lemah namun aku masih bisa mendengarnya.
“ssst… jangan berbicara dulu, kita ke rumah sakit. Kajja!” ajakku namun wookie menggelng.
“satu hal hyung…” pintanya.
“apa? Cepat katakan agar kita segera ke rumah sakit….” Ujarku sedikit memaksa. Melihat keadaannya yang kritis…
“gomawo…” sahutnya lemah.
Aku terpekur. Setelah semua kekejaman yang kulakukan padanya, menganggapnya orang asing, membuatnya celaka dan bersimbah darah seperti ini, dia masih mengucapkan terima kasih? Aku menitikkan air mata.
“gomawo telah kembali menjadi hyung yang kukenal. Meskipun itu hanya sebentar saja. Aku akan pergi dengan tenang…”
“jangan berbicara seperti itu lagi atau aku akan mendiamkanmu lagi! Arra? Sekarang kau diam saja. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Kajja yongwon-ah!” ajakku.
***
Author pov-
Setibanya dirumah sakit, yesung langsung menghubungi halabeojinya. 30 menit kemudian halabeoji datang bersama ryeowook eomma. Mereka segera berlari menuju yesung.
“bagaimana keadaanya?” tanya halabeoji khawatir.
“uisanim masih didalam. Kita tunggu saja.” Ujarku.
“sebenarnya apa yang terjadi?” tanya halabeoji lagi.
Yesung menghela napas pelan dan mulai bercerita….
***
“apa? Preman? Mengapa bisa masuk ke dalam area sekolah?” tanya halabeoji dengan nada tinggi.
Yesung gelisah. “halabeoji… sebenarnya, aku yang menyuruh mereka datang.” Akunya.
“MWORAGO?!” pekik halabeoji.
“aku membayar mereka untuk mengancam wookie. Aku ingin mereka membuat wookie menangis. Itu saja. Aku tak tahu bahwa mereka akan-“
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi yesung. Halabeoji menamparnya untuk pertama kali. Dia hanya menunduk.
“belum pernah, selama ini belum pernah aku menamparmu. Aku menyayangimu jongwoon-ah… kenapa kau malah berbuat begini terhadap namdongsaengmu sendiri?!”
“mianhae halabeoji, aku menyesal…”
“jelas kau harus menyesal! Setelah kau menganggapnya tak ada selama 5 tahun terakhir ini, dan sekrang kau membuatnya masuk rumah sakit dengan ide dan teman-teman konyolmu itu hah?!” cerca halabeoji.
yesung hanya menunduk. Dia berlalih ke ryeowook eomma yang menangis. “eommonim… mianhae…” tutur yesung tulus.
Ryeowook eomma langsung memeluk yesung. Hangat. Membuat yesung kembali terisak. Dia mendambakan pelukan ini. pelukan dari keluarganya. Pelukan yang hangat…
Di sudut koridor rumah sakit, yongwon menyaksikan kejadian itu. ia menangis terharu. Bahagia melihat yesung telah berkumpul dengan keluarganya.
Sesaat kemudian uisanim keluar dan mereka langsung berhamburan menyambut uisanim.
“bagaimana keadaan cucu saya uisanim?” tanya halabeoji cemas.
Uisanim menghela napas berat. “mianhae… dia… kehilangan banyak darah dan pukulan itu tepat mengenai otaknya yang sangat vital. Tuan kim ryeowook… tak dapat diselamatkan.”
Halabeoji langsung mencengkram jantungnya. Ryeowook eomma berteriak histeris. Yongwon membekap mulutnya. Sedangkan yesung… dia terpaku dengan air mata yang terus menetes dari pipinya.
“andwae… andwae! Jangan untuk kedua kalinya! Andwae!” teriaknya seraya berlari masuk ke ruangan ryeowook terbaring kaku.
“wookie-ah… ireona, hyung berjanji akan menemanimu bernyanyi lagi, akan mendengarkan permainan pianomu, akan memakan masakanmu. Jebal… ireona…” isak yesung menguncang-guncang tubuh ryeowook.
***
Sudah sebulan sejak kejadian itu. sekarang yesung berada didepan gundukan tanah yang sudah muali ditumbuhi rumput liar.
“eomma… abeoji, eottokhe jinnaesseoyo? Aku datang bersama yeojaku. Dia sangat cantik kan eomma? Kau pasti akan sangat menyukainya. Jongjin-ah… hyung harap kau tak kesepian disana. Melihat kau begitu hiperaktif. Hehe. Mian kalau selama ini jarang menjenguk kalian. Dan… aku tidak akan menyia-nyiakan seseorang yang menyayangiku. Aku…”
“hyung…” suara namja mengusik pembicaraan yesung.
“wae wookie-ah? Kau tidak lihat hyung sedang sibuk?” protes yesung.
“ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Katanya lirih.
“nugu?” tanyaku.
“hyung lihat saja sendiri. “ sahutnya. Yesung langsung menghampiri namja yang berdiri membelakanginya. “nuguseyo?”
Namja itu berbalik. ‘bukankah… ini namjachingu yongwoon yang dulu? Mau apa dia kemari?’
Yongwon yang menyusul yesung langsung berteriak. “oppa!” dia berhambur memeluk namja didepannya. “kapan datang? Sudah makan?” tanya yongwon manja.
Yesung mendelik. “ah! Oppa! Ini namjachinguku. Perkenalkan… yesung sunbae, ini adalah oppaku. Choi dongwon. Dan oppa, ini adalah yesung. Eh maksudku kim jongwoon!”
“EH?! OPPA?! CHOI DONGWON?! Jadi selama ini…” yesung mengetahui kesalahannya. Namja ini adalah oppa yongwon. Bukan namjachingunya. Aish…
“kau lupa padaku kim jongwoon-ssi? Bukankah kita pernah bertemu di pesta perayaan berdirinya NL corporation?” sahut dongwon.
Omona! Yesung ingat… dongwon adalah anak dari tuan choi yang diperkenalkan halabeoji. Berarti dia adalah calon kakak iparnya.
“ah… ya hyung…” tukas yesung kaku.
“hyung? Kita lihat seberapa cinta kau pada nae dongsaeng. Aku akan memberikan tes KECIL kepadamu…” kekeh dongwon.
Yesung menelan ludah. Sepertinya ini akan sulit.
***
Yesung pov-
Kalian pasti bingung mengapa tadi ada wookie yang memanggilku. Ah…. Sebaiknya kuceritakan saja pada kalian…
FLASHBACK
“wookie-ah… ireona, hyung berjanji akan menemanimu bernyanyi lagi, akan mendengarkan permainan pianomu, akan memakan masakanmu. Jebal… ireona…” isakku menguncang-guncang tubuh wookie.
“ireonaaaaaa!”
Aku mendengar suara terbata. “jeo-jeongmalyo?”
Aku segera memastikan bahwa ini mimpi atau tidak. Aku melihat wookie terbangun dan berbicara padaku. “ne. yaksok! Kau bisa pegang janjiku!”
“eommonim… halabeoji… wookie, wookie…” aku berteriak memanggil mereka berdua. Mereka masuk dan berhambur memeluk wookie.
Aku segara keluar memanggil uisanim. Uisanim langsung memeriksa keadaan wookie. “syukurlah… ini merupakan suatu keajaiban. Jantungnya kembali berdetak.” Ucap uisanim yang dijawab dengan seruan syukur dari kami semua.
Aku memutuskan untuk membelikan halabeoji dan eommonim minum. Namun ditengah perjalanan menuju kantin, aku melihat yeoja dalam kostum dweji termangu sendiri.
Aku menghampirinya. “sedang apa kau disini?” tanyaku.
“molla. Aku hanya senang mengetahui ryeowook selamat…” tukasnya.
“kau… apakah kau… menyukai wookie?” tanyaku penasaran.
“memangnya kenapa?” tanyanya balik.
Aku mendesah. Mungkin ini bukan saat yang tepat namun… aku menggenggam tangan yongwon lembut. “kepada yth. Namja yang membaca surat ini… aku- choi yongwon meminta sebelah hatimu untukku singgahi. Maaf jika kau merasa keberatan. Tapi aku hanya berharap, kita dapat bertemu suatu saat nanti. With love – choi yongwon.” Aku membacakan isi surat yongwon yang dikubur dalam peti. Aku sudah menghapalnya diluar kepala.
“ja-jadi… kau yang menemukannya?” ia segera menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“ne… aku bersedia member hatiku, namun kau juga harus menerima hatiku…” jawabku.
Dia hanya menangis. Aku memeluknya. “wae?” tanyaku.
“ternyata mitos disekolah itu benar. Aku bahagia…”
“nado yongwon-ah… saranghae…” ucapku.
“nado…”
Kemudian aku menciumnya lembut, menimbulkan semburat merah dipipinya. Membuatnya semakin terlihat seperti dweji.
***
EPILOGUE
“yesung sunbae… kau tahu apa mitos ke tujuh?” tanya yongwon padaku saat kami berada di ruang kepala sekolah.
“wae?”
“beritahu aku…” pintanya memelas.
“kalau begitu, aku minta satu hal.” Aku tersenyum genit. “mwo?” tanyanya.
“panggil aku chagi dan aku ingin poppo…” jawabku manja.
“shireo! Kau terus minta poppo…” tolaknya. “ya sudah…” ucapku acuh tak acuh.
Kemudian terdengar derap langkah mendekat dan…
CHU~
Dia menciumku cepat. “chagiya… beritahu aku. Jebal.” Pintanya.
“huwaaaa… aku tak tahu sebegitu inginnya kau menciumku.” Aku terkekeh. Dia memukul bahuku. Aish… tenaganya besar sekali.
“beritahu!” paksanya.
Aku mengambil ancang-acang. Lalu berkata. “mianhae… aku juga tidak tahu… hahaha” secepat kilat aku kabur dari jangkauannya. Dia mulai mengeluarkan tanduk (?) dwejinya. Aigoo… nae yeojachingu…
END

Huwa, huwa, huwaaaaa! (teriak-teriak gaje) author sudah menyelesaikan FF ini. tak ada sequel bila memintanya (maaf author lagi kena penyakit PeDe tak berkesudahan. Padahal sapa juga yang mau sequel). Author lagi UTS dan masih sempat-sempatnya menulis FF ini. ckckck.
Mian kalau gaje. Typo bertebaran, dsb. Ini bentuk kegalauan author karena UTS dan SS4 (apa hubungannya…) FF ini muncul saat nae namjachingu dengan polosnya mengatakan aku seperti kuli… dengar? KULI! Eommayaaaa!
Sudah-sudah, dari pada author malah curhat disini, author pamit aja ya? Yeppa udah bunyiin klakson dari tadi. Minta ditemenin beli makanan ddangkoma.
Pai… pai…

2 thoughts on “FF SEVEN MYTH OF LOVE PART 2 (END)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s