FF SEVEN MYTH OF LOVE PART 1(TWOSHOOT)

TITLE : SEVEN MYTH OF LOVE (PART 1 OF 2)
AUTHOR: Nila
LINK FB: http://www.facebook.com/nila.siiuletnangka
TYPE: TWOSHOT
GENRE: Romance, Fantasy, Comedy
RATING: PG 15
CAST:
1. Kim Jongwoon a.k.a yesung a.k.a kim yesung (in this fanfiction)
2. Choi Yongwon
3. Kim ryeowook a.k.a ryeowook
Inget nggak sama FF author yang your smile is mine? Hoho. Kalo inget ya syukur, kalo nggak ya… apa ya? Again and again saya memakai couple ini. mungkin besok saya akan mengamit kyuhyun? Hahaha. Tapi bingung dengan cast yeojanya. Sudahlah sekarang, baca aja ne?
HAPPY READING….
PROLOGUE
Kim jongwoon-
Kau yeoja babo! Babo! Babo! Babo! Saranghae! Kau dengar? S-A-R-A-N-G-H-A-E!
Choi yongwon-
Yongwon-ah! Fighting!
Kim ryeowook-
Mianhae, telah membuatmu membenciku
Author pov-
Di suatu pagi yang cerah, seorang yeoja bernama choi yongwon berlari-lari kecil menuju sekolah barunya. Ia adalah murid baru di Neul Paran High School. Ia di terima setelah mengikuti serentetan ujian masuk bersama ratusan pendaftar.
Sesaat setelah sampai di depan gerbang sekolahnya, ia menghela napas sebentar. ‘Yongwon-ah fighting!’ Batinnya semangat. Lalu ia masuk ke lingkungan sekolah barunya.
Baru saja memasuki aula tempat akan di adakannya upacara penerimaan siswa baru, ia mendengar beberapa siswi baru yang berbisik-bisik heboh.
“begitu yang ku dengar…”
“aigoo… menyeramkan sekali..”
“ya. Aku jadi takut…”
“aku juga. Kudengar namja sadis itu bernama yesung.”
“lebih baik kita tidak berurusan dengannya..”
Yongwon mengernyitkan alis. Namja sadis? Apa maksudnya preman sekolah atau semacamnya? Ataukah hanya senior yang hanya sok berkuasa? Aish… ia paling benci dengan orang seperti itu. kenapa disekolah barunya malah ada hal-hal yang mengganggu semacam itu?
“kepada seluruh siswa baru, di mohon untuk berkumpul di depan panggung.”
Mendengar pengumuman itu menggema, yongwon segera mendekat kearah panggung.
***
Yongwon pov-
Setelah selesai upacara, akupun langsung menuju kelasku. X6. Jauh juga, Karena letak kelasnya ada di pojok sekolah. Berdekatan dengan kelas X7. Padahal aku sudah berharap akan ada moving class.
Setelah sampai di kelas, aku mengambil tempat duduk yang cukup strategis. Dibagian kiri kelas, dekat jendela, dan-tentunya tidak di depan dan tidak di belakang. Aku bukan siswa yang ingin menonjol atau semacamnya. Aku hanya ingin…
“annyeonghaseyo…” tiba-tiba seseorang menyapaku. Aku langsung membungkuk dan membalas sapaannya.
“naneun Kim ryeowook imnida. Bangapseumnida,” sebutnya.
“ah… ye. Choi yongwon imnida. Bangapseumnida…”
“bolehkah… aku duduk disini?” tanyanya.
Aku mengangguk. “ne… mullon imnida”
Namja yang manis. Matanyapun sangat sipit. Dia juga sangat ramah. Baiklah… sepertinya berteman dengan orang sepertinya akan sangat menyenangkan.
***
Yesung pov-
“halabeoji!” teriakku.
“hm?” halabeoji hanya menatapku sekilas lalu kembali menatap seoul sinmun (koran seoul) yang sedang dia baca.
“halabeoji!” aku kembali berteriak.
“aish…. Kim jongwoon. Kenapa kau berteriak-teriak? Seperti yeoja saja. Dan… bukankah kau harus mengikuti upacara penerimaan siswa baru?” halabeoji melirik jam tangannya. “ini sudah pukul 7.15, apa kau tidak takut terlambat?”
“biar saja, aku tidak mau datang ke sekolah itu. aku kan sudah bilang, aku ingin melanjutkan study ke luar neg-“
“ya! Apa kau begitu mencintai Kanada?!” bentak halabeoji. “kau tidak mencintai negerimu sendiri?”
“ani… bukan begitu, hajiman…” aku mencoba untuk berargumen lagi. Meskipun aku sudah tahu, apa yang akan di katakana halabeoji setelah ini.
“joha! Berangkatlah!” dia memandangku lewat sudut matanya. Aku hanya menghela napas gusar. Lihat saja halabeoji. Aku akan lebih nekat dari saat masih junior high school dulu. Dan-mau tak mau, halabeoji harus membiarkanku melanjutkan ke luar negeri. Aku tersenyum lalu menaiki motorku dengan kecepatan tinggi.
***
Sampai disekolah, aku melihat gerbang sekolah yang tertutup. Haaah… lebih baik aku bolos saja. Toh, aku terlambat dan pasti tidak di izinkan masuk. Saat hendak menstater motorku, aku mendengar si kurus nyaring penjilat itu memanggil namaku.
“tuan muda? Kenapa anda berbalik? Sekolah sudah di mulai, mari masuk. Saya bukakan gerbang untuk anda”. Kata si kurus kang seonsaengnim.
Mau tak mau, akupun masuk ke halaman sekolah ini. tak mau kalau si kurus itu akan mengadukanku pada halabeoji. Tenanglah, aku masuk sekolah, namun aku tak jamin aku akan mengikuti kelas.
***
Author pov-
Yongwon dan ryeowook sedang berjalan mengitari sekolah baru mereka. Seperti yang bisa di perkirakan, ryeowook adalah namja yang mudah bergaul. Bahkan yongwon sudah menganggap ryeowook sebagai sahabatnya.
Saat mereka hendak keatap sekolah, ryeowook pamit ke toilet. Jadi dia menyuruh yongwon menunggunya di atap.
Namun, saat yongwon tiba di atap, ia melihat seseorang yang berada di pinggir gedung. Tatapannya kosong dan sepertinya dia berniat untuk melompat. Sebelum hal itu terjadi, yongwon langsung berlari guna menyelamatkan orang itu.
GREP! Ia langsung memeluk dan menarik orang itu ke tepi. “hya! Apa yang kau lakukan?! Baboya?”
Namja yang di tolongnya hanya memandangnya sinis, lalu menepis tangan yeoja itu. “neo, baboya!” setelah itu melangkah pergi.
‘apa maksudnya? Bukankah dia yang ingin bunuh diri? Kenapa aku yang bodoh?’ pikir yongwon tidak terima.
Di pintu, ryeowook dan namja itu bertemu. Pandangan mereka mengerikan. Seakan mereka berdua adalah musuh bebuyutan. ryeowook hanya bertanya, “wah… kau disini rupanya tuan-“
Namja itu segera memotong ucapan ryeowook. “nuguya?” dengan senyum mengejek lalu berlalu begitu saja.
ryeowook hanya memandang tak percaya. Amarahnya mulai memuncak namun saat di rasakannya tangan yongwon menyentuh bahunya, dia merubah raut mukanya dengan cepat. “kau… mengenalnya ryeowook-ssi?” tanya yongwon.
Ryeowook dengan cepat menggeleng. Yongwon menghela napas. “kupikir kau mengenalnya. Kau tahu? Namja itu tadinya ingin bunuh diri…” terang yongwon.
“bunuh diri?” ryeowook mengkonfirmasi. Yongwon mengangguk. ‘seorang yesung bunuh diri? Menggelikan!’ batin ryeowook.
“ah, yongwon-ssi. Kajja kita ke kelas. Aku dengar ada pengumuman”
“jinjja? Keureom, kajja!” yongwon dan ryeowook turun menuju kelas mereka.
***
Yesung pov-
Namja sialan! Ternyata dia masuk ke sekolah ini juga? Tak tahu malu… benar-benar…. Aish! Siapa lagi yeoja yang bersamanya itu? yeoja murahan? Cih! Memuakkan!
Aku berjalan tak tentu arah. Setelah satu jam lebih aku berdiam diri di kebun belakang sekolah. Melihat siswa-siswa yang sedang beristirahat, bersenda gurau, dan lain-lain. Aku merindukan saat-saat seperti ini. tapi sekarang… kurasa tak mungkin. Mengingat semua yang telah terjadi. Sudahlah… kehidupan remaja seperti ini memang tak cocok denganku. Jadi, tak ada gunanya aku bergaul.
“hya! Ratu setan mulai mengamuk….!” Tiba-tiba saja seorang namja berteriak histeris. Semua orang yang ada disekitarnya terkejut-termasuk aku. Apa katanya tadi? Ratu setan?
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku melihat tubuh namja ambruk di depanku. Dari mukanya yang lebam, kupikir dia habis berkelahi. Lalu seorang yeoja keluar sambil berkacak pinggang. “puas?” raut wajah yeoja itu meremehkan. “jangan berani-beraninya mengganggu yeoja! Mengatakan yeoja makhluk lemah, Memangnya kenapa kalau kami mempercayai mitos disini? Salah? Lalu hakmu melarang kami? Apa kau kepala sekolah?”
Deg! Mendengar perkataan yeoja ini membuatku terpana. Dia… yang menghajar namja ini? tapi-tunggu dulu! Bukankah ini yeoja murahan yang bersama ryeowook itu? yang mengira aku akan bunuh diri?
Belum sempat aku berpikir macam-macam. Si tua kurus kang sudah datang. Sebelum aku di tangkap (?) aku kabur dengan kecepatan cahaya (?).
***
Yongwon pov-
Namja sialan! Kemarin aku menghajarnya Karena dia mengejek rae ah dengan mengatakan ia yeoja idiot yang lemah. Lalu dia pikir dirinya kuat begitu? Lihat saja, setelah aku menghajarnya, masih beranikah dia memandang wajahku? Cih! Mulut besar!
“yongwon-ah… ige… bekal buatmu.” Rae ah datang menghampiriku dengan membawa kotak bekal makanan.
“eh? Ige mwoya?”
“bekal untukmu. Karena kemarin kau sudah membelaku. Sebenarnya namja kemarin adalah mantan namjachinguku,” terang rae ah.
“eh?!”
“dia… cemburu saat aku mengatakan bahwa aku akan mencari namja lain melalui mitos, lalu… dia menembakku kemarin.” Ucapnya malu-malu.
Dari raut mukanya yang berseri-seri, aku tahu apa kelanjutan kalimatnya. Dan-benar saja, mereka mulai berpacaran lagi. Namun, aku penasaran, apa saja mitos cinta disekolah ini? mengapa begitu terkenal?
“yongwon-ah!”panggil rae ah saat aku melamun memikirkan mitos itu. “ne?”
“kenapa melamun?” dia memiringkan kepalanya. “ani… aku hanya penasaran tentang mitos yang kau sebutkan tadi…”
“aigoo… soal itu. sebenarnya, disekolah ini terkenal akan 7 mitos cinta. Aku tidak tahu berawal dari mana, tapi… eonniku yang lulusan sekolah ini, berhasil menikah dengan namja yang dicintainya karena dia melakukan mitos-mitos disini!”
“jinjja?!”
“eo!” dia mengangguk.
“apa kau tahu mitos-mitos itu?” tanyaku dengan nada penasaran yang disembunyikan.
Dia menerawang, terlihat berpikir. “uhm… kemarin yang aku lakukan itupun termasuk mitos!” dia melanjutkan saat aku menggerling tidak mengerti. “jadi, kemarin aku memakai pita jingga dan berenda putih di kepalaku itu agar seseorang yang dahulu mengisi hari-hariku akan kembali padaku!”
“oh! Mantan namjachingumu itu?”
“eo! Dan kau harus memakai pita itu di pertengahan jam 10 dan sebelas. Pakai di sebelah kiri kepalamu. Kebetulan saat itu adalah jam istirahat. Jadi dia bisa datang. Huwaaaa… mitosnya manjur!”
“lalu mitos kedua?”
“mitos kedua mengatakan bahwa jika kita berdiri di depan toilet namja-“ aku segera memotong ucapannya.
“toilet namja?! Apa aku tidak salah dengar? TOILET NAMJA?!” sahutku tidak percaya.
“aish… pelankan suaramu yeoja jadi-jadian! Memangnya ada apa? Kita di DEPAN, bukan di DALAM toilet namja. Aish… kau ini bodoh atau apa?”
Aku hanya terkekeh. “mian” ucapku sekenanya. Lalu dia melanjutkan ucapannya. “pada tanggal 1 yang jatuh di hari senin, seseorang yang pertama kali keluar dari toilet itu adalah orang yang akan melindungimu alias namjamu!”
Aku melongo. “bagaimana kalau ada banyak namja yang keluar dari toilet secara bersamaan?”
Dia terkekeh pelan. “kekeke. Mungkin mereka semua adalah namjamu!” ucapnya asal.
Pletak! Aku memukul kepalanya pelan. “jangan main-main! Dasar babo!”
“aku tidak bodoh! Tapi ada yang membedakannya.”
“mwo?” tukasku acuh tak acuh. Padahal aku sangat penasaran menantikan jawabannya.
“saat dia melihatmu, angin semilir menerpa wajahmu. Bukan, bukan angin biasa. Anginnya terasa… hangat dan nyaman.”
Aku mendelik. “memangnya ada angin seperti itu?”
“mollayo, aku kan tidak pernah merasakan hal itu.” belanya. “tapi, untuk apa kau menanyakan mitos? Kau kan namja berpenampilan yeoja? Hahahaha!” dia terpingkal-pingkal, Membuatku ingin menggigit pipinya yang gembul itu. beruntung, Lee seonsaengnim datang ke kelas dan mengatakan kami akan pulang cepat entah ada rapat atau apa. Aku tidak mendengar kelanjutannya karena…
Langsung saja, kelas yang semula hening langsung berubah menjadi pasar. Banyak anak-anak yang berubah menjadi autis, teriak-teriak, bahkan ada yang menari-nari tidak jelas. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku memang pulang cepat, tapi tidak harus melakukan hal ‘brutal’ macam itu kan? Aku percaya rumahku tidak akan pindah dengan sendirinya. Jadi aku tidak perlu merayakan waktu pulang sekolah yang dipercepat.
Di tengah keributan ini, aku kembali memikirkan ucapan rae ah tadi. Aku tidak tertarik pada mitos itu? yang benar saja, aku kan tetap saja yeoja. Yang membedakanku hanya aku mempunyai tenaga yang cukup besar dan-aku atlet judo tingkat 3. Selanjutnya… sama saja. Aku tetap seorang yeoja.
Saat kelas sudah mulai sepi, aku berjalan pelan menuju gerbang. Ekor mataku menangkap toilet namja di sebelah kanan. Aku kembali teringat mitos itu. adakah… namja yang keluar? Haha. Pikiranku mulai aneh, bukankah semua siswa sudah diperbolehkan pulang? Dan-tentu saja dengan antusias mereka langsung melangkahkan kaki untuk pulang. Jadi tidak ada siswa yang sekarang berada disekolah ini. kecuali-aku.
Namun tepat saat aku sedang berada didepan toilet tersebut, siulet seorang namja muncul diekor mataku. Aku berbalik… mata kami bertemu. Matanya hitam pekat. Membuatku tenggelam dalam pandangannya. Lalu, semilir angin menerpa wajahku. Hangat… aku menyukai ini, sangat. Lalu saat aku mulai memperhatikan wajah namja itu secara keseluruhan, aku terbelalak.
“neo!” kami berteriak bersamaan.
***
Author pov-
“neo!” teriak mereka berdua bersamaan.
“namja aneh!” teriak yongwon.
“kau yeoja babo!” ujar namja itu tak kalah sengit.
“kau yang babo! Bunuh diri!”
“bunuh diri? Kau ini babo atau apa? Siapa yang ingin bunuh diri?” bantah namja itu.
“eh… bukan ya? Hehehe. Mian.” Sahutnya terkekeh tanpa rasa bersalah.
“yeoja babo…” tukas namja itu sambil berlalu pergi.
Yongwon menggelengkan kepalanya kesal. ‘Namja sial!’ pekiknya dalam hati. Lalu dia menghentak-hentakkan kakinya di lantai lalu berlalu pergi dengan dongkol.
Ah… yongwon melupakan semilir angin yang menyapanya tadi. Dan-dia tidak menyadari bahwa hari ini, hari senin dan… tepat tanggal 1.
***
Yesung pov-
Yeoja babo! Aish…. Kenapa dia masih disekolah jam segini? Bukankah semua murid sudah di bubarkan karena pulang cepat? Ah… aku kembali ke rutinitasku seperti biasa. Di ujung koridor, aku melihat si tua kurus kang menungguku. Baiklah….
***
Ah… lelah sekali. Mengerjakan dua perkejaan sekaligus. Apa yang dipikirkan halabeoji saat menyuruhku bekerja begini? Ah…. Aku ingin ke kanada! Kanada!
Tok..tok..tok.. terdengar pintu diketuk. Kemudian muncul si tua kang dari balik pintu. “tuan muda… tuan besar menyuruh anda pulang. Beliau mengatakan anda harus menghadiri pesta perayaan berdirinya NL corporation, jadi anda harus pulang lebih cepat.”
Aku mengusap wajahku perlahan. Aaah… halabeoji memang selalu memaksaku. Apa boleh buat….
“ne, gamsahamnida kang seonsaengnim.” Aku membereskan barang-barangku lalu keluar dan mulai menstater motorku menuju jalanan sekitar.
***
Yongwon pov-
“appa!” aku menghentak-hentakkan kakiku sebal. Appaku mendengar teriakkanku. Namun tidak menoleh sedikitpun padaku. “appa!” kembali ku berteriak.
“ya! Yongwon-ah! Berhenti berteriak! Aku sudah muak mendengarnya!” nasehat oppaku-Choi Dongwon.
“oppaaaaa! Help me please! It’s trouble!” sahutku.
“ckckck. Shut up your mouth and listen to appa yongwon! Oppa think, it’s not so sophisticated” terang oppa.
“oppa! Bloody hell! Help me now!” pinta yongwon, atau-lebih tepatnya memaksa.
“Don’t make a matter worse! Listen and do it! Palli, and wear that dress now!” oppa memerintahkanku.
Melihat oppa melotot, aku hanya bisa diam. Masalahnya, aku judo tingkat 3, oppaku judo tingkat 4. Jika berkelahi, jelas saja aku kalah. Tapi… tetap saja menyebalkan!
“eommaaaaaa!” rengekku.
“chagiya… dengarkan oppamu, ne?” eomma menasihatiku. Kenapa tidak ada yang mendengarkanku disini? Hello…. Hello…?
Joha! Sudah kuputuskan aku akan mogok makan. Titik! Tapi sedetik kemudian mataku menangkap apa yang tersedia dimeja makan. kenapa ayam goreng itu terlihat sangat menggiurkan? Kenapa kelihatan begitu pedas? Hei-ayam. Kau mau menggodaku heh? Dari mana kau tahu aku menyukai makanan pedas? Eommayaaaaa! Aku tak tahan!
***
Oke. Oke. Aku mengalah. Akhirnya aku membatalkan rencanaku untuk mogok makan. Eomma tahu kelemahanku pada makanan pedas, jadi-akhirnya aku makan juga. Namun lihat saja, aku akan melakukan hal lain. Jika tidak dengan mogok makan, aku akan… akan apa ya? Kenapa disaat seperti ini otakku malah buntu? Eommayaaa…eottokhe?
Dengan kaki seberat timah 2 ton, oppa dan eomma menyeretku ke kamar eomma untuk dirias. Oh.. damn! Akhirnya inilah yang terjadi padaku. Aku akan menghadiri perta perayaan berdirinya perusahaan appa. NL corporation yang bergerak dibidang industri makanan instan seperti ramyeon-cup dan semacamnya. Ada juga makanan kaleng dan minuman soda.
15 menit kemudian, eomma sudah berhasil mendandaniku. Hei-siapa itu? di cermin terlihat sesosok yeoja menor. Dan-apa ini? bibirku terlihat sangat merah. Andwae….!
“eomma! Bibirku kenapa? Terlihat sangat mencolok!” protesku.
“bukankah bagus? Untuk bibir kecil sepertimu… oppa rasa sah-sah saja.” Oppa ikut berkomentar.
“aish… eomma. Berjanjilah padaku ini untuk kali ini saja, ne? lain kali aku akan mengatakan ‘shireo’ seratus kali sampai kalian tidak memaksaku lagi. Eo?” pintaku.
Eomma hanya terkekeh kecil dan memandang oppa. “kau lihat? Yeodongsaengmu ini sungguh sangat manja.”
Oppa menyahut. “ne eomma. Tampilan luarnya saja yang garang. Tapi aslinya dia tetap yeodongsaengku yang super manja”. Cih. Mereka mengejekku. Memangnya kenapa aku manja? Aku kan juga yeojaaaaa! Semua sama saja, eomma, oppa, dan juga chingudeul disekolah. Aku ini yeojaaaaaa!
***
Author pov-
Yesung sudah bersiap-siap untuk berangkat. Kali ini dia berganti pakaian dengan kemeja hitam, dasi hitam, jas hitam, celana hitam, serta sepatu hitam. Entah mengapa dia sangat suka mengenakan pakaian berwarna hitam (sebenarnya author yang suka ngeliatnya), dan satu sentuhan lagi. Dia menenggerkan kacamata berbingkai hitam di hidungnya (author: kali ini aku mesen supaya nggak terbalik). Setelah bercermin sebentar dan menilai penampilannya sudah sempurna, dia segera turun menemui halabeojinya yang sudah menunggu.
Saat tiba di Seoul International Hotel -tempat diadakan perayaannya memang disini- dia dan halabeoji langsung menuju aula pesta. Halabeojinya mengajaknya untuk menyalami direktur NL corporation. Namanya tuan Choi. Dia bersama dengan istrinya, Nyonya Choi serta Putra sulungnya, Choi dongwon. Cukup tampan, namun tak setampan dan tak sememikat yesung.
“aigoo… tuan Kim, cucumu sangat tampan. Kudengar kau dia akan meneruskan perusahaanmu dan yayasan yang kau punyai?” ujar tuan kim sambil menepuk-nepuk bahu yesung.
Tuan kim hanya tertawa. “yah… tapi dia ini cucu yang cukup membuat pusing.”
“wajar saja, dia kan namja. Uri dongwon juga sangat bandel ketika remaja.” Terang tuan choi menyebut-nyebut anaknya.
“appa, aku memang masih remaja. Umurku masih 21 tahun.” sahut dongwon mengingatkan.
Mereka semua terlihat tertawa-tawa mendengar candaan dongwon. Namun tidak bagi yesung. Dia sudah mulai gerah. Akhirnya dia ijin pamit ke toilet. Sekadar alasan agar terhindar dari situasi seperti tadi. Kalian pikir orang senang dibicarakan seperti itu? aish… dia ingin pulang saja.
Namun tepat saat dia melangkahkan kaki menuju toilet, dia melihat wajar gusar yeoja yang sedang menekuk wajah dan menggigit bibir bawahnya. Terlihat kesakitan. Yesung mulai meloading otaknya untuk menggali ingatan tentang yeoja itu.
‘omona! Bukankah dia… yeoja babo!’ pekiknya tertahan.
Yeoja itu tidak menyadari keberadaannya. Yesung tersenyum simpul. Paling tidak ada yang membantunya mengusir kepenatan. Ia melihat yeoja itu agak sedikit ceroboh. Ani,ani. Dia sangat ceroboh. Bagaimana tidak? Ujung gaun yang dia pakai sering terinjak oleh dirinya sendiri. Lalu dengan bodoh dia memakai gorden untuk membersihkan lipstick dibibirnya. Setelah itu? menabrak kursi, meja, dan-oh tidak. Dia membuat seorang pelayan harus berputar-putar mencari keseimbangan karena berbenturan dengan bahunya. Yeoja itu, apakah tenaganya begitu kuat? Apa dia samsons? Haha. Menarik.
Saat hendak berbalik sebentar untuk mengambil minuman, aku melihat namja sialan itu. kim ryeowook. Oh… dia datang bersama eommanya. ‘Untuk apa dia kesini? Apa halabeoji yang menyuruhnya? Memuakkan.’ Desis yesung. Saat halabeoji melihat kearah yesung di dekat meja saji, dia juga menangkap sosok ryeowook dan eommanya. Yesung segera berbalik dan bertabrakan dengan seseorang. Yang ia tahu saat itu dihadapannya ada yeoja babo. Tanpa berpikir lebih jauh, dia segera menarik tangan yeoja itu pergi dan hanya berkata, “aku akan mengantar yeoja ini pulang halabeoji, dia terlihat kurang enak badan.” Selanjutnya ia berlari dengan mengandeng tangan yeoja itu. yesung tidak berpikir kalau eomma, appa, dan oppa yeoja itu sedang kelimpungan mencarinya.
***
Yongwon pov-
Ada apa ini? siapa namja ini? menarik-narik tanganku dan membawaku berlari keluar hotel. Otakku masih belum bekerja maksimal. Buktinya aku tidak berontak atau semacamnya. Saat sudah berada di dalam taksi, aku mulai bereaksi.
“hya! Mau apa kau? Kau mau membawaku kemana? Dasar namja mesum!” teriakku histeris.
“yeoja babo! Diamlah dan… tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu padamu. Mengingat kau bisa dengan mudah membanting namja dengan tangan kosong.” Jelasnya.
Oh… oke baiklah. Sepertinya dia tahu aku memiliki dasar bela diri. Selama perjalanan, suasananya sunyi. Hei- aku tahu jalan ini. ini…. bukankah jalan menuju sekolahku? Untuk apa dia kesini?
Dan-benar saja. Kami berhenti tepat disekolahku. Eh ralat. Sekolah kami. Dia mengajakku masuk lewat jalan belakang? Hei-aku tidak tahu ada jalan belakang. Kalau tahu aku tidak akan dijemur setiap terlambat datang karena aku bisa masuk lewat jalan belakang ini. hehe. Diam-diam aku berterima kasih pada namja ini.
“ya! Eodiga?” tanyaku penasaran saat dia tak kunjung berbicara.
Dia hanya terdiam. Dan meneruskan langkahnya. Aku langsung menarik tangannya, membuat badannya berbalik melihatku. “wae? Kenapa kau masih disini?”
“wae? WAE? Bukankah kau yang menarikku kesini dan membawaku secara paksa?” protesku.
“sudahlah, aku lelah. Sebaiknya kau pulang.” Sahutnya acuh tak acuh. Apa maksudnya? Dia menyuruhku pulang begitu? Namja tak bertanggung jawab. Segera saja aku mengamit lengannya, memperkecil jarak di antara kami dan mencoba mengalahkan berat badannya. Aku mengangkatnya ke udara, berusaha membantingnya dan- oh tidak. Dia mengaitkan kakinya dikakiku untuk meruntuhkanku. Seketika badanku ambruk dan aku bisa merasakan sesuatu menyentuh bibirku.
“kyaaaaaaa!” teriakku spontan.
***
Yesung pov-
Yeoja itu ingin bermain-main denganku. Aku tahu kau pandai bela diri. Namun akupun mempunyai dasar bela diri juga. Aku runtuhkan kuda-kudanya saat dia hendak membantingku dengan jurus judonya. Namun aku juga jadi kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat diatas yeoja itu. aku merasakan sesuatu yang empuk dibibirku. Saat menyadari apa itu, aku berteriak. “kyaaaaaaaa!”
Yeoja itu mendorong badanku dengan sangat keras hingga aku membentur dinding. Akh… punggungku sakit. “yeoja babo. Michiyeoso?” ujarku seraya mengelus-elus punggungku yang sakit.
“Jugulle?” dia memegang bibirnya, lalu menatapku tajam. “neo! pyontae! Nappunnom! Michinom! Gaesaeki!” segala umpatan dia keluarkan guna menghardikku.
Aku menebak itu adalah ciuman pertamanya. Oh Tuhan… eottokhe? Aku tidak berpengalaman menangani yeoja yang marah karena hal ini. dan-sejujurnya ini adalah ciuman pertamaku juga! Jeongmal mianhae…
Matanya mulai berkaca-kaca. Oh… tidak. Sedetik kemudian dia mulai menangis. Aish… otakku sudah tidak dapat berpikir lagi. Aku mendekapnya. Hangat. “mianhae… mianhae… aku tidak sengaja, mianhae..” hanya itu yang dapat ku ucapkan saat ini.
Setengah jam kemudian yeoja ini berhenti menangis. Syukurlah… “gwaenchanda?” tanyaku menanyakan keadaannya.
“ne. nan gwaenchana” jawabnya. Syukurlah dia baik-baik saja. Yeoja memang menganggap hal-hal seperti ini sangat berharga. Kasihan yeoja ini, ciuman pertamanya hilang karena kecelakaan.
“mian mengambilnya darimu…” ucapku tulus.
“heh? Mengambil apa?” sahutnya tak mengerti.
“bukankah… bukankah… tadi aku tak sengaja menciummu?” tukasku takut-takut.
“kisseu? Yang tadi? Itu bukan termasuk kisseu…” entengnya.
“lalu… mengapa kau menangis?” yeoja ini… padahal dia menangis begitu keras hingga sesegukan. Masih ingin mengelak? Lalu jawaban yang keluar dari mulutnya membuatku ternganga. “keke~ tadi saat kita bertabrakan, gigiku menekan tepat di sariawanku. Padahal sudah sejak tadi aku meringis kesakitan. Dan tadi kau karena tindihanmu yang berhasil membuat sariawanku pecah sehingga aku merasakan sakit setengah mati “.
JEDAR! (suara apa ini?) tiba-tiba aku tidak bisa bersuara. Yeoja ini… babo. memang babo. “kau… tidak marah karena tadi aku menciummu?” dia menggeleng. “itu tidak termasuk kisseu.” Ulangnya. “ Lagipula, aku sudah sering berciuman.”
Apa yang dikatakannya tadi? Sudah sering berciuman? Yeoja murahan. Penilaianku salah. Kupikir dia berbeda. “sepertinya kau sangat berpengalaman. Berapa banyak mantan namjachingumu?” sahutku kesal. Aku tidak tahu mengapa aku bisa sekesal itu.
“aku tidak pernah berpacaran. Dan… aku sama sekali belum berpengalaman.” Akunya.
“bukankah kau sering berciuman? Kau berbohong padaku?” teriakku. Dia menggeleng lagi. “ani. Aku kan tidak bilang berciuman dengan namja. Aku berciuman dengan eommaku. Kekekeke”
DOENK… (suara apa lagi ini) yeoja ini memang babo. “kalau bersama eommamu, itu bukan merupakan ciuman! Babo!” dia mendelik.
“ciuman itu bukan hanya menempelkan bibir dengan bibir, atau kau.. kau… lidah… dengan apalah! mollayo! Yang jelas, ciuman tanpa rasa cinta itu nonsense!” jelasnya.
Aku terpekur. Kenapa saat dia mengatakan hal itu jantungku terasa lemah? Haah… aku harus memeriksakan jantungku. Berada dekat dengan yeoja ini memang membuat kerja jantungku menjadi tidak stabil. Bayangkan saja, aku merasa kecewa hanya karena perkataannya tadi?
Dia bangkit dan mulai membersihkan gaunnya dari debu. “aish… kenapa gaun ini begitu panjang? Aku jadi susah berjalan!” protesnya pada diri sendiri.
Aku tiba-tiba menyeletuk. Aku bahkan tidak dapat menahan mulutku. “itu karena kau pendek!”
Dia membuka mulutnya lebar tidak percaya. Dan-oh matanyapun ikut membulat. Dia terlihat sebal. Membuatku semakin bersemangat mengejeknya. “wae? Tidak suka? Pendek! Pendek! Pendek!” terusku.
“memangnya kenapa kalau aku pendek? Dasar kepala besar!” lawannya.
“ya! Apa kau bilang? Hei-kemari kau! Jangan lari!” dia segera berlari menuju lapangan sekolah dan mulai berusaha mengejekku lagi. Ini aneh. Aku adalah namja yang notabenenya namja pendiam, dingin, dan terbilang sadis. Aku tidak segan-segan terhadap orang lain. Baik itu namja atau yeoja. Tua maupun muda. Dulu, hanya karena aku tidak suka melihat yeoja melotot kepadaku –oke. Memang hanya memandang kagum- aku menamparnya. Aku bisa melihat air matanya yang tumpah. Namun aku dengan santainya melenggang pergi. Dan kalau aku tidak salah, aku juga sudah membuat beberapa namja yang mencari masalah denganku dan mereka semua berakhir dirumah sakit. Mungkin inilah tujuan halabeoji menyuruhku bekerja setelah sekolah. Membuatku mengerti banyak orang dan tentunya berkepala dingin dalam menghadapi sesuatu.
***
Author pov-
Yongwon melangkah gontai menuju kelasnya. Sesekali dia mengelus kakinya yang lecet. Aish… begitulah akibatnya dia nekat berlari menggunakan high heels 9 cm. telapak kaki serta tumitnya lecet. Itu semua gara-gara namja sialan itu. tapi… sampai sekarang yongwon belum tahu nama namja itu.
Tiba-tiba pengeras suara bergaung disetiap penjuru sekolah. “annyeonghaseyo… bagi tuan Kim yesung, diharapkan untuk datang ke ruang kepala sekolah. Sekali lagi bagi….” Terdengar suara berbisik yang lumayan keras dari murid-murid sekitarnya.
“yesung, benarkah?” bisik salah satu yeoja disana.
“aigoo… dia berulah apa lagi?” namja disebelahnya ikut menanggapi.
“kudengar di junior high school, dia membuat gurunya patah tulang dengan bantingannya. Mengirim 12 teman sekelasnya ke rumah sakit akibat cedera sehabis berkelahi dengannya.”
Semua desas desus tentang kekejaman namja bernama yesung itu memang terkenal. Yongwon mengetahui hal itu. namun dia sama sekali belum pernah melihat langsung namja itu. sekejam itukah dia?
Rae ah berlari-lari kecil kearahnya. Disusul oleh ryeowook dibelakangnya. “yongwon-ah! Kakimu kenapa? Gwaenchana?”
“kau terluka?” ryeowook bertanya dengan nada khawatir. Yongwon menggeleng. “gwaenchana… “ tanggapnya.
“kepada tuan kim yesung…” pengumuman kembali berkoar. Yongwon hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mengajak kedua temannya menuju kelas mereka. Ia tidak melihat raut wajah ryeowook yang mengeras. ‘yesung…’ desisnya.
***
Yongwon pov-
“hya! Pelan-pelan! Kau membuat kakiku patah!” teriakku.
“kau! Jangan berlebihan yongwon! Diamlah sedikit…” ujar rae ah yang sedari tadi sibuk memegangi kakiku dan berusaha mengobatiku yang cenderung meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
“cah… selesai!” ujar rae ah memandangi hasil karyanya yang berupa band aid yang bercorak kucing lucu di kakiku yang lecet. Aku memandangnya jijik namun tetap mengatakan gomawo jika tidak ingin yeoja ini akan mulai menceramahiku tentang luka-adalah-musuh-bebuyutan-yeoja.
Ryeowook sedang turun dan membelikan kami minuman. Dan-disaat itulah aku bercerita tentang semalam padanya. Diakhir cerita dia terpekik. “ja-jadi kalian berciuman?”
Aku menggeleng cepat. “ani. Itu hanya kecelakaan.” Jelasku.
“hajiman… kau bilang tadi dikoridor dekat ruang kepala sekolah kan?” aku mengangguk. “apakah… kemarin bulan purnama?” dia kembali bertanya.
Aku menerawang. Seingatku semalam…”ne. bulan purnama. Karena aku bisa melihat lingkungan sekolah dengan jelas meskipun lampunya hanya beberapa saja yang menyala. Itu membantuku kabur dari namja itu…” ucapku terkekeh.
“berarti…” dia menggantung kalimatnya. Aku takut melihat reaksinya. Jangan bilang perkiraanku benar. Ini pasti tentang mitos-mitos itu. “yongwon-ah… aku pernah mendengar jika sepasang kekasih berciuman dikoridor dekat ruang kepala sekolah dengan disinari sang luna (bulan purnama) itu berarti…”
“mwo?” tanyaku penasaran. Dia melanjutkan, “kau… dan dia akan abadi selamanya!” nah benarkan? Dia membicarakan mitos.
“maksudmu? Kami akan immortal alias tidak akan mati? Abadi seperti vampire atau semacamnya?” tanyaku polos. Dia mencubit lenganku gemas.
“aniyo… itu artinya cinta kalian itu abadi! Babo!”
Aku hanya tertawa. “tapi itu kan hanya berlaku pada pasangan kekasih, namja itu… aku bahkan tidak mengetahui nama namja itu.”
“yaah… mungkin saja. tapi… eonniku menikah dengan namja yang menciumnya disana.”
Aku memandang rae ah terbelalak. Belum sempat bertanya lebih lanjut, ryeowook datang dan pembahasan tentang mitos ini di pending dulu.
***
Yesung pov-
Ah… mataku sakit. Semalaman aku tidak bisa tidur. Ini gara-gara yeoja itu. bukan karena aku memikirkannya atau apa, camkan itu. tapi ya… pokoknya ini semua ulah yeoja babo itu!
Aku berangkat sekolah jam 8 dan itu sudah pasti terlambat. Aku lewat jalan belakang seperti biasa dan mendengar pengumuman bergaung memanggil namaku. Sudah dapat dipastikan itu suara si kurus kang.
Aku berjalan sangat gontai menuju kantor kepala sekolah. Pekerjaan lagi… pikirku. Dijalan, aku bertemu dengan ryeowook. Namja itu, kenapa dia selalu muncul disaat aku sedang banyak masalah? Sebaiknya kau pergi atau aku akan menghajarmu.
Seakan dapat membaca pikiranku, dia berbelok kearah tangga yang menuju keatap. Kuharap dia tak bersama yeoja yang waktu itu. yeoja itu, baru kusadari. Siapa namanya?
“ah… tuan kim, mari masuk…” suara nyaring itu membuyarkan lamunanku. Aku segera megikuti langkah tuan kang masuk kedalam ruangan kepala sekolah.
***
Author pov-
“eottokhe? Masa aku akan menikah dengan namja itu? shireo!” tolak yongwon.
“yongwon-ah… tolong hargai appa,” bujuk appanya.
“shireo! Shireo! Shireo!” teriaknya.
“yongwon-ah… yongwon-ah….”
“ya! Choi yongwon! Ireona, palli!” dia merasakan tubuhnya diguncang-guncang dan ekor matanya menangkap wajah tegang ryeowook. Ia mengangkat kepalanya dari meja dan seketika saja… BRUK! Sebuah penghapus papan sukses menyapu kepalanya. Berhasil membuatnya mengaduh kesakitan.
“ah… appo… ya!” dia mulai meringis dan melihat sekitar. Mencari wajah-wajah bersalah diantara temannya. Dan akhirnya dia menatap satu titik. Jung seonsaengnim menatap tajam kearahnya. Yongwon menelan ludah. Oh tidak… jung seonsaengnim tidak akan memaafkannya kali ini. ini sudah untuk yang kelima kalinya dalam 2 minggu berturut-turut dia tertidur dikelas. Entah apa hukuman apalagi yang akan diberikan padanya.
“nah… nona Choi. Bagaimana kalau kau sesekali mengunjungi ruang kepala sekolah? Membantunya sesuatu?” jung seonsaengnim menyeringai kejam.
Ryeowook langsung mengangkat tangan. “seonsaengnim. Bukankah tidak baik kita mengganggu kepala sekolah untuk hal-hal sepele semacam ini? aku merasa, kepala sekolah sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya. Berilah dia hukuman yang tidak menyusahkan orang lain.”
Jung seonsaengnim tampak mempertimbangkannya. Akhirnya dia mengangguk. “baiklah… choi yongwon-ssi, bagaimana kalau kebun belakang sekolah yang rindang itu? sepertinya tukang kebun kita kewalahan mengerjakannya.” Seringainya bertambah mengerikan.
‘rindang? Hah?! Semua orang disekolah ini tahu kalau kebun belakang sekolah itu sudah seperti hutan belantara. Dan dia masih menyebutnya rindang? Michiyeoso?’ batin yongwon dalam hati. Namun ia tak berani menolak.
“ah… geuraeyo,… mari kita lanjutkan pelajarannya.” Yongwon kembali terkantuk-kantuk. Kelas sejarah memang mengasyikkan untuk diisi dengan tertidur.
***
Pulang sekolah, yongwon harus membersihkan kebun belakang sendiri. Rae ah pulang dengan namjachingunya. Sedangkan ryeowook, dia harus membantu eommanya memasak. Namja itu… aish! Joha! Yongwon akan mengerjakan semua ini dengan lapang dada. Hukuman memang hukuman. Haaah… ‘yongwon-ah fighting!’ pekiknya semangat.
Baru saja akan memulai aksinya, ia melihat seseorang sedang duduk diam di sudut semak-semak. Seorang namja. Pikiran buruk mulai menghantuinya. Ia berjinjit menuju namja itu dan… BRUK. BRUK. BRUK! “Apa yang kau lakukan disekolahku pencuri! Tolong… ada pencuri..!” teriak yongwon. Namun seketika badannya ditarik dan mulutnya dibekap.
“yeoja babo! Berhenti berteriak! Telingaku sakit!” yongwon terhenyak. Itu kan suara…
“wae? Kaget melihatku?” namja itu tersenyum mengejek.
BLUSH! Seketika wajah yongwon memanas. Ngomong-ngomong, jarak diantara dia dan namja itu sangat dekat, sekitar… (author lari bawa penggaris) 5-6 cm. seketika degup jantungnya mulai cepat. Namja itu melepaskan tubuh yongwon. Seketika yongwon mengaduh, “aduh, aduh jantungku! Aduh!”
Namja itu terlihat panic. “wae? Kenapa jantungmu?”
Yongwon menggeleng. “a-aniyo… gwaenchana. Kau… sedang apa disini?” yongwon mengalihkan pembicaraan.
“memangnya kenapa? Inikan sekolahku! Kau belum menjawabku, kenapa jantungmu?” rupanya namja ini tidak mudah dibodohi.
“aish! Bukan urusanmu! Minggir! Aku akan bersih-bersih!” yongwon berlalu dari namja itu dan segera memulai memotongi rumput liar yang tumbuh subur. Namja itu menonton dengan sangat seksama. Sesekali dia memerintahkan yongwon untuk memotong rumput dari arah barat, lalu dari arah utara.
“ya! Ini! ini masih belum rata! Kau memotongnya asal-asalan!” katanya untuk kesepuluh kalinya.
“ne, ne… kau cerewet! Kalau kau tidak tahan, bantu aku dan semua akan beres!” keluh yongwon.
“membantumu? Untuk apa? Kau yang mendapatkan hukuman kan?”
“hei-dari mana kau tahu aku dihukum? Aku tidak pernah merasa bicara itu padamu.”
Namja itu –yeung terlihat gelagapan. “ka-kalau bukan karena dihukum, mana mungkin kau mau merapikan kebun ini?” argumennya. Yongwon mengangguk mengiyakan.
“pelajaran jung seonsaengnin membosankan. Makanya aku mengantuk.”
Yesung menggelengkan kepalanya. “jangan suka mengeluh. Kau belum merasakan bagaimana sulitnya jung seonsaengnim mengajar murid bandel sepertimu. Bayangkan jika semua muridnya seperti dirimu. Apa kau tak pernah memikirkan perasaannya? Bukankah kau sama-sama yeoja?”
Perkataan yesung membuat yongwon tertohok. Ia tidak pernah berpikir sampai kearah sana. “kau… harus senang menjadi seorang murid. Karena kau tinggal diam dan mendengarkan. Seonsaengnim sudah meluangkan waktu dan tenaganya untuk muridnya. Namun bila muridnya saja tidak mendengarkan, itu sama saja dia berbicara dengan mayat hidup. Bukankah tujuan kita belajar disini agar kita dapat memiliki karakter kuat dan menjadi lebih baik?” terang yesung panjang lebar.
Yongwon terdiam. Lalu tersenyum. “gomawo atas nasihatmu. Selama ini aku tidak pernah berpikir seperti itu. aku-“
Yesung menyelanya. “memangnya kau bisa berpikir? Bukankah kau tidak punya otak? Babo!”
“ya! Baru saja aku menilaimu sebagai namja bijaksana. Namun mendengar ucapanmu tadi, aku jadi berubah pikiran! Dasar namja aneh! Nappeun namja!” bentak yongwon.
Yesung hanya terkekeh. “mian…” ucapnya singkat. “sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau kau ku traktir es krim? Eotthe?” tawarnya.
Mata yongwon membulat mendengar kata es krim. “ne? joha! Kajja! Kajja!” seraya menarik lengan yesung yang belum 20 detik yang lalu dia panggil jahat.
“yaaa! Kau tidak lihat? Pekerjaanmu saja belum beres, bereskan dulu!” perintah yesung.
“ne, ne, ne sajangnim….” Cibir yongwon.
Yesung tergelak. “hahaha. Bagus, bagus. Kau lihat? Rumput di dekat pohon itu belum tersentuh sama sekali. Potong juga ne?” perintahnya.
Yongwon mendelik. “neeeeeee!” ucapnya ogah-ogahan yang membuat yesung kembali tergelak. Menggoda yeoja babo ini ternyata sangat menyenangkan. Sudah ditetapkan menggoda yeoja ini akan menjadi hobi tetapnya mulai saat ini. bersiaplah yeoja babo…
***
“aigoo… himdeureo jukgetda! (ya ampun.. capek sekali sampai ingin mati)” keluh yongwon memijit-mijit bahunya pegal.
Yesung yang membawa 2 mangkuk es krim melihatnya sambil tersenyum. Lalu merebahkan diri disamping yeoja itu. “kau berlebihan babo…” nilainya.
“apanya? Apa kau tidak melihat seberapa luasnya kebun ini? tapi lihatlah… bagaimana kalau tanganku yang indah ini tidak merawatnya. Aigoo…” busung yongwon sambil menyendokkan es krim ke mulutnya.
“yeoja babo. Masih saja bangga. Padahal kau kan sedang dihukum,” celoteh yesung.
Yongwon mengeluarkan lidahnya. “Biar saja!” dia kembali menyendokkan es krim itu ke mulutnya. Setelah es krimnya habis, dia beranjak dari tempat duduknya. “aigoo… aku ke toilet dulu ya. Neo! jaga tasku!” perintahnya sambil berlalu pergi.
Yesung menatap kepergian yongwon dengan senyum. “Yeoja babo… siapa namanya? Ah… pasti dia membawa kartu siswanya di dalam tas. Sebaiknya aku segera mencarinya sebelum yeoja babo itu kembali.”
Yesung mulai mengaduk-aduk tas yongwon dan menemukan sebuah dompet hitam kulit. Dengan hati-hati dia membuka dompet itu. ekor matanya menangkap foto yeoja babo itu bersama dengan seorang namja. Mereka berdua berpelukan. Dan tersenyum. Dan-oh tidak mereka tertawa. Yesung yang sebal melihat foto itu langsung membuyarkan tujuannya melihat nama yeoja babo itu. “apanya yang belum berpengalaman? Melihat foto semesra itu… yeoja murahan.”
Yesung lalu berlalu pergi. Hatinya kesal. Di ujung koridor yongwon melihat yesung yang mulai menjauh. “ya! Neo! eodiga? Ya! Nappeun namja!” suara yeoja babo itu menggema. Yesung tahu namja yang disebut yeoja itu adalah dirinya. Namun, ia sama sekali tidak berminat untuk menoleh kearah yeoja itu. tidak. Tidak sekarang setelah ia melihat foto mesra yeoja itu bersama seorang namja. Tapi kenapa dia begitu kesal? Memangnya kenapa yeoja itu berhubungan dengan namja lain? Bukankah dia juga yeoja normal? Aish…. Sepertinya ia harus beristirahat. Akal sehatnya sudah mulai teracuni oleh yeoja itu. sadarlah yesung…
***
Yongwon pov-
Dasar namja jahat! Bukankah sudah kukatakan untuk menjaga tasku selagi aku pergi ke toilet? Sekarang dia malah dengan santainya melangkahkan kaki pergi menjauh. Bahkan dia tidak menoleh sedikitpun saat kupanggil. Apa maksudnya? Aish… tadi dia begitu baik (meskipun memang tetap menjengkelkan). Paling tidak dia membelikanku es krim coklat kesukaanku. Tapi sekarang… Benar-benar nappeun namja!
Sudahlah! Aku pulang saja. Dongwon oppa juga sudah menungguku didepan sejak 10 menit yang lalu. Dia akan mengomel-ngomel karena aku terlambat keluar. Aish… segera kulangkahkan kakiku dikoridor sekolah menuju gerbang.
“oppa!” sahutku saat melihat dongwon oppa sudah bersandar disamping mobilnya. Menatap jam tangannya dengan tidak sabar. Dia mengangkat kepalanya saat mendengar suaraku. Dia menatapku garang.
“ya! Kenapa lama sekali? Aku hampir kering kerontang menunggumu keluar.” Ucapnya berlebihan. Aish… oppaku ini. lalu pandangannya menyipit. “kau… dihukum lagi ya?”
“ani.” Aku segera menggeleng. “kajja kita pergi! Aku ingin makan seafood… kajjaaaa…” ajakku seraya bergelayut manja dilengannya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. “kau mau membuatku bangkrut? Mentraktirmu makan seafood setiap bulan. Kita makan ddeokbokki (kue beras pedas) dipinggir jalan saja! Kau kan penyuka pedas..”
“oppaaaa… aku tidak akan kenyang… lagipula itu tidak begitu pedas.. aish! Nappeun oppa!” tukasku sambil membuka pintu mobil dan segera masuk.
Oppa hanya terkekeh dan menyusulku masuk. Aish… dia tidak mengatakan apapun. Menstater mobilnya lalu beranjak pergi. Tanpa kusadari, ada sepasang mata yang melihat kami tajam.
***
Akhirnya kami benar-benar makan di warung pinggir jalan. Aku memang tidak mempermasalahkan tempat makan kami. Tapi karena porsi makanku yang begitu besar, ddeokbokki tidak akan membuat perutku kenyang. Meskipun itu ditambah dengan beberapa tusuk sate ikan. Aish… oppa laknat. Beraninya membuat saengnya menderita. Eommayaaaa!
“oppa, kajja kita pulang! Aku ingin makan nasi!” ajakku. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “dasar sajjida yeoja (yeoja gemuk)!”
“A-K-U T-I-D-A-K G-E-M-U-K!” seruku penuh penekanan. Seenaknya saja mengatakan aku gemuk. Dia terkekeh. “kau memang tidak gemuk, tapi perutmu itu…” dia menggeleng sejenak. “buncit…” lanjutnya dengan berdesis yang membuatku kesal setengah mati. Aku masuk ke dalam mobil dan langsung memakai seatbelt. Mulai sekarang, aku akan mogok bicara padanya. Kau dengar oppa? Aku tidak akan bicara padamu. Titik! Eommayaaa… nappeun dongwon oppa!
***
Author pov-
Keesokan harinya saat disekolah…
Yongwon tidak mau diantarkan oleh dongwon. Rupanya dia masih kesal. Tapi kemarin gerakan-untuk-tidak-berbicara-dengan-dongwon yang dicanangkan yongwon gagal total. Hatinya langsung luluh melihat oppanya membelikannya kepiting saus pedas favoritnya. Namun setelah kepiting itu habis dalam jangka waktu yang-sangat cepat untuk ukuran yeoja dan ukuran kepiting yang tidak bisa dibilang kecil itu- yongwon kembali mendiamkan dongwon.
Setibanya di samping gerbang, seseorang memanggil namanya. Ryeowook. Namja itu segera mensejajarkan langkahnya dengan yeoja itu.
“yongwon-ah… apa perutmu tidak lapar? Aku sangat lapaaaar… belum sempat sarapan.” Seru ryeowook.
Yongwon menggerlingnya heran. “bukankah kau setiap pagi memasak? Bagaimana bisa kau belum sarapan?”
“oneul, aku bawa bekal untuk kita bertiga. Itulah mengapa aku tidak makan dirumah…” ryeowook menjelaskan.
“jinjja? Wuah… nae chingu kim ryeowook memang daebak!” seru yongwon gembira. “ah, apakah itu pedas?”
Ryeowook hanya mengangguk. “khusus bekalmu. Aku menambahkan bubuk cabai.” Yongwon tertawa senang. Hampir saja ia memeluk ryeowook kalau ia tidak ingat mereka sedang disekolah dan-ryeowook adalah seorang namja. Oke. Mungkin terdengar sedikit sadis. Namun ryeowook adalah namja yang cukup feminim.
Keduanya lalu berjalan menuju kelas dengan disertai tatapan sedih? Ani marah seseorang.
***
Yesung pov-
Hari ini aku tidak dapat berkonsentrasi karena kemarin malam aku tidak dapat tidur nyenyak. Badanku sakit. Neomu anjoayo. Tapi karena tuntutan halabeoji, aku harus tetap kesekolah.
Setibanya disekolah, aku melihat pemandangan yang memuakkan. Yeoja babo itu sedang tertawa-tawa dengan wookie. Tunggu dulu. Wookie? Sudah lama aku tak memanggilnya begitu. Tepatnya sejak… aish! Aku kembali teringat kejadian itu. apa itu bekal makanan? Ck! Yeoja itu begitu banyak makan. Kau tidak tahu wajahmu sudah seperti dweji (babi)? Aish…
Aku segera melangkah ke kelasku. Aku sunbae disini. Kalian dengar? Sunbae. Aku sudah kelas 3 dan sebentar lagi aku akan lulus dan-aku akan kabur ke kanada secepatnya.
Pelajarannya sangat membosankan. Semua itu sudah pernah kupelajari saat mengikuti kursus bersamanya. Yesung-ah! Jangan mengingat masa lalu lagi. Dia sudah bukan siapa-siapa untukmu. Sekarang hanya halabeoji yang kau punyai didunia ini. hanya halabeoji. Hanya halabeoji.
Sepulang sekolah, aku melangkahkan kakiku menuju kantor kepala sekolah. Disana si kurus kang pasti sudah menantiku. Aku tidak mau setiap hari dia menjemputku didepan kelas saat pelajaran berakhir. Saat melewati kebun belakang, aku teringat yeoja itu. kemarin… aku baru saja berceloteh riang dengannya. Memakan es krim coklat dengannya. Dan hampir saja aku mengetahui namanya jika saja aku tak melihat foto yang membuatku muak. Aku meneruskan langkahku namun aku terhenti. Aku melihat yeoja itu sedang menguburkan sesuatu di bawah pohon besar. Apa yang dia lakukan? Seenaknya saja. Jangan-jangan itu adalah kertas hasil ujian yang nilainya merah? Dan karena ingin melenyapkan bukti, dia menanamnya disini. Benarkah?
Aku mendekatinya diam-diam. Lalu menengok kearah lubang yang sudah berisikan peti kecil. Mencurigakan. Apa isinya? Aku bersembunyi disudut agar dia tak melihatku. Benar-benar mencurigakan apalagi saat sudah selesai menguburkan peti itu, dia melihat kesekitar dengan cemas. Takut jika ada orang yang melihat apa yang dia lakukan. Lalu saat merasa aman, dia melangkah pergi dari kebun itu tanpa menoleh kebelakang lagi.
Aku penasaran. Bukannya aku ingin mencari tahu tentang yeoja itu. aku hanya penasaran mengapa dia menguburkan peti di bawah pohon itu. sampai disitu saja. Tidak lebih. Setelah melihat sekeliling, aku menggali gundukan tanah itu dengan tangan. Beberapa detik kemudian aku merasakan tanganku menyentuh benda keras. Segera aku menarik benda yang berupa peti itu. setelah membersihkannya sedikit, aku menggerakkan tanganku untuk membuka peti. Tiba-tiba…
“oh. Rupanya kau ada disini.” Suara seseorang mengejutkanku.
***
Author pov-
Suara seseorang mengejutkan yesung yang sedang berusaha membuka peti. Yesung berbalik dan menyembunyikan peti kecil itu dipunggungnya.
“tuan muda, sudah waktunya. Cepatlah… yang lain sudah menunggu…” ajak kang seonsaengnim pada yesung.
“tuan kang, sebaiknya aku ke toilet dulu. Nanti aku akan menyusul.” Kata yesung. Kang hanya mengangguk patuh dan berjalan pergi. Yesung menghela napas lega. Sebaiknya dia menyimpan peti kecil itu dulu. Ia akan membukanya dirumah saja. Setelah itu dia mencuci tangannya sebentar dan menuju ruang kepala sekolah. Disana sudah banyak orang yang berkumpul. TOK… TOK… TOK… dia mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
“Ah… kau sudah datang rupanya.” Dia disambut oleh suara berat beberapa namja paruh baya.
***
Yongwon pov-
Tadi sepulang sekolah aku menguburkan peti kecil dibawah pohon dikebun belakang. Aku tidak tahu apakah ini berhasil atau tidak. Tapi paling tidak aku mencobanya dahulu. Siapa tahu manjur?
FLASHBACK
Setelah selesai memakan semua bekal tanpa tersisa sedikitpun, aku mengajak rae ah ke toilet. Tiba-tiba aku melihat yeoja sedang mencoret-coret loker sekolah tanpa tuan yang setahuku tidak dapat dibuka. Aish… apa yang mereka lakukan?
“mereka sedang mengikuti mitos.” Terang rae ah saat melihat wajahku yang kebingungan. “mitos? Mitos apa lagi?”
“jika kita mengukir nama kita dan nama pasangan kita diloker itu, cinta kita akan abadi seiring dengan tulisan diloker itu yang susah dilenyapkan. Ya… kalau tulisan yang kita buat hanya bertahan beberapa hari, itu berarti cinta kita akan kandas sebentar lagi. Begitu pula sebaliknya.”
“kalau begitu kau hanya harus memakai spidol permanen untuk menulisnya…” cibirku. Dia menggeleng. “kita hanya dapat menggunakan tinta spidol biasa. Entah mitos itu benar atau tidak. Namun aku pernah mendengar jika ada yeoja yang baru saja menuliskan namanya dan keesokan harinya namanya sudah memudar!” serunya.
“lalu hubungannya kandas, begitu?” rae ah mengangguk. “itu hanya sugesti saja. Kenapa dengan pudarnya tulisan ini akan berpengaruh pada sebuah hubungan? Ada-ada saja.”
“tapi ada yang lebih konyol lagi. Konon katanya, jika kita menanam peti kecil berisikan surat tentang isi hati kita dibawah pohon besar yang ada dikebun belakang sekolah, kita akan mendapatkan balasan dari namja yang menjadi jodoh kita.”
“bagaimana namja itu tahu kalau kita menguburkan surat? Konyol.” Sahutku,
“memang,” rae ah membenarkan. “karena itulah mitos itu sudah sangat jarang dipergunakan. Lagipula, mana ada yeoja yang mau membuat tangannya kotor dengan menyentuh tanah? Keadaan kebun yang sangat rimbunpun membuat yeoja berpikir 2 kali untuk kesana.”
“heh, apa kau lupa aku sudah menjadi tukang kebun sukarela disana? Aku yeoja lho…” aku mengingatkan.
“ya! Kau yeoja jadi-jadian!” dia tergelak dan langsung berlari menjauhiku.
FLASHBACK END
***
Akhirnya aku mengerjakan mitos konyol itu. aku sempat berpikir akan menuliskan namaku diloker itu juga, namun nyatanya aku belum mempunyai pasangan dan… akan sangat beresiko jika seseorang melihat ada namaku disana. Jadi kuputuskan akan melakukan mitos menanam peti dibawah pohon saja. Itu kedengarannya tidak terlalu membuatku malu dan- tidak ada orang yang akan melihatku. Keke~ aku memang jenius.
Ah…. Tak sabar menunggu besok. Apakah ada namja yang akan membalas suratku? Kuharap iya. Lalu aku tertidur pulas menunggu hari esok.
***
Yesung pov-
Ahh… lelahnya. Aku baru saja pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Aku hanya ingin tidur dan mandi sekarang. Aku ingin membaringkan badanku.
Setelah selesai mandi, aku langsung tertidur pulas. Lupa akan peti kecil yang tadi ku ambil.
***
Keesokan harinya aku mulai aktifitasku seperti biasa. Berangkat kesekolah dan menuju kelasku. Namun sesuatu yang berat didalam tasku menghentikan langkahku. Aku ingat, bukankah peti kecil kemarin itu ia masukkan ke dalam tas ransel? Segera kulangkahkan kakiku menuju kebun belakang. Waktu-waktu seperti ini semua siswa pasti sibuk mengikuti pelajaran. Jadi aku bisa leluasa membuka peti ini tanpa ketahuan.
Setelah sampai, aku menemukan sepucuk surat. Karena penasaran, aku membuka dan membacanya. Dan-aku terkejut bukan main. Yeoja itu…. apa dia benar-benar babo?
Aku kembali terkejut saat suara si tua kurus kang memanggilku. Dia menyeretku masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Ada apa lagi ini…
Setelah sampai dan duduk, dia mulai berbicara. “begini tuan kim. Bagaimana kalau kita membuat perayaan ulang tahun sekolah dengan mengadakan pentas seni. Seperti mini konser ataupun pertunjukan musical? Bagaimana menurut anda?”
Aku hanya mengangguk dan mengatakan, “saya rasa itu ide yang cukup bagus seonsaengnim. Saya harap saya dapat membantu kelancaran perayaan ini.”
Kang seonsaengnim mulai mengangguk-angguk. “Kalau begitu, saya akan mengundang seorang siswi untuk mensukseskan acara ini. saya akan memperkenalkannya pada anda, dan mungkin kita bisa bekerja sama. Mungkin sebentar lagi dia akan dat-“
TOK, TOK, TOK. Terdengar suara pintu terketuk. Lalu masuklah seorang yeoja yang membuat mataku sukses terbuka lebar. Dia kan….
Kang seonsaengnim tersenyum menyambutnya. “nah,.. nona Choi, ini adalah tuan Kim yang saya ceritakan waktu itu,…”
Yeoja itu terbelalak. “jadi kau….”
-TBC-
Hehe. Kira-kira lanjutannya gimana? Apa kelanjutan kalimat jadi kau itu? apa isi surat yang dibaca yesung?
Gimana readers? Anehkah? Serukah? Atau… gaje? Mohon kritik dan sarannya ya… mungki di part berikut akan tambah gaje dengan mitos aneh karya author. Ini FF dibuat saat author sedang galau segalau-galaunya dengan SS4INA dan UTS, huweeee… ya udah, yesung oppa dah manggilin author buat makan tuh!
Poppo reader satu-satu
#reader muntah berjamaah
*bow* pai… pai…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s